Media Lamongan

Kamis, September 17, 2009

Getar Pengharapan di Perantauan

Siti Muyassarotul Hafidzoh*
http://oase.kompas.com/
Judul buku : Di Negeri Penjajah:
Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950
Penulis : Harry A. Poeze
Penerbit : KPG Jakarta
Cetakan : 1, 2008
Tebal : 412 halaman

“Hidup yang tak dipertaruhkan, hidup yang tak dimenangkan.” Ungkapan Bung Syahrir ini sangat tepat untuk membaca hikayat orang Indonesia yang bertaruh di negeri perantauan: Belanda. Selama tiga setengah abad Belanda di Indonesia, selama itu pula tersingkap kisah inspiratif kaum pribumi yang mempertaruhkan diri di negeri penjajah. Kisah yang akan menggambarkan hubungan Belanda dan Indonesia, penjajah dan yang dijajah, hegemoni dan koloni, strategi dan siasat intimidasi, serta pengharapan akan sebuah kebebasan di tengah penindasan. Pertaruhan benar-benar menjadi sebuah narasi besar yang sedang dijalankan di tengah kegalauan dan kerisauan.

Sejarawan-Indonesianis, Harry A. Poeze, mencoba menjawab sebuah kisah pengharapan kaum pribumi yang bertaruh di Belanda selama tiga setengah abad (1600-1950). Pengharapan yang terkisah dalam buku ini memang sangat dipertaruhkan, karena menurut Francious Goude (2007), orang pribumi oleh Belanda distigma sebagai “monyet”. Sebuah simbol bangsa yang tak berperadaban, jauh dari riuh modernitas, dan mudah dipecundangi. Simbolisasi ini coba digugat kaum pribumi dengan bertaruh secara sungguh di negeri penjajah sendiri.

Mengapa justru di negeri Belanda? Karena dengan menjelajah Belanda, kaum pribumi bisa mengetahui secara detail karakter kebudayaan dan corak peradaban negeri Belanda. Selain bisa belajar untuk mengembangkan kapasitas, bisa juga digunakan sebagai basis gerakan dalam membebaskan Indonesia dari cengkraman kolonialisasi Belanda. Inilah yang dijelajah Poeze dengan memikat dalam bukunya ini.

Poeze mengisahkan bahwa pada awal abad ke-17, untuk pertama kalinya Sultan Aceh mengirimkan tiga duta besar, yakni Abdul Zamat, Laksamana Raja Seri Muhammad, dan kemenakannya Meras San, yang kalau ditulis sekarang menjadi Abdul Hamid, Sri Muhammad, dan Mir Hasan. Mereka menumpang kapal Zelaandia dan Langhe Barche diiringi lima orang pembantu dan seorang juru bahasa, juga sejumlah pedagang Arab (hal. 3).

Perutusan Sultan Aceh tersebut tiba di Aceh pada Juli 1602. Dari ketiganya, Sultan Aceh bisa mengetahui perkembangan peradaban Barat, pola pergaulan masyarakat Eropa, dan bagaimana Sultan Maurits menyembut perutusan tersebut. Perutusan juga berkunjung di berbagai kota pusat peradaban Belanda. Dari gambaran itulah, Sultan Aceh bisa mengetahui cara berdiplomasi dan bekerjasama dengan Belanda, agar tidak tertipu dan terperdaya, walaupun dalam beberapa hal, Belanda masih mencederai kerjasama dengan Sultan.

Kisah perutusan Aceh mengilhami sebuah inspirasi untuk bertaruh di negeri Belanda. Menyusul kemudian para pemuda Ambon yang diajak oleh De Houtman, yang ketika pulang mereka dijadikan pengajar sekolah rakyat. Dari pemuda Ambon ini terkisah sebuah harapan bahwa pergi ke negeri Belanda bisa membuka jendela pengetahuan yang lebih baik. Inilah yang kemudian dijalakan Raden Saleh. Tahun 1829 Raden Saleh ikut berlayar ke negeri Belanda sebagai Klerek Inspektur Keuangan De Linge. Selain belajar melukis yang memang menjadi bakatnya, Raden Saleh juga belajar ihwal pendidikan, pengajaran, juga nasionalisme dan kedaulatan sebuah bangsa. Lukisan-lukisan Raden Saleh terlihat sekali bahwa dia ingin menentukan sendiri siapa dan apa yang dilukisnya. Kebebasan dan kedaulatan diri dalam berkarya sangat dipegang teguh olehnya. Poeze mencatat Raden saleh sebagai pelopor para mahasiswa Indonesia yang sejak akhir abad ke-19 bertaruh ke negeri Belanda.

Pada tahun 1835, Raden Ngabehi Poespa menyusul. Kemudian disusul Mas Ismangoen Danoe Winoto (orang pertama kali yang menikmati pendidikan tinggi di Belanda), Raden Montajib Moeda (orang yang menuliskan kisah perjalanan pertama tentang negeri Belanda), dan Sasrokartono (ahli bahasa yang sangat mahir). Tibalah kemudian sosok dokter yang juga wartawan, Abdul Rivai. Dialah orang Indonesia pertama yang dapat menyebut dirinya ”doktor”, walaupun gelar yang diperoleh tanpa menulis disertasi (hal. 56). Rivai datang ke Belanda pad tahun 1899, tahun penghujung abad ke-19, dimana Belanda sedang memutus kebijakan politik etisnya.

Sosok Abdul Rivai menjadi istimewa bagi para pelajar Indonesia, karena Rivai selain diakui sebagai dokter yang cerdas dan tangkas, juga dikenal sebagai wartawan yang piawai dalam menulis berbagai persoalan nasionalisme, kebangsaan, dan kenegaraan. Karya dari buah tangannya tayang diberbagai majalah dan newsletter, baik di Melayu dan Belanda sendiri. Jiwa kewartawanan menjadikan Rivai selalu hadir dengan ide-ide kreatif yang bisa mengilhami lahirnya sebuah pergerakan kebangsaan bagi kaum pribumi. Apalagi tulisannya dikenal sangat kritis terhadap kaum kolonial Belanda, sehingga dia dicurigai, bahkan akhirnya dibenci Belanda yang gerak-gerik politiknya mendapatkan pengawasan ketat.

Pada tahun 1908, Rivai dengan teman-teman pelajarnya kaum pribumi mendirikan perkumpulan yang bernama ”Perhimpunan Kaum Muda” yang kemudian dikenal dengan Perhimpunan Hindia. Salah satu tugas terpenting dalam perhimpunan, menurut Rivai, adalah memajukan pengajaran dengan jalan melancarkan desakan kepada pemerintah, menerbitkan buku-buku sekolah, dan membentuk dana-dana pendidikan (juga untuk belajar ke Eropa). Dari sinilah, datang berduyun-duyun pelajar Indonesia yang belajar di Belanda. Ada Noto Soeroto (sastrawan), Bung Hatta, Bung Syahrir, Ki Hadjar Dewantara, Tjipti Mangoenkoesoemo, termasuk juga Tan Malaka yang banyak menulis cacatan gugatan selama di negeri Belanda.

Semakin hari, jumlah pelajar dan cendekiawan yang lahir dari negeri Belanda semakin besar. Mereka yang masih di Belanda, pengharapan akan kebebasan mereka tuangkand an mereka perjuangkan di Belanda. Semakin hebat, karena sekembalinya di Indonesia, mereka juga membentuk persekutuan untuk membebaskan tanah airnya. Padahal, hal tersebut snagat tidak dikehendaki oleh Belanda. Pada awalnya, Belanda ingin tetap menjadi “monyet” yang bisa dibohongi yang dipekerjakan dengan seenaknya. Tetapi pencerahan yang mereka dapatkan justru menjadi cambuk bagi Belanda.

Gerakan pengharapan akhirnya tiba dalam susana kebebasan. Gerak-gerik kaum terpelajar sangat berpengaruh atas kebebasan Indonesia dan juga atas terbentuknya Indonesia masa kini. Disinilah, buku menjadi penting untuk membaca secara kritis gerak Indonesia masa depan.

*) Peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) Fak Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . HP 085729769937

Read More......

Setelah Pergi, Baru Sadari Betapa Pentingnya Rendra

Jodhi Yudono
http://oase.kompas.com/

Duka datang berendeng menghampiri kita. Setelah pada Selasa (4/8) lalu penyanyi Mbah Surip pergi, pada Kamis malam (6/8) pukul 20.30 WIB, giliran budayawan dan penyair WS Rendra menyusul menghadap Sang Khalik.

Seperti telah saling janjian, kedua seniman yang telah mendahului kita itu menempati “rumah” abadi yang sama hanya selisih dua hari, yakni di pekarangan rumah WS Rendra di daerah Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Willybrodus Surendra Broto yang kemudian berganti nama menjadi Wahyu Sulaiman Rendra setelah dirinya Muslim, menjalani perawatan jantung sejak setahun lalu. Berkali-kali ia masuk rumah sakit, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di kediaman salah satu putrinya, Clara Shinta, di Perumahan Pesona Kayangan, Depok, Bogor.

Sebagai pengagumnya, tentu saja saya amat sangat kehilangan dia. Gara-gara salah satu puisinya yang terangkum dalam Potret Pembangunan Dalam Puisi, saya bersikeras kepada ayah untuk tak lagi repot-repot mengongkosi kuliah saya. Saya pilih berhenti sebagai Sarjana Muda dan memulai “kuliah” di jalanan bersama para seniman, buruh-buruh pabrik di Srondol, dan gelandangan di Simpang Lima, Semarang, di pertengahan tahun 80-an. Puisi itu kurang lebih bercerita tentang pendidikan. Pendidikan kita berkiblat ke Barat. Di Barat, anak-anak dididik untuk menjadi mesin industri, sedangkan kita? Dididik untuk menjadi kuli! Wah…, jiwa muda saya yang membara pun langsung bergetar.

Pertama kali melihat ia membacakan puisi-puisinya di Semarang pada tahun 1985. Sungguh menggelorakan jiwa muda saya saat itu. Masih saya kenang hingga kini, bagaimana ia membawakan sajak-sajaknya dan lalu melemparkan ke udara setelah rampung dibaca.

Dengan tangan terkepal meninju udara, ia melangkah membelah panggung, lantas suaranya yang parau itu pun meneriakkan judul puisi yang akan dibacakannya:

Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya

Meski ia telah tampak sepuh karena usia telah menginjak lima puluh, toh sihir suara dan ekspresinya sungguh-sungguh telah menjadi racun bagi saya untuk makin dalam bergulat dengan dunia teater dan susastra.

Saya pun mulai melahap puisi-puisi karyanya. Beberapa puisinya bahkan pernah saya hafal di luar kepala. Nyanyian Angsa, itulah salah satunya. Saya pun terkesan dengan gaya bercerita Rendra yang kuat dalam kumpulan puisi Balada Orang-Orang Tercinta yang ia bukukan di pertengahan tahun 50-an. Bahasanya yang lentur dan keseharian, membuat puisi-puisinya yang getir tetap enak dinikmati.

Balada Terbunuhnya Atmo Karpo yang berkisah tentang matinya seorang perampok bernama Atmo Karpo di tangan anaknya sendiri, Joko Pandan, adalah puisi yang amat dramatik.

Dan inilah ujung puisi Balada Terbunuhnya Atmo Karpo yang selalu saya kenang,

Berberita ringkik kuda muncullahJoko Pandan
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba
pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kodok hutan bopeng oleh luka
pesta bulan, sorak sorai, anggur darah

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
ia telah membunuh bapaknya

Hmm… saya juga tak bosan-bosannya menikmati romantisme hitam puisi Balada Ibu yang Dibunuh

Ibu musang dilindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang

Lalu, hingga kini.. saban kali kangen pada ibu, saya pun lantas teringat pada puisi Nyanyian Bunda yang Manis.

Kalau putraku datang
ia datang bersama bulan
kena warna jingga dan terang
adalah warna buah di badan

Wahai telor madu dan bulan!
Perut langit dapat sarapan

Ia telah berjalan jauh sekali
dan kakiknya tak henti-henti
menapaki di bumi hatiku
Ah, betapa jauh kembara burungku!

Awal tahun 90-an, saya bertemu dan berkenalan dengannya. Saya pun memanggilnya Mas Willy, sebagaimana orang-orang menyapanya. Tubuhnya yang selalu wangi, roman mukanya yang ganteng, serta tutur katanya yang terjaga dalam kecerdasan, membuat siapa pun akan menyimak hikmat tiap kali ia bicara.

Rendra bak kamus berjalan. Ia, kendati tak kelar kuliah, adalah pemikir ulung untuk urusan sejarah bangsa ini. Ia jabarkan dengan detail riwayat kekuasaan raja-raja Jawa. Ia pun paham benar mengenai kultur orang darat dan air. Saya masih ingat dengan statement dia tentang kekuasaan di negeri ini, menurutnya, dari dulu hingga kini negeri ini dikuasai oleh preman. “Anda kira siapa itu Gadjah Mada? Ken Arok, Soeharto… preman!” kata Rendra dalam sebuah diskusi.

Di Makassar pada tahun 1998, saya kian dekat dengan Rendra. Kami makan malam bersama di sebuah rumah makan dekat Pantai Losari yang menyajikan ikan bakar. Bagai tokoh kuliner, ia pun berkata, “Yang gosong jangan dibuang, itu justru yang enak. Hmmm,” Rendra mengupas kulit ikan yang gosong lalu langsung mengudapnya.

Setelah itu, kami kian kerap bertemu. Kadang di rumah Setiawan Djody, atau di acara diskusi, tapi sekali-sekala saya juga menyempatkan diri datang ke kediamannya yang asri di Cipayung.

Pernah pada sebuah sore di tahun 2003, di halaman sebuah gedung pertemuan di Kota Jambi, kami bersitatap sambil bersalaman. Kala itu kami bersepakat untuk mengaku saya sebagai anaknya dan ia sebagai bapak saya.

Entah apa sebabnya tiba-tiba kesepakatan itu terjadi. Yang terang saat itu saya terharu kala melihat Rendra bicara tentang kesehatan masyarakat, terutama untuk mereka yang terkena penyakit TBC. Bukan materi pembicaraan dia yang membuat saya tertegun, tapi gerak tubuhnya yang telah lamban itulah yang membikin saya ingin melindunginya.

Saya sungguh trenyuh kala itu. Dalam hati saya berucap, inikah orang yang dulu pernah menaklukkan beribu-ribu mata dan jiwa penggemarnya ketika dirinya di panggung. Inikah orang yang dulu galak memimpin kawan-kawan demonstran melawan rezim Soeharto? Pertanyaan berjubel-jubel di kepala saya.

Begitu selesai bicara di muka forum, saya pun langsung bergegas menghampirinya seraya menuntun tangannya keluar ruangan. Di Belakang kami ada Ken Zuraida, istri Rendra, serta beberapa anak Bengkel Teater, mengiringi kami.

Di luar, seorang wartawan mencegat Rendra untuk memberitahu, sebentar nanti ada acara diskusi bersama kawan-kawan seniman Jambi. Lantaran Mba Ida, demikian Ken Zuraida biasa disapa, tak bisa mengikuti acara diskusi, ia pun meminta saya untuk mengiringi Mas Willy, “Tolong dijaga Mas Willy,” kata Mba Ida sebelum kami berangkat ke acara diskusi.

Sejak saat itu, saya pun kerap memanggil Mas Willy dengan sebutan Pak Rendra.

Dari Jambi kami meneruskan perjalanan ke Medan untuk acara yang sama dengan di Kota Jambi. Pak Rendra tampak kelelahan setibanya di Medan. Sebab, karena cuaca buruk, dari Jambi pesawat yang kami tumpangi harus menuju ke Jakarta lebih dahulu, sebelum akhirnya terbang ke Medan.

Di tengah-tengah road show itu, saya sempat berterus terang kepadanya, mengapakah dirinya tampak begitu letih. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia pun berterus terang bahwa dirinya bukan bapak yang baik bagi anak-anaknya, dan ia sangat ngungun karenanya.

Kini Rendra telah pergi. Ia tak cuma meninggalkan catatan-catatan susastra yang diakui komunitas sastra dunia, tapi juga pemikiran-pemikiran brilian tentang bangsa ini. Dialah yang senantiasa mengingatkan para penguasa negeri ini agar selalu berpihak kepada rakyat. Dia pula yang selalu membela orang-orang tertindas untuk bangkit.

Rendra telah berpulang. Bukan cuma ini kali kita ditinggal pergi oleh orang-orang besar macam Rendra. Sebelum Rendra ada Ali Sadikin, Soekarno, Mbah Surip, dan tokoh-tokoh lainnya. Tapi selalu saja kita tak pernah belajar bagaimana kita menghargai dan memulyakan orang-orang besar itu secara sepatutnya semasa hidupnya. Lihatlah Drs Sujadi yang menjadi tokoh Pak Raden dalam film Si Unyil itu yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk dunia anak-anak; ia masih mengontrak rumah padahal usianya telah senja. Pandanglah juga Pak Gesang yang baru diingat justru setelah orang Jepang mengingatnya. Lihatlah juga para atlet yang telah mengharumkan bangsa ini yang sebagian di antaranya hidup terlunta-lunta, dan masih banyak orang-orang besar lainnya yang dilupakan.

Sesal apa yang harus kita sesali. Rendra telah kembali menghadap Ilahi. Satunya yang sisa adalah harapan akan lahirnya Rendra Rendra baru yang sanggup menggedor ketidakadilan dengan pena dan suara.

Begitulah, kita merasa kehilangan Rendra justru ketika dia telah tiada.

Read More......

Mahasiswa China Belajar Sastra Indonesia

Sugiarto
http://suaramerdeka.com/

Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Drs Kasiyarno H Hum mengaku senang dan bangga karena Bahasa Indonesia sangat disukai dan disenangi oleh mahasiswa di Negeri Tirai Bambu.

Buktinya 37 mahasiswa Guangxi University for Nationalities, mulai belajar Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. ”Mereka ini nantinya akan belajar Sastra Indonesia,” kata Kasiyanto saat menerima mahasiswa asal China di ruang pertemuan Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan, Jalan Pramuka, Yogyakarta, Rabu (2/9).

Menurut Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Kasiyarno, kepada wartawan mengatakan, pengiriman mahasiswa dari Guangxi University for Nationalities di UAD ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan naskah kerjasama yang ditandatangani sebelumnya.

Para mahasiswa asal China ini, lanjut dia, akan mengikuti program sandwich 2+2 dan sebagian lainnya 1+3. Ia menegaskan 2+2 berarti mahasiswa itu harus menyelesaikan pendidikannya di UAD selama dua tahun dan dua tahun berikutnya di Guangxi.

Sedangkan untuk 1+3, berarti mereka akan menempuh pendidikan di UAD satu tahun dan tiga tahun di Guangxi. ”Atau sebaliknya,” tambah Kasiyarno.

Ia mengemukakan, dari 37 mahasiswa asal China yang belajar di UAD itu, sembilan orang mengambil program 1+3, sedangkan 28 orang lainnya mengikuti program 2+2. Menurut Rektor, para mahasiswa asal China itu akan mempelajari bahasa dan sastra Indonesia. ”Mereka ini akan menyelesaikan S-1 Bahasa Indonesia,” tegasnya.

Sementara dua tenaga pengajar UAD, saat ini memperoleh kesempatan mengajar Bahasa Indonesia di Guangxi University for Nationalities. Para mahasiswa asal China ini, menurut Rektor juga akan mengikuti Program Pengenalan Kampus yang akan diikuti pula dengan tour de campuss.

Selama mengikuti program pendidikan di Yogyakarta, kata dia, para mahasiswa asal China ini akan ditempatkan di rumah-rumah penduduk agar lebih bisa berbaur serta lebih cepat mengenal budaya Indonesia.

Dalam pada itu pembimbing para mahasiswa asal China yang juga dosen pada Guangxi University for Nationalities, Han Yan Yan mengatakan, program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Guangxi cukup besar peminatnya. Terlebih lagi, ujarnya, permintaan akan lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia di China juga terus meningkat. Oleh karena itu, universitasnya kerjasama dengan UAD.

Ia mengemukakan, sebelum mengikuti program sandwich di UAD, para mahasiswa Guangxi ini juga sudah menyelesaikan berbagai program, sehingga sudah siap untuk belajar di Indonesia.

Dikatakan, para mahasiswa ini diharapkan bisa cepat menyelesaikan pendidikannya serta mampu bergaul dengan mahasiswa lainnya termasuk dengan masyarakat sekitar mereka akan tinggal nanti. ”Kami bangga karena para mahasiswa kami memperoleh kesempatan belajar di Yogyakarta ini,” ujarnya. ”Sepertinya, mereka senang tinggal di Yogyakarta,” tambahnya.

Read More......

GENDERANG GENDER: Stereotipe Perempuan dalam Bahasa Indonesia

Meka Nitrit Kawasari*
http://suaramerdeka.com/

BAHASA merupakan komponen komunikasi yang paling utama dalam kehidupan. Ia merupakan sarana untuk mengungkapkan sesuatu yang ada dalam pikiran manusia. Keterkaitan antara bahasa, kehidupan, dan kelompok sosial menimbulkan bermacam cara dan bentuk pemakaian bahasa.

Pemakaian bahasa itu timbul berdasarkan jenis kelamin, status sosial, latar belakang budaya, dan sebagainya. Pemakaian bahasa berdasarkan jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki, akan mengarah kepada gender. Bahasa yang dipakai keduanya tentu akan berbeda, sehingga menimbulkan penstereotipan perempuan dalam bahasa.

Hal ini terjadi apabila dilihat dari aspek biologis, psikologis, dan metodologis perempuan yang selalu merupakan subordinat laki-laki. Ditambah adanya budaya Jawa yang menjadikan perempuan sebagai kanca wingking bagi laki-laki dengan tugas macak (dandan), masak (memasak), dan manak (melahirkan). Seolah-olah perempuan adalah seseorang yang harus memenuhi, memelihara, dan menyelesaikan urusan rumah tangga.

Pemakaian bahasa berdasarkan jenis kelamin tidak urung akan merembet ke penggunaan bahasa berdasarkan faktor sosial dan latar belakang budaya. Ini terjadi akibat individu perempuan dan laki-laki tidak dapat terlepas dari faktor sosial dan latar belakang budaya masing-masing. Mereka hidup dalam
masyarakat luas yang memiliki aneka keragaman status sosial, pekerjaan, agama, pendidikan, suku, dan budaya. Keragaman itu tentunya mempunyai andil besar untuk memengaruhi bagaimana sosok perempuan dan laki-laki itu dalam berbahasa.

Menurut Suyanto, dosen Sastra Indonesia Undip, citra dan stereotip yang melekat pada perempuan merupakan hal yang bersifat dual. Artinya, citra yang melekat pada diri perempuan saat ini akan memperkokoh adanya stereotip perempuan. Sedangkan stereotip yang sudah sedemikian mapan akan membentuk citra baru sesuai dengan perkembangan zaman.

Penggunaan bahasa laki-laki dan perempuan memiliki format berbeda. Sebab perempuan sebagai subordinasi laki-laki dalam bahasa diwujudkan dalam berbagai unsur seperti kosa kata, ungkapan, istilah, dan gramatikanya. Perbedaan wujud bahasa antara laki-laki dan perempuan menggejala dalam semua ranah, baik dalam pekerjaan formal, pekerjaan informal (memasak atau mencuci pakaian), kegiatan sehari-hari, peralatan yang menunjang kegiatan, mainan, maupun sifat.

Pelacur, PSK Sebagai contoh kata ’’pelacur’’ atau pekerja seks komersial (PSK). Kedua kata ini biasa dipakai untuk pelaku perempuan. Pelacur berasal dari kata dasar lacur, yang berafiks pe-. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pelacur bermakna malang, celaka, sial, dan buruk laku. Seharusnya kata pelacur tidak hanya digunakan untuk perempuan, sebab arti sebenarnya bersifat umum alias tidak mengarah pada jenis kelamin.

Begitu pula istilah PSK yang selama ini melekat pada diri perempuan. Padahal jika dikupas pengertian pekerja seks komersial, itu pun tidak mengarah pada jenis kelamin tertentu. Menurut KBBI, pekerja bermakna orang yang bekerja. Seks adalah hal yang berhubungan dengan kelamin, seperti senggama. Komersial berhubungan dengan perdagangan.

Jadi, pekerja seks komersial adalah orang yang bekerja dengan memperdagangkan seks. Tidak ada satu pun faktor yang mengarah pada perempuan.

Tetapi kebiasaan yang membentuk istilah ini, yang akhirnya diperuntukkan perempuan, sebab perempuanlah yang biasa ditemui berprofesi sebagai PSK. Namun tidak dapat dimungkiri, ada juga laki-laki yang berprofesi sebagai PSK.

Hal serupa juga dijumpai pada kata memasak, sekretaris, bersolek, seksi, dan sebagainya, yang selalu mengarah pada perempuan. Banyak profesi, peralatan dan perlengkapan rumah tangga, aksesoris, mainan, dan julukan yang digolongkan seperti jenis kelamin. Sehingga terdapat perbedaan mana yang diperuntukkan perempuan dan mana yang diperuntukkan laki-laki.

Sudah banyak penelitian tentang perempuan dan bahasa yang dilakukan di Indonesia. Misalnya penelitian Marida Gahara Siregar dkk (Pusat Bahasa, 2006), berjudul Bahasa Indonesia dalam Perspektif Gender, yang menyimpulkan bahwa gagasan atau pemikiran kaum perempuan lebih bertele-tele dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari segi penggunaan kosa kata yang ditemukan.

Dalam penelitiannya berjudul Stereotip Perempuan dalam Iklan, Sri Puji Astuti —dosen Sastra Indonesia Undip— menjelaskan kosa kata dan frasa yang mencerminkan stereotip perempuan adalah adjektiva (kata sifat). Yaitu penampilan fisik, sifat perempuan, pekerjaan perempuan, dan keterampilan perempuan.

Sedangkan ungkapan yang mencerminkan stereotip perempuan adalah ratu rumah tangga, ratu kecantikan, jago masak. Ungkapan-ungkapan itu, jika dibaca sekilas, merupakan sanjungan bagi perempuan. Tetapi di baliknya terdapat proses domestifikasi perempuan untuk lebih beraktivitas dan menghabiskan waktu di ruang domestik (rumah tangga).

Terbuktilah bahwa kegenderan tidak hanya terdapat pada peristiwa-peristiwa di kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam bahasa yang dipakai masyarakat Indonesia. Tidak hanya bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Inggris, Jawa, Sunda, dan bahasa daerah lainnya.

*) Alumni Sastra Indonesia Undip.

Read More......

Belajar Sastra lewat Cerita Rakyat

Dini Tri
http://suaramerdeka.com/

CERITA rakyat tak melulu dikemas dalam rasa tradisional. Karena dengan mengikuti perkembangan zaman, cerita tersebut semakin menarik tanpa meninggalkan fungsi hiburan dan pendidikan. Seperti sajian drama tradisonal yang disuguhkan siswa-siswi SMPN 4 Sukoharjo yang mengangkat lakon Ande-ande Lumut ini.

Cerita tersebut diambil dari cerita rakyat Raden Panji dan Galuh Candra Kirana. Iringan karawitan sudah diubah dengan beragam gaya musik, dari keroncong, pop, dan R n’ B. Bahkan pada akhir cerita, saat Klenting Kuning dan Ande-ande Lumut bersatu, diiringi lagu “Munajat Cinta” dari The Rock tetapi tetap dengan iringan karawitan.

Ya, suguhan tersebut ditampilkan dalam Seminar Nasional Sumbangan Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang digelar Program Studi Penidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Senin (21/7).

Cerita rakyat bagi guru bahasa dan sastra Indonesia bisa dipandang sebagai pisau bermata dua. Menurut guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Dr Setya Yuwana Sudikan, dalam keterampilan berbahasa, seperti membaca, menulis, menyimak, dan berbicara, seorang guru bisa memanfaatkan materi cerita rakyat.

“Karena cerita rakyat dapat mengembangkan keterampilan ekspresif sehingga kompeten dalam berkomunikasi dan merupakan bagian dari dunia anak-anak,” ungkapnya ketika menjadi pembicara dalam seminar tersebut.

Prof Setya menambahkan, cerita rakyat bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran apresiasi sastra. Cerita rakyat, kata dia, dapat dijadikan pilihan para guru untuk dipertimbangkan sebagai materi pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah.

“Ini sesuai dengan standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, yaitu belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai kemanusiaan.”

Multikultural

Menurut penulis buku, Dr Sarwiji Suwandi MPd, kurikulum sekolah di Indonesia membutuhkan pendidikan berwawasan multikultural, salah satu aspeknya adalah cerita rakyat. “Melalui pembelajaran cerita rakyat, siswa dituntut mampu mengidentifikasi unsur cerita rakyat, dari tokoh, watak, latar, tema atau amanat yang didengarnya,” jelasnya.

Dia menegaskan, hal penting yang perlu di segera diupayakan adalah ketersediaan buku-buku cerita rakyat di perpustakaan daerah dan dan sekolah. Menurutnya, dengan mengenal dan mengapresiasi ragam cerita rakyat, siswa akan menyerap dan menginternasilisasi nilai pendidikan yang terkandung dan meningkatkan wawasan multikultural mereka,” jelasnya.

Read More......

Ada yang Salah dengan Sistem Pembelajaran Sastra Indonesia

Rukardi
http://www.suaramerdeka.com/

Dalam pandangan Putu Wijaya, era 1945 merupakan masa ideal bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Saat itu, lahir sekaligus eksponen penyair dan kritikus sastra yang kuat. Sinergi keduanya menciptakan iklim sastra yang dinamis dan progresif.

Dalam hal ini, Chairil Anwar dan HB Jassin menjadi ikon paling tipikal. Chairil mendobrak kecenderungan sastra Pujangga Baru yang penuh dengan bunga-bunga kata. Sajak-sajaknya plastis dan mengusung aforisma. Dia hadirkan realita dalam kata demi kata. Tak hanya itu, karya-karya Chairil juga memberi saham bagi kemajuan bahasa Indonesia.

Sementara, HB Jassin hadir dengan kritik-kritiknya yang cerdas dan bernas. Tokoh berjuluk Paus Sastra Indonesia itu menjadi semacam batu asah yang menajamkan mata pisau estetis Chairil dan sastrawan seangkatannya.

“Selepas angkatan 1945, sastra Indonesia kehilangan kritikus yang teliti dan mumpuni seperti HB Jassin. Kondisi itu tak memenuhi prasyarat bagi lahirnya iklim sastra yang ideal,” kata Putu Wijaya, dalam diskusi “Membuka Tabir Dunia dengan Sastra: Telaah Jejak Para Ispirator” yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) di Auditorium Undip Pleburan, Minggu (27/4).

Diskusi dalam rangka peringatan Chairil Anwar 2008 itu juga menghadirkan sastrawan Ahmad Tohari, penulis kumpulan cepen Marketplace: Aca, serta dosen Fakultas Sastra Undip Redyanto Noor M Hum.

Seperti dibutakan

Sejatinya, lanjut Putu, banyak sastrawan sekelas Chairil Anwar yang lahir sesudahnya, taruh misal Sutardji Calzoum Bachri atawa WS Rendra. Namun, ketiadaan kritikus andal membuat eksistensi mereka tak terlampau luar biasa. Masyarakat seperti dibutakan dengan kehadiran para pendobrak itu. Karya-karya mereka yang bagus menjadi tak terjelaskan.

“Sastra Indonesia dikatakan sehat jika prasyarat pendukungnya terpenuhi, antara lain adanya sastrawan, karya, kritikus, penerbit, apresian, dan proses pembelajaran.”

Di sisi lain, metode pembelajaran yang ada saat ini turut memberi andil. Secara ekstrem, Putu menyebut ada yang salah dengan sistem pembelajaran sastra kita. Di sekolah-sekolah, pelajaran bahasa beroleh porsi lebih dibanding sastra. Pengajarnya pun kebanyakan berlatar pendidikan linguistik. Butuh metode baru untuk mengubah keadaan.

Senada, Ahmad Tohari menyebut sastra Indonesia saat ini sebagai korban pragmatisme dan materialisme. Sastra semestinya memberikan ruang pada hal-hal yang bersifat batiniah. Namun, ruang itu kini telah hilang ditelan berhala pasar. “Ya, pasar lebih berperan,” ungkap penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu.

Read More......

Pembelajaran Kreatif: Mencetak Guru Sekaligus Sastrawan

Panji Satrio
http://suaramerdeka.com/

Gara-gara Ujian Nasional, pelajaran sastra mengalami disorientasi. Guru suntuk mengajar teori demi Ujian Nasional sehingga melupakan apresiasi. Perlu kiranya dikembangkan pembelajaran kreatif untuk mencetak guru sekaligus sastrawan.

MELALUI mata kuliah Prosa Fiksi Drama (PSD), mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) IKIP PGRI diajak melakukan apresiasi secara aktif. Bukan sekadar belajar teori.

Dosen kampus itu, Murywantobroto MHum itu mengajak mahasiswa agar menjadi sastrawan. “Dengan begitu, ketika menjadi guru tak hanya bisa berteori, namun bisa menggugah hasrat siswa untuk melakukan apresiasi terhadap karya,” ujarnya.

Langkah itu diwujudkan dalam bentuk pementasan lakon drama. Pentas diadakan di aula kampus pada 4-12 Januari 2009. Apresiasi penonton lumayan, satu lakon ditonton hingga ratusan mahasiswa. Penonton wajib membayar tiket seharga enam ribu rupiah.

Sebanyak 16 lakon dipentaskan. Lakon-lakon tersebut merupakan hasil penggarapan mahasiswa semester 3 yang mengambil mata kuliah PSD.

Murywantobroto mengatakan, mata kuliah ini berusaha mengajarkan semua aspek sastra. ’’Ada yang belajar menulis kreatif dengan membuat skenario, belajar menjadi sutradara, aktor, setting dan tata panggung,’’ ujar alumni Magister Humaniora dari Universitas Indonesia ini.

Pendek kata, dia ingin mata kuliah ini bisa mencetak guru sastra yang juga sastrawan. “Lebih jauh lagi, kami berharap guru bisa membelajarkan sastra secara seimbang. Bukan hanya untuk Ujian Nasional, tetapi juga menggairahkan apresiasi,” ujarnya.

Potret Sosial
Mayoritas lakon menampilkan potret suram masyarakat . Para teaterawan muda itu dengan jeli memotret realitas sosial yang terjadi di masyarakat.
Kritik terhadap agama yang gagal memberi solusi problematika masyarakat, misalnya dituangkan dalam lakon berjudul Sang Atheis.

Dalam skenario yang disusun Tri Rahayuningsih itu dikisahkan perubahan sosial sebagai dampak industrialisasi. Orang semakin lupa pada fitrah sebagai makhluk beragama karena memperturutkan hawa napsu.

Tokoh sentral dalam kisah ini adalah Panji (diperankan Ulil Albab). Dia kecewa karena kaum agamawan yang getol mengutip kitab suci turut larut. Sibuk mengejar harta dan kekuasaan dengan topeng agama.

Di tengah krisis kepercayaan, Panji menjadi atheis. Dalam suatu konflik batin, Panji membunuh Rondiah (Sutari) yang tak lain guru ngajinya sendiri.
Lakon ini seakan hendak menyajikan potret para tokoh agamawan di negeri ini. Para kyai dan pendeta berebut kekuasaan sehingga melupakan umat.
Lakon berjudul Graffito juga layak diberi pujian.

Drama yang disutradari Muhammad Syaiful Amri ini menyajikan potret keluarga modern yang sibuk. Tak ada waktu jenak, bahkan sekadar berbagi kehangatan untuk anak-anak di rumah.

Minimnya perhatian keluarga membuat sepasang kekasih Zaki dan Zakia terjebak pergaulan bebas. Sayangnya, saat mereka membutuhkan bimbingan, para pastur dan kyai hanya bisa menghakimi dengan dogma agama tanpa bisa memberi solusi.

Dari 16 lakon, mayoritas menyajikan potret buram dari realitas sosial. Suasana panggung yang remang-remang pun menjadi terlihat semakin muram.
Untungnya, di tengah kemuraman, lakon Ronda berhasil memecah kebekuan.

Mengambil genre komedi, lakon yang mengisahkan kemunculan hantu pocong di sebuah kampung itu segera menghadirkan tawa di tengah penonton. Lakon yang disutradrai Ahmad Muadib itu berhasil membawa penonton ke dalam suasana riang setelah suntuk menonton lakon-lakon sedih.

Dosen pendamping Murywantobroto MHum mengungkapkan, mayoritas lakon berhasil menyajikan masalah sosial yang dialami masyarakat. “Mereka berhasil memotret fenomena sosial untuk disajikan kepada penonton di atas panggung. Mereka sudah bisa mengaplikasikan teori-teori yang diperoleh di bangku kuliah.”

Selain tiga judul tadi, lakon lain adalah Cahaya dalam Kegelapan, Pak Sadino, Denting Kesetiaan, Di Balik Lembar Diaryku, serta Negeri Topeng. Kemudian Secret, Kata Orang Aku Gila, Punokawan Melancong, Ratminah Edan, Belenggu Kehidupan, Sang Merah Putih, Globalisasi Orde Gila, serta Perjuangan Sang Veteran.

Murywantobroto merasa gembira munculnya aktor-aktor baru yang menonjol. Dia mencontohkan, beberapa pemain bisa memerankan karakter orang gila dan waria secara wajar. “Mereka berhasil menafsirkan peran gila dan waria secara tepat. Padahal tak mudah memerankan karakter itu,” ujarnya.

Selain kelebihan, dia juga mencatat sederet kelemahan klasik. Di antaranya ending yang terlampau simpel serta kecenderungan penggunaan alur tunggal. “Potret sosial yang disajikan sudah bagus, namun ending atau solusi yang disajikan masih dangkal,’’ tandasnya.

Kematian sering dijadikan jalan pintas untuk mengakhiri konflik. Bahkan ada lakon yang menghadirkan sosok dewa dari khayangan untuk mengatasi masalah. Nah dari sinilah, dia menilai sutradara belum sepenuhnya memiliki visi dalam membawa penonton. ’’Sebagai pemilik panggung, sutradara mestinya bisa menawarkan solusi yang cerdas dari masalah yang ditampilkan.”

Read More......

Posting Lama