Kamis, Mei 06, 2021

Bayangan Bahtera Nuh

Ida Fitri *
Jawa Pos, 17 Mei 2020
 
MEMBOLAK-BALIK lembar catatan lusuh yang tergeletak di atas meja, Namaha terlihat tak bersemangat. Ia telah mengkhianati janjinya sendiri untuk tak kembali ke Banda Aceh. Tiga puluh hari telah berlalu, aroma kematian masih tercium jelas dari jendela rumah tempat ia menginap. Anjing berdengking, menemukan sepotong tangan yang telah membusuk dan terjepit reruntuhan bangunan atau melihat hantu-hantu yang meratap karena tak menemukan jasadnya. Lengkung sekarat sang rembulan bertengger di langit, kekasih bumi yang terus mengelilinginya selama 4,53 miliar tahun. Entah sampai kapan tetap setia. Nuh, kekasih Namaha, tak sesetia rembulan. Nuh lebih memilih lautan. Namaha kembali membaca catatan lusuh itu.
 
Senin, 27 Des 2004, 15.30 WIB. Rumah tlh sunyi. Ank-ank kos sdh plg kpg. 2 yg msh bertahan. 1 blm berhasil menemukan adknya. 1 blm mendapatkan tiket ke Jakarta. Lula, Amra, dan pembantu telah kukirim dgn bus ke kpg. Nyak Wa plg kpg dng mobil mereka. Aku blh menggunakan slh 1 kamar kos yang telah kosong. Rmh benar-benar sunyi. Ttp tenang. Aku hrs berjalan kaki sejauh 5 kilo ke Lingke, mencari mayat si bungsu yg terlepas dr tangan pembantu, pagi kemarin. Aku tak melihat 2 penghuni kos lain. Mungkin sdg mencari adknya. Saat gempa besar, aku mengajak klg keluar rmh. Kami berteriak memanggil Tuhan. Tuhan tak menyahut. Sebuah rmh yang blm diplester ambruk. Kami menangis. Kemudian gempa berhenti. Kami bersyukur pada Tuhan yg menunda akhir dunia. Tidak ada korban jiwa. Tp itu baru permulaan. Aku hrs ke Lingke!
 
Setitik bening jatuh dari sudut mata Namaha. Sore itu Namaha telah berada di pengungsian. Mereka kekurangan air bersih dan makanan. Perutnya melolong minta diisi, matanya masih mencari satu sosok di antara orang-orang yang berlalu-lalang; Nuh, sang suami tercinta. Mereka terpisah kemarin, ketika air laut tumpah ke darat.
 
Namaha dan suaminya menyewa rumah dua kamar di Punge. Tiap Minggu pagi mereka berlari-lari kecil ke pantai Ulee Lhe untuk mandi di laut. Melihat laut menimbulkan ketenangan, membuka simpul-simpul rumit di kepala. Pagi itu mereka sudah sampai di pantai, dunia mulai bergoyang, air laut berkecipak; semua orang menyebut nama Tuhan. Namaha dan Nuh saling berpegangan. Gempa berakhir sepuluh menit kemudian.
 
Keduanya hendak meninggalkan pantai ketika seseorang berseru, ”Air laut surut!” Anak-anak, tua-muda, berlari mengambil ikan-ikan yang menggelepar. Namaha merasa hal buruk akan terjadi. Mungkin ia telah melupakan gejala alam yang didapat di sekolah dulu, yang menandai sebuah bencana besar, atau sekolah sama sekali tak pernah mengajari itu. Nuh mengajaknya pulang.
 
Belum seratus meter melangkah, suara pesawat tempur menderu dari laut. Begitu mereka berpaling, air sudah naik setinggi dua pohon kelapa dan menelan apa saja. Berpegangan tangan, mereka lari, lalu ujung ombak menyapu. Namaha tak bisa merasakan apa pun setelah itu. Saat sadar, ia sesak karena terjepit batang-batang pohon yang terbawa air. Melihat ada yang lewat di dekatnya, Namaha berteriak. Namun, suaranya tak keluar.
 
Beruntung, lelaki itu berbalik dan melihat Namaha. Lelaki itu menggeser kayu yang menjepit Namaha dan membantunya berdiri. Perempuan itu tak ingin percaya pada penglihatannya. Pohon-pohon tumbang, rumah-rumah roboh, seng dan kaca berserakan. Mungkin tangan malaikat jua yang menepis benda-benda itu dari Namaha.
 
Namaha harus menemukan Nuh. Ia berjalan tertatih di antara tubuh-tubuh sekarat yang tergeletak dalam lumpur. Orang-orang akan datang menolong mereka, membantu menemukan Nuh. Seluruh tubuh Namaha terasa nyeri, perutnya mual. Ia kemudian memuntahkan cairan hitam. Seorang lelaki membantu Namaha yang terhuyung dan membopongnya berjalan di antara puing-puing, menuju ke depan sebuah masjid. Lelah dan takut, Namaha sejenak lupa kepada Nuh, bahkan lupa menanyai nama penolongnya. Ia hanya ingin selamat.
 
Namaha menghapus air matanya. Ia kemudian mengambil kertas lusuh lainnya dengan acak.
 
Kamis pg, 30 Des 2004. Sgt lapar. Dr kemarin tak makan. Aku akan pergi ke pendopo. Mungkin di sana ada dapur umum. Aku harus bertahan sampai besok.
 
Catatan yang sangat pendek. Ada lingkaran-lingkaran tak beraturan di bawahnya. Namaha menghela napas. Hari keempat pascabencana, ia telah berada di Bandara Sultan Iskandar Muda, bersiap evakuasi ke Medan. Para pengungsi datang dari berbagai arah, ingin cepat-cepat meninggalkan tanah terkutuk ini.
 
Ketakutan kembali menghantui ketika Namaha duduk di bangku pesawat. Satu hari sebelumnya, pesawat yang hendak terbang menabrak seekor kerbau. Kecelakaan itu menghambat kepergian dan kedatangan pesawat lainnya. Beruntung, Hercules yang ditumpangi Namaha lepas landas tanpa kendala.
 
Sesampai di Kualanamu, Namaha mendengar azan Asar. Ia berjalan ke musala bandara dan merasa ada yang salah dengan orang-orang yang sudah berdiri untuk sembahyang. Matanya melirik panah yang menunjuk arah kiblat, orang-orang itu salat menghadap timur. Dan Namaha ikut berdiri di belakang mereka. Hatinya berkata, ia tidak akan kembali ke Banda Aceh.
 
Namaha mengambil kertas lainnya sambil menebak-nebak umur anak yang masih digendong oleh pembantu di rumah yang kamarnya ia sewa. Bocah itu pasti belum berumur 2 tahun.
 
Selasa sore, 28 Des 2004. Aku br kembali dr Lingke. Rmhku msh dipenuhi lumpur. Mayat-mayat yg kulihat sebelumnya masih ada di sana; telanjang. Tdk ada yg memindahkan atau menguburkan. Setiap org sibuk dgn urusan masing-masing. Di jln yg air bah tdk sampai; mobil, becak, sepeda motor dibiarkan begitu sj, tak ada bensin. Aku dokter, tp blm pernah melihat mayat sebanyak itu. Aku tidak menemukan mayat ankku. Oh, ankku yg sdh bisa memanggil ayah. Aku mencari dengan tangan dan kaki ke tiap sudut ruangan. Mungkin bsk hrs kucari di luar rmh. Aku kehabisan makanan, makanan terakhir cukup untuk makan mlm. Aku ingin memeluk ankku sekali lagi, Tuhan!
 
Lelaki yang menulis catatan-catatan ini ternyata seorang dokter. Namaha menyewa kamar ini selama satu minggu dengan harga sangat mahal dari pemilik rumah yang telah kembali.
 
Pada hari yang sama, Namaha berada di tenda pengungsian di depan masjid. Beruntung, cederanya tidak berat. Namaha melihat kematian-kematian di dekatnya karena tak sengaja meminum air laut bercampur lumpur. Juga karena terlambat mendapat pertolongan akibat patah tulang rusuk dan cedera berat lainnya.
 
Mereka dibaringkan di tenda di halaman masjid dengan pengobatan seadanya. Ia mendengar bahwa RS terendam lumpur. Listrik mati. Orang-orang mengantre untuk segera ditangani. Sementara jalur telekomunikasi terputus. Belum ada kabar dari Nuh, meski Namaha sudah bertanya kepada orang-orang yang ia kenal dan orang-orang yang tidak ia kenal di sekitar tenda.
 
Makanan semakin langka, beberapa orang berhasil membawa pulang bungkus mi yang terbawa gelombang. Sementara air minum semakin berkurang, PDAM mati, bayi-bayi menangis kelaparan. Menurut salah satu korban yang juga kehilangan rumah, besok mereka harus berjalan ke bandara. Kerusakan akibat bencana sangat parah sehingga tempat itu susah diakses. Dalam hatinya, Namaha berharap keluarganya di kampung aman. Tapi, tak satu pun dari mereka yang datang menemuinya. Namaha tersadar dari lamunan dan kembali membaca kertas lusuh lainnya.
 
Rabu, 29 Des 2004. Aku berusaha ttp waras. Td di jln, seorg laki-laki memotong jari mayat dan mengambil cincinnya. Aku ingat wajah pencuri itu. Tapi tak berusaha mencegahnya. Mungkin roh wanita malang itu tlh mengutukku. Aku blm berhasil menemukan mayat putraku. Plngnya, aku melihat seorang pemuda mengendarai motor sambil mengikat mayat ke badannya.Mungkin itu abg, adk, atau ayhnya….
 
Namaha pernah mendengar kepiluan dan kejahatan pada hari-hari setelah tsunami. Ia mencoba mengingat-ingat. Tanggal 29 Desember, ia sudah merasa lebih baik dan mulai berpikir untuk mencari Nuh. Ia keluar dari tenda pengungsian, menyusuri jalan menuju pantai. Belum seberapa jauh melangkah, ia melihat pemandangan yang membuatnya kembali teringat pada bencana Minggu pagi. Sampah-sampah dan mayat-mayat masih berada di jalan dan perempuan itu merasa air laut kembali akan naik, ia menjadi sulit bernapas dan duduk di atas trotoar kotor. Sebuah tangan menyodorkan air mineral, Namaha meminumnya beberapa teguk. Kemudian, sebuah mobil datang membagi-bagikan air mineral dan mi instan. Tangan pertama yang berhasil memegang kardus langsung memeluk barang itu dan membawanya pergi, abai pada mata-mata lain yang juga kehausan dan kelaparan. Saat yang lain saling berebut air mineral dan mi instan, Namaha segera meninggalkan tempat itu.
 
Tengah malamnya di pengungsian, mereka mendengar seseorang berteriak, ”Air laut naik lagi!” Orang-orang berlarian tanpa arah, mengulangi apa yang mereka lakukan Minggu pagi lalu. Salah seorang relawan berusaha menenangkan mereka dan mengatakan bahwa teriakan itu dilontarkan orang tak bertanggung jawab. Para pengungsi mengabaikannya. Mereka kembali berlari. Berlari ke arah bandara. Namaha salah satu dari orang-orang yang panik dan ikut berlari. Mereka terus berlari, abai pada lecet dan rasa sakit, sampai mata mereka melihat pintu gerbang Bandara Iskandar Muda.
 
Namaha menyusun kertas-kertas lusuh tersebut sesuai tanggal penulisan. Tetapi tetap tak berhasil menemukan kertas bertanggal 31 Desember 2004. Padahal, pada 30 Desember 2004 lelaki itu mengatakan akan bertahan sampai besok. Mungkin ia lelah atau sudah menemukan mayat anaknya.
 
Tangan Namaha meletakkan kembali kertas-kertas lusuh catatan lelaki yang sempat tinggal di kamar itu. Ia naik ke tempat tidur dan memejamkan mata. Betapa berat hari-hari yang dilalui keluarganya saat mencari keberadaan Namaha dan suaminya sebulan lalu. Rumah yang mereka sewa sudah tak berbekas. Tersisa pohon mangga di sudut halaman sebagai penanda. Keluarga Namaha tinggal di Nagan. Sementara keluarga suaminya tinggal di Kaju, salah satu daerah yang diratakan tsunami. Besok pagi Namaha akan pergi ke pantai Ulee Lhe, di mana kali terakhir ia melihat suaminya. Seperti sang nabi, Nuh telah pergi mengarungi laut dengan membawa serta seluruh keluarga, kecuali istrinya.
 
Idi, 21 Maret 2019
 
*) Ida Fitri, lahir di Bireuen, Aceh, tanggal 25 Agustus. Kumcer pertamanya berjudul “Air Mata Shakespeare” terbit tahun 2016, dan kumcer keduanya bertajuk “Cemong” terbit di tahun 2017. 

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt