Sabtu, September 17, 2011

Gandrung

Lan Fang
Jawa Pos, 26 Sep 2010

APAKAH kau pernah melihat bulan bulat dengan kilap mentega? Itu hanya terjadi setahun sekali. Ketika itu pekat akan menyingkir dari semesta galaksi. Langit bersih seperti baru dicuci oleh hujan. Gelembung-gelembung harum alam merintik dari segenap pori-pori awan.
Konon, dahulu, pada saat bulan bulat sekilap mentega, orang-orang Cina berkumpul di halaman rumah mencecap kue manis berisi biji lotus, kacang hijau, dan gula merah yang manis. Mereka bercengkerama memandang bulan purnama ditemani teh sepat sampai lewat malam.

Hikayatnya, pada suatu waktu, ada seorang putri terkurung di bulan. Namanya Chang Erl. Kekasihnya, Hou Yi, si pemanah ulung yang berhasil memadamkan sembilan matahari dengan anak-anak panahnya. Mereka hanya bisa bertemu sekali dalam setahun, bertemu pada saat bulan paling sempurna untuk rindu yang tidak pernah purna, tidak pernah punah. Orang-orang Cina menyebut saat itu sebagai zhong qiu ye wan. Konon, pada saat itu Chang Erl akan menjatuhkan kembang bulan untuk sepasang sejoli.

“Bulan purnama di pertengahan musim gugur? Kita tidak mengenal musim gugur. Saat ini kita berada pada mangsa labuh, sebuah musim yang terjepit di antara hujan dan kemarau,” gumammu tumpang tindih antara gemerisik dan bisik. Aku tidak bisa membedakannya. Sama saja.

Sebenarnya aku ingin menyanggah kata-katamu. Siapa bilang musim gugur tidak menyapa kita? Tadi aku berjumpa dengannya di sebuah jalan protokol dengan jalur kendaraan dua arah yang selalu sibuk. Pada bagian tengah jalan, lekuk-lekuk pohon meliuk. Mereka menjadi peneduh dari kegarangan sebiji matahari. Pada akar-akar mereka debu-debu mengabu.

Di sana daun-daun gugur. Dari ujung-ujung ranting, mereka melayang dengan pasrah. Mereka berputar-putar sebentar bagai dipermainkan angin lalu terkapar dengan lembut. Seakan-akan mereka tidak berniat untuk melawan. Atau mereka sadar bahwa melawan pun akan percuma?

Ketika itu, lidahku ingin menyeru, “Lihatlah! Angin saja tak tega menghempaskan daun. Kenapa kau begitu kepadaku?”

Tetapi aku terbungkam ketika mereka menyerbu bumi. Beruntun mereka menamparku dengan lembut, tamparan yang tidak mau kuhindari. Kemudian mereka bergerombol, saling menyelip, saling menyelinap, saling menumpuk, saling memenuhi kepalaku. Aku jadi putri dengan mahkota daun, mahkota ringkih yang dipersembahkan sang pedih.

Tetapi, lihatlah…. Aku secantik Chang Erl, bukan?

Tiba-tiba ada laki-laki sekaya saudagar yang menggerutu, “Kau selalu tidak pernah tampil cantik.”

Laki-laki lain yang matanya sekeruh danau berpasir mencibiriku, “Hanya dengan daun, embun, hujan, kau sudah merasa cantik? Hah!” Masih ada laki-laki yang mulutnya dengan murah menyerapahiku, “Kau bukan cantik tapi binal!”

Kemudian saudagar laki-laki itu membawaku kepada seorang perempuan lalu berkata, “Belajarlah tentang kecantikan padanya.”

Sehari-hari, saudagar itu selalu tampak sebaik malaikat. Jadi aku yakin ia pun bermaksud baik padaku. Ia kerap berbisik padaku, berbisik seakan-akan tidak mau dan tidak boleh ada orang lain yang mendengar bisikannya. “Aku ingin mati saja.”

Aku heran, kenapa ia selalu ingin mati padahal seharusnya ia bisa menikmati hidup dengan kekayaannya? Atau karena aku fakir maka aku takut mati?

“Aku capai terbang dengan sebelah sayap,” gumamnya setengah tertawa sekaligus setengah menangis. Sejak itu aku mengerti bahwa ia bukan malaikat melainkan anak burung bersayap sebelah. Dengan letih ia mengayuh sayapnya yang sebelah, sayap kering tanpa bulu-bulu sehalus beludru. Pantas, ia selalu ingin mati.

Perempuan yang diperkenalkannya itu tampaknya juga setulus bidadari. Ia suka sekali menggeliat-geliat untuk mempertontonkan kecantikannya. Matanya selalu berkedip-kedip, lidahnya selalu dijulur-julurkan, kepalanya selalu digoyang-goyangkan, dan wajahnya rata seperti wajan penggorengan martabak.

Si saudagar laki-laki memandang perempuan itu dengan penuh kekaguman. “Lihatlah, betapa cantiknya dia tanpa hidung.” Ia bergairah bagaikan kerbau dicocok hidung. Pasti ia telah membatalkan keinginannya untuk mati.

Lalu perempuan tanpa hidung itu mengajariku cara mempercantik diri. Setiap malam, dengan mahir ia mencopoti hidung-hidung perempuan lain yang sedang bermimpi untuk ditempelkan di mulut, telinga, mata, dan hidungnya sendiri. Ia selalu tampil mempesona dengan wajah yang berhiaskan banyak hidung sampai subuh karena sebelum terang ia sudah harus mengembalikan hidung-hidung yang diambilnya tanpa izin itu.

Sekarang aku tahu kenapa aku selalu bermimpi buruk tentang perempuan tanpa hidung itu. Sebab aku tidak mau memberikan hidungku untuknya sekaligus aku tidak mau mempercantik diri dengan hidung-hidung imitasi.

Kemudian tentang laki-laki bermata pasir. Ia tidak pernah membawaku kepada perempuan lain. Ia kerap mengajakku duduk-duduk saja. Percakapan kami cenderung pembicaraan basi, seperti “kau suka apa?” tetapi ia tidak pernah memberikan apa yang kusukai. Bahkan ia suka melakukan apa yang tidak kusukai. Salah satunya adalah ia suka memegang stopwatch yang berbunyi untuk setiap detik yang telah terlampaui. Ia mirip sekali dengan pelatih atletik yang memacu anak latihnya berlari lebih cepat dari angka stopwatch.

Kesukaan lain yang disukainya adalah cerita tentang perempuan setengah baya yang menempel seperti lintah sehingga ia tidak pernah punya waktu untukku. Ia bercerita tanpa pernah bermaksud memperkenalkan diriku dengan perempuan yang kerap diceritakannya itu. Logikaku mengatakan bahwa ia pun betah menempel pada lintah betina tua itu dengan riang gembira. Karena setiap kali, tepat bersamaan dengan akhir ceritanya, setiap stopwatch berbunyi “tit…tit…tit…”, kulihat matanya mengeruh tetapi aku tidak menemukan pandangan bersalah di sana. Saat kami bertaut pandang ia tersenyum setulus bulus yang sedang berusaha menyenangkan hatiku.

Aku berkata, “Perjumpaan kita seperti pertandingan lari jarak pendek.”

Tetapi tampaknya ia tidak berniat memperpanjang waktu dengan memutar kembali stopwatch. “Maaf, sekarang sudah waktunya aku melayani lintah betina tua itu.” Ia suka sekali mengucapkan kata-kata itu.

Walaupun demikian, aku yakin bahwa ia juga suka padaku sebab laki-laki hanya mau minta maaf kepada perempuan yang disukainya. Jadi, seketika itu, dengan perasaan suka cita, aku menjawab, “Maaf, aku tidak suka dengan maafmu itu.”

Lain lagi dengan laki-laki yang mulutnya begitu murah serapah. Aku tahu betul dari mana ia berbelanja kata-kata sampah. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin tidak pernah membinali laki-laki. Oh, kuralat. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin belum pernah membinali laki-laki. Oh, kuralat lagi. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin sudah pernah diam-diam membinali laki-laki. Oh, kuralat untuk kesekian kalinya. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin tidak suka membinali laki-laki, mungkin perempuan terhormat itu suka membinali yang lainnya.

Jadi, terus terang kukatakan padanya bahwa aku perempuan yang mungkin tidak terhormat tetapi mungkin cantik dan mungkin suka membinali laki-laki. Tentu saja laki-laki yang sesuai seleraku. Seketika itu juga ia menjual semua koleksi kata-katanya: “Pelacur, sundal, lonte recehan!” Percuma. Aku sama sekali tidak berminat membeli kata-kata itu, apalagi membinali dirinya.

Nah, kau tidak seperti mereka. Kita bertemu pada suatu beranda tanpa lampion. Aku tidak yakin saat itu dalam keadaan gelap karena sumbu lilin cukup terang untuk melihatmu dalam keadaan memejam. Tampak wajahmu begitu tenang dan bersih sehingga aku langsung tergila-gila.

Aku ingat sebuah dongeng tentang Putri Tidur yang tertenung sampai seorang pangeran baik hati membangunkannya dengan ciuman. Aku yakin kau juga sedang dalam kuasa tenung sehingga aku ingin membebaskanmu dengan ciumanku.

Atau kau adalah drakula, Pangeran Kegelapan yang akan bangun pada saat gelap tiba? Bila demikian, aku sudah mempersiapkan sesuatu untukmu, akan kurelakan hidupku tidak untuk hidup dan matiku tidak untuk mati. Aku ingin kau segera membuka mata; melihatku dan mendengarkanku, “Inilah leher kekasihmu, Taring Runcing….” Aku menunduk untuk menyentuhkan bibirku pada bibirmu.

Tes!

Lilin yang kupegang lebih dahulu menjatuhkan minyaknya di bibirmu. Aku khawatir bibirmu terkelupas atau melepuh. Ternyata tidak. Bibirmu tetap seindah pualam. Minyak lilin mengental di sudut bibirmu. Pasti bibirmu dingin sekali. Aku kian ingin menghangatinya. Untuk kedua kalinya aku menunduk untuk menyentuhkan bibirku pada bibirmu.

Blep!

Lilinku padam karena desis angin membuatnya tak berdaya. Tetapi keadaan tetap tidak gelap. Ada remah-remah cahaya yang jatuh sehingga aku bisa melihat dengan jelas bibirmu terkuak dengan indah. Lalu dengan ikhlas kusongsong kilaumu yang menancap padaku. Dingin sejenak saja kemudian kurasakan ada yang menetes, bercucuran, mengalir dengan cara yang sangat sepi. Begitu kekal.

Perlahan-lahan kelopak matamu membuka. Aku melihatmu, zahir yang menyihir. “Sssttt, ini aku, Tuan Mimpi. Bungkuslah rapat-rapat setiap pertemuan kita. Jangan sampai ada yang terselip di bulu mata, nanti orang lain menafsirkannya. Berjanjilah, hanya kita yang tahu rindu begitu syahdu.” Aku hanya mampu setia untuk setiap katamu.

Abad pun berganti abad, kunjunganmu kian paripurna. Mimpi bisa terjadi kapan saja. Tetapi aku yakin tidak sedang bermimpi setiap bertemu denganmu. Sebab aku menyimpan dirimu dalam ingatan paling mesra. Segenap ingatan yang bisa kubangunkan setiap saat aku mau.

Kemudian sampailah kita pada mangsa labuh, yang ujarmu kemarau tidak, hujan pun tidak. Pagi-pagi jadi terlukai dan malam-malam jadi terkulai. Nganga dada membuat hari-hari kian berbatu. Kemesraanmu rontok seperti dedaunan yang bergelimpangan sehingga kerinduanku bagai gelandangan tak bertuan. Musim ini ngungun sekali.

“Apakah kau lupa padaku? Ke mana kau tersesat? Mangsa labuh ini hanya sebuah musim yang menjebak!”

“Aku sudah total berubah, tidak dan bukan yang dulu,” jawabanmu persis politisi bertelinga tebal yang tengah meliukkan lidah pada konstituennya.

Bila kau bukan Tuan Mimpi lagi lalu jadi apakah kau sekarang? Apakah jadi gunung, jadi laut, jadi jurang? Aku tidak percaya kau sejahat itu padaku. Kau tidak mungkin berhitam hati dan berputih mata padaku. Aku tetap meratap seperti tidak punya harga diri. Bukankah cinta tidak pernah berhitung dengan harga?

Sambil menangis sejadi-jadinya, aku mengitari jalan demi jalan, jalan yang itu-itu juga; tikungan demi tikungan, tikungan yang itu-itu juga; ceruk demi ceruk, ceruk yang itu-itu juga; tanjakan demi tanjakan, tanjakan yang itu-itu juga; masjid demi masjid, masjid yang itu-itu juga; sampai…

Sampai aku menangisi azan demi azan, azan yang itu-itu juga; harum demi harum, harum yang itu-itu juga; puisi demi puisi, puisi yang itu-itu juga; rindu demi rindu, rindu yang itu-itu juga; mimpi demi mimpi, mimpi yang itu-itu juga; sampai….

Sampai aku tersungkur.

Tidak kuhiraukan ujung-ujung pepohonan yang mendongak pongah padahal sesungguhnya mereka menderita karena terik. Mereka sudah terlalu cerdas untuk menyombongkan diri dari guncangan angin. Seperti itulah diriku yang tidak memedulikan apakah kau mencintaiku atau tidak, apakah kau merindukanku atau tidak, apakah kau mengharapkanku atau tidak. Sebab aku juga sudah terlalu cerdas untuk memanjakan lukaku karena diammu. Kau bahagia bisa membuatku begitu kan?

Aku tidak mendengar apa-apa kecuali semilir angin mengirim gema gumam dari semesta yang menato gendang telinga….

Duh, wong ganteng pepujaning ati. Mung sliramu kang tansah nglelewa. Rina klawan wengi ranane wong lagi gandrung. Among eling sira wong ganteng. Batin ora kuwawa nandang lara wuyung. Enggala paring usada mring wak mami kang lagi ngidam sari uga nandang asmara.

Hoi, sejoli mana yang akan berjodoh malam ini? Pandanganku mengabur. Aku menyesali Hou Yi yang hanya memadamkan sembilan matahari. Kenapa ia membiarkan sebiji matahari itu tetap menyala? (*)

________________
Lan Fang, penulis prosa, puisi & esai, bertempat tinggal Surabaya, novel terbarunya: Ciuman di Bawah Hujan (2010)
Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2010/09/29/gandrung/

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt