Viddy AD Daery
__kompas.com
Gajah Mada, pahlawan maha besar Nusantara itu lahir di wilayah Lamongan, Jawa Timur? Menjawab pertanyaan itu akan menimbulkan berbagai macam jawaban, kalau ditanyakan ke banyak orang, namun kalau ditanyakan kepada saya, jawaban saya adalah Iya Betul! Karena berbagai macam alasan:
Di daerah Modo dan sekitarnya, termasuk Pamotan, Ngimbang, Bluluk , Sukorame dan sekitarnya, tersebar folklor atau cerita rakyat. Dongeng dari mulut ke mulut, mengisahkan bahwa Gajah Mada adalah kelahiran wilayah Modo situ.
Daerah Modo-Ngimbang-Pamotan-Bluluk dan sekitarnya memang ibukota sejak zaman Kerajaan Kahuripan Airlangga, bahkan anak-cucunya juga mendirikan ibukota di situ, karena strategis, alamnya bergunung-gunung, bagus untuk pertahanan, dan dekat dengan Kali Lamong yang merupakan cabang utama Sungai Brantas. Sudah begitu, ada jalan raya Kahuripan-Tuban yang dibatasi Sungai Bengawan Solo di pelabuhan Bubat (kini bernama kota Babat).
Ibukota ini baru digeser oleh cicit Airlangga ke arah Kertosono-Nganjuk, dan baru di zaman Jayabaya digeser lagi ke Mamenang, Kediri. Selanjutnya oleh Ken Arok digeser masuk lagi ke Singosari. Baru oleh Raden Wijaya dikembalikan ke arah muara, yaitu ke Tarik, namun anaknya yang akan dijadikan penggantinya, yakni Tribuana Tunggadewi, diratukan di daerah Lamongan-Pamotan-Bluluk lagi, yaitu Kahuripan. Jadi Tribuana Tunggadewi sebelum jadi Ratu Majapahit adalah Bre Kahuripan alias Rani Kahuripan, Lamongan.
Ketika Gajah Mada menyelamatkan Raja Jayanegara dari amukan pemberontak Ra Kuti, dibawanya Jayanegara ke arah Lamongan, yakni Badander / bisa Badander Bojonegoro, bisa Badander Kabuh, Jombang, dua-duanya rutenya ke arah Lamongan (dalam hal ini adalah Pamotan-Modo-Bluluk dsktarnya). Itu sesuai Teori Masa Anak-anak, di mana kalau anak kecil atau remaja berkelahi di luar desanya, pasti lari menyelamatkan diri ke desanya minta dukungan, tentu karena di desanya ada banyak teman, kerabat maupun guru silatnya. Saya kira Gajah Mada juga menerapkan taktik itu.
Di wilayah Ngimbang-Bluluk sampai sekarang ada situs kuburan Ibunda Gajah Mada, yakni Nyai Andongsari.
Di dekat situ pula ada situs kuburan kontroversial, karena ada kuburan yang diyakini sebagai kuburan Gajah Mada namun dalam posisi “Islam”, karena kuburannya menghadap ke arah yang persis sebagaimana kuburan orang Islam. Kalau misalnya hal ini benar, maka wajar masa tua Gajah Mada tidak ditulis di babad-babad atau kitab kuno, atau cenderung disisihkan atau dihapus dari sejarah, karena Gajah Mada mungkin dianggap “murtad” atau “semacam itu”.
Pendapat mengenai “Gajah Mada masuk Islam di hari tua” ini tidak mengada-ada, karena seorang kyai terkenal di Jawa Timur keturunan Sunan Drajat, yaitu KH Ghofur dari Pondok Pesantren Drajat, Paciran, Lamongan menyatakan bahwa beliau pernah berdialog secara mistis dengan “ruh” Gajah Mada , dan “ruh Gajah Mada” menyatakan bahwa Gajah Mada masuk Islam di hari tuanya. Benar atau tidaknya hanya Allah yang tahu.
Memperjuangkan pendapat semacam ini tidak mudah. Saya pernah bertamu ke teman-teman saya yang menjadi pejabat tinggi kebudayaan maupun pejabat tinggi pendidikan, tidak ada yang mau membuat seminar nasional mengenai tempat lahir Gajah Mada, entah apa sebabnya, mungkin Cuma karena kemalasan khas pegawai negeri Indonesia saja.
Yang bersedia malahan beberapa budayawan Malaysia, namun sayang rencana itu tertunda-tunda menunggu saat yang baik, padahal dana sudah siap. Biarlah nanti kalau Malaysia sudah siap, biar orang-orang Indonesia bisanya cuma marah-marah karena merasa dilangkahi, sebagaimana sudah sering terjadi.
Maka, untuk perjuangan awal, paling tidak beberapa makalah saya yang saya bacakan di beberapa pertemuan budaya di Singapura, Malaysia dan Brunei sedikit banyak menyebut bahwa Gajah Mada adalah putera kelahiran Lamongan dengan bukti-bukti di atas.
Disamping itu, folklor itu saya sisip-sisipkan ke novel saya “Pendekar Sendang Drajat, Misteri Pengebom Candi Gajah Mada” yang akan terbit dua bulan yang akan datang. Sementara itu, novel saya yang sedang beredar dan cukup laris di pasaran, “Pendekar Sendang Drajat Memburu Negarakertagama” mulai saya arahkan ke arah setting daerah Babat-Modo-Ngimbang-Pamotan.
Pendapat lain
Pendapat lain sudah mengantre tentunya, karena folklor atau naskah “Usana Jawa” dari Bali, mengklaim bahwa GAJAH MADA lahir dari sebuah buah kelapa yang pecah di Bali.... hahahaha...aneh kan?
Naskah lain yang juga dari Bali, yakni “Babad Gajah Mada” mengisahkan bahwa Gajah Mada lahir di Pertapaan Lemah Tulis di Bali. Namun itu hanya tulisan babad atau kidung kuno yang ditulis di zaman pasca Majapahit , sedangkan bukti-bukti lain yang mendukung , sejauh ini belum ada.
Lalu DR. Agus Aris Munandar dari UI berteori bahwa Gajah Mada lahir di Malang, dengan alasan Gajah Mada mendirikan Candi Kertanegara di Singosari Malang. Pendapat ini tentu amat spekulatif, karena mendirikan Candi kan hal biasa yang dilakukan oleh pejabat tinggi yang berkuasa. Bahkan dia berteori bahwa wajah Gajah Mada mirip orang India, bukan seperti wajah “Orang Lamongan” seperti yang diyakini oleh Mohammad Yamin dan sampai kini dijadikan “pendapat umum”.
Teori yang lebih spekulatif dan asal-asalan malah mengatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Sumatra, dengan alasan adanya binatang Gajah dan istilah “Mada” hanya ada di Sumatra. Tentunya pendapat ini sangat menggelikan, karena meskipun Gajah asli Sumatra, tapi kan Raja-raja Jawa dapat mendatangkan/membelinya, jadi Gajah bukan hal yang aneh di Jawa. Istilah “Mada” juga ada dalam kosakata Jawa.
Ada juga yang menyatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Dompo, Sumbawa, karena di sana ada kuburan Gajah Mada. Tentunya soal kuburan bisa saja dibikin dan diperakukan.
Atau mungkin juga Gajah Mada yang lain, yang bukan di zaman Majapahit, atau tokoh lokal yang kharisma kepemimpinannya mirip tindak tanduk Gajah Mada, meski skopnya tidak Internasional seperti Gajah Mada Majapahit.
Malahan ada juga teori yang menyatakan bahwa Gajah Mada orang Dayak di Kalimantan, karena di wilayah Dayak Krio ada tokoh bernama Jaga Mada yang diutus Demung Adat Kerajaan Kutai untuk menjelajah Nusantara. Namun teori ini dari segi logika hubungan dengan Majapahit sangat lemah. Mungkin juga dia adalah tokoh lokal yang dihormati oleh masyarakatnya setara dengan penghormatan terhadap Gajah Mada Majapahit.
Dan kemudian, ada juga teori yang menyatakan, bahwa Gajah Mada itu mungkin benar lahir di wilayah Pamotan-Lamongan, namun bukan anak Raden Wijaya sebagaimana disebutkan oleh folklor di Modo, akan tetapi lahir dari ibu yang dinikahi Pasukan Mongol yang melarikan diri dari induk pasukannya.
Teori ini agak lemah, karena menurut buku John Man, Pasukan Mongol yang ternyata bukan hanya dipimpin oleh Jendral-jendral Mongol, namun juga disertai oleh Kaisar Mongol sendiri, dibantai habis oleh Pasukan Raden Wijaya dan sisanya melarikan diri ke perahu di pelabuhan Ujung Galuh dan Tuban lalu segera pergi berlayar kembali ke Cina, sudah begitu di Cina mereka dibantai lagi oleh anak petani Cina yang sudah bosan dijajah Mongol lalu memberontak atas bantuan pasukan Majapahit dan kemudian merajakan diri, memerdekakan Cina dari penjajahan Mongol ratusan tahun.
Pendapat ini, menurut budayawan Irawan Djoko Nugroho, sangat sesuai dengan yang dikandung dalam kitab kuno “Tembang Harsawijaya” dan Prasasti Kertarajasa.
Jadi,kalaupun ada sepuluh - tiga puluh orang pasukan Mongol yang mampu menyelamatkan diri lalu lari ke hutan, tentu butuh waktu berpuluh-berbelas tahun baru berani menampakkan diri keluar dari hutan, lalu berani menikahi wanita lokal. Hal itu persis seperti yang dilakukan oleh pelarian pasukan Jepang di zaman perang kemerdekaan Indonesia, dan baru berani muncul dari hutan ketika Indonesia sudah lama merdeka dan melupakan suasana peperangan.
Padahal Gajah Mada lahir hanya setahun dua tahun dari peristiwa pembantaian Pasukan Mongol oleh Pasukan Majapahit. Maka, pasti ibunya tidak dinikahi oleh pasukan Mongol, melainkan oleh pemimpin pasukan Majapahit yang merayakan kemenangan,atau kalau merujuk ke folklor Modo, dinikahi (semacam nikah siri-lah--istilahnya) oleh Raden Wijaya sendiri,dalam rangka pesta perayaan kemenangan, karena pertempuran hebat menumpas Pasukan Mongol memang terjadi di wilayah Lamongan.
Namun di atas semua teori dan tafsir sejarah, hanya Allah Yang Maha Tahu, jadi manusia hanya bisa berteori berdasar alasan-alasan dan data-data yang masuk akal, namun tak berhak mengklaim yang paling benar, wallahu a’lam bissawab, wailaihil marji’ wal ma’ab !!!!
*) Budayawan,kolumnis,novelis,penyair,penulis skenario teater dan sinetron.
Dijumput dari: http://arkeologi.web.id/articles/arkeologi-kesejarahan/1902-gajah-mada-lahir-di-lamongan
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzieb
A. Aziz Masyhuri
A. Hana N.S
A. Iwan Kapit
A. Khoirul Anam
A. Kurnia
A. Purwantara
A. Qorib Hidayatullah
A. Rego S. Ilalang
A. Syauqi Sumbawi
A.C. Andre Tanama
Aa Sudirman
Abd. Basid
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Ghofar
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Lathif
Abdul Malik
Abdul Muid Badrun
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Alawi
Abdullah Ubaid Matraji
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abonk El ka’bah
Acep Zamzam Noor
Ach. Nurcholis Majid
Achmad Farid Tuasikal
Achmad Maulani
Adi Faridh
Adi Marsiela
Adi Sucipto
Adian Husaini
Aditya Ardi N
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
AF. Tuasikal
Afnan Malay
Afrizal Malna
AG Hadzarmawit Netti
AG. Alif
Agama Para Bajingan
Agnes Majestika
Aguk Irawan M.N.
Agung Prihantoro
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus M. Irkham
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus S Warman
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Aguslia Hidayah
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Badrus Sholihin
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Rafiq
Ahmad Rifa’i Rif’an
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Taufik
Ahmad Thohari
Ahmad Tohari
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akmal Nasery Basral
Al-Fairish
Alang Khoiruddin
Alex R Nainggolan
Ali Irwanto
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Alvi Puspita
Amang Mawardi
Ambarukminingsih
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Hamzah
Amirullah
Ana Mustamin
Anam Rahus
Andari Karina Anom
Andhi Setyo Wibowo
Andik Nurcahyo
AndongBuku #3
Andry Deblenk
Anindita S. Thayf
Aning Ayu Kusuma
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Antologi Sastra Lamongan
Anwari WMK
Aprillia Ika
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Junianto
Arif Bagus Prasetyo
Arif Firmansyah
Arifun Najib
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arys Hilman
Asarpin
Asep Sambodja
Asrama Mahasiswa Aceh Sabena
Asri Bariqah
Awalludin GD Mualif
Azumardi Azra
Azyumardi Azra
Baca Puisi
Badaruddin Amir
Balada
Bambang kempling
Bambang Satriya
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benni Indo
Benny Benke
Benny D Koestanto
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Koran
Bernada Rurit
Bernarda Rurit
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Palopo
Budi Purnomo
Buldanul Khuri
Bunda Zakyzahra Tuga
Bungaran Antonius Simanjuntak
Candrakirana
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cawapres Jokowi
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Che Guevara
Coronavirus
Cover Buku Kritik Sastra
Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II
Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV
Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V
D. Zawawi Imron
Dadan Maula Darmawan
Dadang Ari Murtono
Dahlan Kong
Damanhuri Zuhri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
Dedy Tri Riyadi
Dedykalee
Deni Ali Setiono
Deni Jazuli
Denny Ardiansyah
Denny JA
Denny Mizhar
Desa Glogok Karanggeneng Lamongan
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan
Dewi Indah Sari
Dhanu Priyo Prabowo
di Bluri
di Karangasem
Dian Sukarno
Diana AV Sasa
Diana Ifrina Ernawati
Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Dini Tri
Dinoroy M. Aritonang
Dion Maulana Prasetya
Diskusi buku
Djaka Susila
Djenar Maesa Ayu
Djesna Winada
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Dr. Hilma Rosyida Ahmad
Drs H Budiono Herusatoto
Drs H Choirul Anam
Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran)
Dudi Rustandi
Dunia Penerbitan Indonesia
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Nikmatika Roma
Dwi Pranoto
Dwidjo Maksum
Dyah Ayu Fitriana
Eddy D. Iskandar
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Faisol
Edy Firmansyah
Edy Sartimin
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eko Hendri Saiful
El Sahra Mahendra
Elly Burhaini Faizal
Elly Trisnawati
Ellyn Novellin
Emerson Yuntho
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endang Supriyadi
Endi Haryono
Endri Y
Erdogan
Esai
Esha Tegar Putra
Esme Fadliha
Etik Widya
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fadjriah Nurdiarsih
Fahmi
Fahrudin Nasrulloh
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faris Al Faisal
Fariz al-Nizar
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Felix K. Nesi
Festival Mocosik
Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta
Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta
Festival Teater Religi
Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan
festivalsenisurabaya.com
Fikri. MS
Firdawsi
Fortus Pake
Forum Lingkar Pena
Forum Lingkar Pena Lamongan
Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L)
Forum Santri Nasional
Foto
Franditya Utomo
Fransiskus Nesten Marbun ST
Franz Magnis-Suseno
Friski Riana
Fuad Hasan Nasihin
Fuji Pratiwi
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawa
Gede Mugi Raharja
Gedung Sabudga UNISDA Lamongan
Gedung Sangbala
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Golput
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin
Gus Dur
H Ikhsan Effendi
H. Usep Romli H.M
H.B. Jassin
H.O.S Cokroaminoto
Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf
Hadi Napster
Hadziq Jauhary
Halim H.D.
Halimatussa’diyah
Hamberan Syahbana
Hamluddin
Hana Pertiwi
Hanif Nashrullah
Hardono
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Haris Priyatna
Haris Saputra
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Basri
Hasan Junus
Hasanuddin WS
Hasnan Bachtiar
Helmi Y Haska
Helmy Tasaufy
Hera Khaerani
Herdiyan
Heri C Santoso
Heri Latief
Herman
Herman Hasyim
Herman RN
Herry Lamongan
Herry Mardianto
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Homaedi
I Made Asdhiana
I Nyoman Suaka
I Wayan Seriyoga Parta
IBM. Dharma Palguna
Ibnu PS Megananda
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Fitri
Ignas Kleden
Ilham Safutra
Ilham Wancoko
Imam Mustofa
Imam Nawawi
Imam Qodim Al-Haromain
Imam Zanatul Huaeri
Imamuddin SA
Imelda
Imron Arlado
Imron Rosidi
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indrian Koto
Ingki Rinaldi
Ipik Tanoyo
Ire
Irvan Sihombing
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismet NM Haris
Ismi Wahid
Isnanur Janah
Iswadi Pratama
Isyana Artharini
Iwan Nurdaya-Djafar
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar M Sidik
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jazzi
Jejak Laskar Hisbullah Jombang
Jembatan Kuno Yang Misterius
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Jodhi Yudono
Jogjanews.com
John Joseph Sinjal
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku Paket Hemat
Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN
Jumartono
Jurnalisme Sastra
Jusuf A.N
K.H. M. Najib Muhammad
K.H. Ma’ruf Amin
K.Y. Karnanta
Kadjie Mudzakir
Kaheesa Kirania Putri Ayu
Kang Daniel
Kapal Nabi Nuh
Karanggeneng
Karkono
Kasnadi
Katrin Bandel
Kautsar Muhammad
Kedai Kopi Sastra
Kedung Darma Romansha
Kemah Budaya Panturan (KBP)
KH Abdul Ghofur
KH Bisri Syansuri
KH. Abdul Aziz Masyhuri
KH. M. Najib Muhammad
KH. Ma'ruf Amin
Khairul Mufid Jr
Khoirul Abidin
Khoirul Inayah
Ki Ompong Sudarsono
Ki Supriyoko
Kiagus Wahyudi
Kika Dhersy Putri
Kitab Arbain Nawawi
KITLV
Koh Young Hun
Koko Sudarsono
Kompas TV
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA)
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA)
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Komunitas-komunitas Teater di Lamongan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)
Kopi Bubuk Mbok Djum
Kopi Sunan Drajat
Kopuisi
Koskow
Kostela
KPRI IKMAL Lamongan
Krisman Kaban
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kulonprogo
Kurnia Effendi
Kurnia Sari Aziza
Kurniawan
Kurniawan Junaedhie
Kurniawan Muhammad
Kuswinarto
L Ridwan Muljosudarmo
Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan
Lagu
Lailiyatis Sa'adah
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU)
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Sarmili
Literasi
Liza Wahyuninto
Lugiena De
Lukas Adi Prasetyo
Lukisan
Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP
Lukman Alm
Lukman Santoso Az
Luqman Almishr
Lusia Kus Anna
Lutfi S. Mendut
Lynglieastrid Isabellita
M Zainuddin
M. Afif Hasbullah
M. Faizi
M. Lutfi
M. Mushthafa
M. Romandhon
M. Sunyoto
M. Yoesoef
M. Yunis
M.D. Atmaja
M’Shoe
Made Geria
Mahendra Cipta
Mahfud Ikhwan
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahrus eL-Mawa
Majelis Ulama Indonesia
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Maqhia Nisima
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Mardiansyah Triraharjo
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma Wulan
Medco
Media Lamongan
Mega Vristian
Mei Anjar Wintolo
Meka Nitrit Kawasari
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Memoar
Memoar Purnama di Kampung Halaman
Mentari Meida
Mh Zaelani Tammaka
MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1
Mia Arista
Michael Gunadi Widjaja
Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno)
Miftahul A’la
Misbahus Surur
Moch. Faisol
Mochammad A. Tomtom
Moh. Ghufron Cholid
Moh. Jauhar al-Hakimi
Moh. Samsul Arifin
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Afifi
Mohammad Ali Athwa
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Rafi Azzamy
MTs Putra-Putri Simo Sungelebak
Muh Kholid A.S
Muhammad Al-Mubassyir
Muhammad Alfatih Suryadilaga
Muhammad Amin
Muhammad Arif
Muhammad Aris
Muhammad Eko Nugroho
Muhammad Hidayat
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Musa
Muhammad N. Hassan
Muhammad Rasyid Ridho
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M. Dahlan
Mukafi Niam
Mukhsin Amar
Mulyani Hasan
Mulyo Sunyoto
Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Musfarayani
Musfi Efrizal
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nadine Tri Duhita
Naim
Nanang Suryadi
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Nara
Nazaruddin Azhar
Neli Triana
Ngatini Rasdi
Nh. Anfalah
Ni Luh Made Pertiwi F
Ni Made Frischa Aswarini
Ninuk Mardiana Pambudy
Nono Anwar Makarim
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Noval Maliki
Novel
Novel Pekik
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nur Hayati
Nur Kholiq
Nur Kholis Huda
Nurani Soliha
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Ochi
Oil on Canvas
Oky Sanjaya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Paciran
Pameran Seni Rupa
Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik
Panji Satrio
Patung Sphinx
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
Pekan Literasi Lamongan 2020
Pelukis Dahlan Kong
Pelukis Harjiman
Pelukis Jumartono
Pelukis Saron
Pelukis Senior Tarmuzie
Pendidikan
Penerbit Progresif
Penerbit PUstaka puJAngga
Penerbit SastraSewu
Pengajian
Pengetahuan
Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Pesantren Sunan Drajat
Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011
Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur
Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur
Politik
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringgo HR
Prof Dr Achmad Zahro
Prof Dr Aminuddin Kasdi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puji Santosa
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Puspita Rose
Pustaka GU
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putri Utami
Putu Setia
Putu Wijaya
R. N. Bayu Aji
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rafita Dewi
Rahmah Maulidia
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rameli Agam
Rana Akbari
Raras Cahyafitri
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Revdi Iwan Syahputra
Riadi Ngasiran
Rian Sindu
Ribut Wijoto
Ridlwan
Ridwan Munawwar
Riki Utomi
Rinny Srihartiny
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Robert Adhi Kusumaputra
Robin Al Kautsar
Roby Karokaro
Rodli TL
Rof Maulana
Rofiqi Hasan
Rojiful Mamduh
Rokhim Sarkadek
Rosdiansyah
Rosi
Rosidi
Rudi S. Kalianda
Rukardi
Rumah Budaya Pantura
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rumah Budaya Pantura Lamongan
Rx King Motor
S Jai
S Yoga
S.W. Teofani
Sabiq Carebesth
Sabrank Suparno
Sabrina Asril
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salim Alatas
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Pasir Art and Culture
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Saratri Wilonoyudho
Sari Oktafiana
Sasti Gotama
Sastra
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sejarah
SelaSastra
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
Selvie Monica S
Sendang Duwur Tahun 1920
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Shiny.ane el’poesya
Shohebul Umam JR
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sifa
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Simon Saragih
Sirikit Syah
Siti Muti’ah Setiawati
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Slavoj Zizek
Soelistijono
Soetanto Soepiadhy
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Sohirin
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sreismitha Wungkul
Sri Mulyani
Sri Wintala Achmad
ST Indrajaya
Stanley Adi Prasetyo
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudarmoko
Sudirman Hasan
Sugeng Ariyadi
Sugeng Wiyadi
Sugiarto
Sugito Wira Yuda
Suhartono
Sujatmiko
Sukardi Rinakit
Sukitman
Sumenep
Sunarno Wibowo
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susie Evidia Y
Sutamat Arybowo
Sutardi
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Suyatmin Widodo
Svet Zakharov
Syaf Anton Wr
Syaiful Bahri
Syaiful Irba Tanpaka
Syaiful Mustaqim
Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili
Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari
Syamsul Arifin
Syi'ir
Tamrin Bey
TanahmeraH ArtSpace
Tanjung Kodok Tahun 1947
Tasman Banto
Taufik Rachman
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teater
Teater Air
Teater Bias
Teater Biru
Teater Cepak
Teater Dua
Teater Ganast MAN Lamongan
Teater Kanjeng
Teater Lingkar Merah Putih
Teater Mikro
Teater nDrinDinG
Teater Nusa
Teater Padi
Teater Sakalintang
Teater Sangbala
Teater Sundra
Teater Tali Mama
Teater Taman
Teater Tewol
Teater Tewol Lamongan
Teguh LR
Teguh Winarsho AS
Temu Karya Teater Jawa Timur XXI
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thamrin Dahlan
Tharie Rietha
The Ibrahim Hosen Institute (IHI)
Thohir
Thompson Hs
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
To Take Delight
Toni Munajat
Tosa Poetra
Tri Andhi S
Tri Wahono
Trisno S. Sutanto
Triyanto triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Umar Fauzi
Umbu Landu Paranggi
Unieq Awien
Universitas Airlangga Surabaya
Universitas Jember
Untung Basuki
Ustadz Charis Bangun Samudra
Utami Diah Kusumawati
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Veven Sp. Wardhana
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wachid Nuraziz Musthafa
Wahyu Aji
Wahyudi Zuhro
Wan Anwar
Warjati Suharyono
Wawan Eko Yulianto
Wawan Hudiyanto
Wawancara
Wayan Sunarta
Welly Suryandoko
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wong Wing King
Wuri Kartiasih
Y. Wibowo
Yanuar Jatnika
Yanuar Yachya
Yaumu Roikha
Yayasan Thoriqotul Hidayah 1
Yerusalem Ibu Kota Palestina
Yesi Devisa
YF La Kahija
Yogyo Susaptoyono
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yonathan Rahardjo
Yudi Latief
Yuli
Yuni Ikawati
Yurnaldi
Yushifull Ilmy
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Zahrotun Nafila
Zaim Uchrowi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimras
Zen Hae
Zuhdi Swt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar