Selasa, Oktober 04, 2011

Saya (bangga) Orang Madura *

Salamet Wahedi **
http://sastra-indonesia.com/

Syahdan, lelaki itu gugup dan gemetar menginjakkan kakinya di tanah luar tumpah darahnya. Tak hanya keasingan yang menyergap. Seribu bayangan berkelebat. Mereka menyeringaikan gigi tajam. Mereka membisikkan doa dan mantra, serta kutukan. Mereka yang bernama domba-domba kemanusiaan dan kebudayaan.

Bertahun, lelaki itu terkurung dalam seringai domba kebudayaan. Sekadar menyebut nama, apalagi tanah kelahiran, dia begitu gemetaran. Dirinya takut dihujat. Dijauhi. Dipandang sinis. Dan yang paling ditakutinya, dirinya diolok-olok: wuih, para pembunuh.

Lelaki itu lahir di abad elektronik yang berguncang. Dia sendiri belum paham kenapa kelebat bayangan itu mencekam. Mereka seperti bayang-bayang dirinya. Seperti siaran televisi yang mengeksodus ke sel-sel rumah. Sel-sel otak.

Lelaki itu tumbuh tanpa ingatan. Kini, dia mesti mencari dan mengabarkannya.

***

Suatu malam dia melenguh. Di tangannya ‘mata blater’ memandangnya. Matanya kikuk. Berulang dia pastikan: cerpen-cerpen ini membawa spirit warna lokal. Menerjemahkan keberaksaraan dan kebermaknaan tradisi tanah kelahirannya: carok. Dia bergidik. Dan dia teringat, kini saatnya untuk berdialog. Mengabarkan hakikat carok bagi tanah-masyarakatnya.

‘mata blater’ di tangannya memiliki arti, pertama sebagai ruang ungsi. Di sinilah, dia akan mengungsikan segala ketakutan dan kekhawatirannya. Dia akan mengikuti saran kafka, di buku inilah segala kengerian itu akan ditumpahkannya. Sehingga carok, tak harus dipahami kekerasan semata. Carok menginginkan sikap jantan dan kesatria.

Kedua, sebagai referensi ingatannya. Dia sadar, sebagai anak abad elektronik, telinganya pengap dan pekak gemuruh mesin dan bising dentam pembangunan. Dengan mata blater, dia berharap awan kegamangan segera menyisih. Eksistensi diri yang lama kecut, kembali lagi.

Dari beberapa cerpen yang terkumpul, dia sangat suka mata blater. Dia suka gaya madrusin yang menunjukkan cirri khas carok: tegas dan jantan, tapi tak harus saling membunuh. Meski dia dikenal sebagai blater, biang kerok kerusuhan dan perjudian, dia tetap memegang teguh prinsip hidup lebih baik putih tulang dari pada putih mata dengan teguh. Dia tak perlu mengeluarkan kekuatan dan kekuasaan ke-blater-annya demi mendapatkan Sati.

Sikap ksatria dan jantan Madrusin, dalam tradisi carok dapat diluhat pada sikapnya yang dengan tenang mendatangi keluarga Sati,

“…pelan-pelan Madrusin mengeluarkan sebilah celurit dari balik punggungnya. Lalu, dengan celurit itu dipotongnya tiga helai rambut Sati, yang kemudian dimasukkannya ke dalam cangkir kopi…

“lalu, Madrusin mengambil kembali ketiga helai rambut Sati dari dalam cangkit Kopi, dan ditaruhnya persis pada gagang celurit.

Madrusin tak perlu membabi buta membuat onar atau membunuh orang demi mendapatkan Sati. Madrusin hanya memberikan tantangan yang tenang dan sopan, tapi membutuhkan nyali yang besar untuk melakukannya.

Sedang dalam cerpen ‘Bulan SElaksa Celurit, Kerabhan Sape, Eppak, dan Tandak, lelaki itu mendapatkan lanskap riuh-suram keangkuhan dan harga diri. Seorang Gani, demi mendapatkan prestise sebagai pangerrap yang handal rela menaruhkan anaknya, Asnain. Sayangnya, keangkuhan Gani bertepuk sebelah tangan. Madrusin (dalam cerpen Bulan selaksa Celurit) dengan lugas membentak balik. Bahkan dengan cekatan Madrusin dapat menangkap sabetan keangkuhan celurit Gani dan merubuhkannya ke tanah (halaman 10). Ada keangkuhan (Gani) sekaligus keluhuran (Madrusin) yang beradu dalam cerpen.

Egoisme atau keangkuhan juga dapat dilihat pada keputusan Lubanjir membunuh sapinya dan mengusir anaknya (cerpen Kerabhan Sape). Gara-gara sapi kerrapannya kalah, Lubanjir merasa harga dirinya terinjak. Seperti perih luka sapi, dia meradang. Menebaskan celuritnya pada sepasang sapinya (halaman 22).

Sedang dalam Eppak dan Tandak, sikap Lubanjir yang membunuh mertuanya dan Madrusin yang menebar ancaman pada Mahwani, merupakan cederanya ‘harga diri’ yang angkuh. Sayangnya, keangkuhan ini bermuara pada tindak negatif. Sejenak, hal ini pun serta merta dikaitkan dengan carok. Ah, alangkah tak adil dan naifnya. Kejahatan yang berangkat dari ambisi, ego, serta ketakrasionalan dicampur baurkan dengan tradisi.

Selain mengusahakan menerjemahkan dan menjernihkan esensi carok, ‘mata blater’ juga memuat arti penting sapi dan mulai punahnya situs-situs lokal. Sapi, bagi masyarakat madura tak hanya sekadar hewan piaraan untuk berladang. Sapi, dengan budaya kerrapan dan ajang ‘kecantikan’ sapi, juga menjadi simbol prestise. Selain blater, pangerrap di sebagian mata masyarakat madura memiliki tempat yang cukup disegani. Sebab, dalam pelaksanaan kontes kerrap dan sapi sonok, sebagaian besar peserta adalah orang yang beruang. Dengan demikian dapat dibayangkan, pemenang dalam dua kontes ini dapat digolongkan yang ‘mampu’, baik secara material maupun mistikal.

Maka tak heran, dua kontes sapi ini juga menjadi ajang mendapatkan prestise. Sehingga tak jarang, dalam perhelatannya, juga menyiskan bau amis darah. Dalam ‘mata blater’, cerpen Kerabhan Sape, sapi sonok dan Bulan SElaksa Celurit, mendeskripkan secara unik. Unik karena demi mendapatkan kemenangan sapinya, seseorang semisal Gani (Bulan SElaksa Celurit), siap mempertaruhakn Asnain, putrinya, asal sapi ayah Madrusin tak ambil bagian; atau kegeraman Lubanjir (Kerabhan Sape) terhadap sapi kerrapnya yang kalah. Sedang perang mistik atau magic untuk kemenangan sapi dapat disaksikan dalam cerpen sapi sonok. Tokoh Santap dibantu dukun Dulakkap perang sihir dengan Madrusin. Sapi sonoknya Madrusin, Si Rattin, yang dielu-elukan, tiba-tiba menyeruduk tubuh Santap. Santap pun, secara ajaib kesurupan. Kegilaan perang ajaib ini ditutp dengan adegan liar madrusin: menyetubuhi si Rattin.

Kepunahan situs-situs lokal dalam ‘mata blater’ hadir dengan isyarat. Nyai Marfu’ah (tokoh sentral cerpen Kasur Pasir), sedikit menjadi tokoh yang mewakili masyarakat tradisional. Dengan kegigihannya dia coba menjajakan pasir putih sebagai alas tidur. Namun, datangnya sampah plastik, kebijakan pemerintah meratakan buki pasir, lambat laun mendesak lahan garap hidupnya. Isyarat akan punahnya situs lokal dalam cerpen ini diketengahkan dengan titik tangkap yang tepat: Nyai Marfu’ah mengambil pasir di tepi kuburan. Isyarat yang kurang lebih menyatakan, kearifan lokal kita telah mendekati liang lahat.

Sampai di sini lelaki itu, teringat kata-kata yang menyatakan karya sastra berangkat dari realitas masyarakatnya. Dia melenguh. Alangkah muskilnya memahami manusia dan budayanya. Sayangnya, kemuskilan ini menjelma pola pikir antemkromo. Generalisir yang memuakkan: madura keras dan kejam. Bertahun dia merasakan stigma yang ditimpakan pada tanah kelahirannya itu, bak jalin kelindannya cerpen “nyanyian Perempuan Sunyi”. Perempaun yang dikira tukang santet. Padahal itu semua berangkat dari kasak-kusuk tak jelas. Sungguh suasana yang remang.

Padahal? Ah, dia juga teringat bahwa buku di tangannya juga ingin berbicara tentang kenangan akan situs yang telah hilang (Ojhung), kegelisahan manusia memahami pilihan hidup (Careta Panandhak) atau rahasia perselingkuhan manusia yang kadang tak terungkap (Barana).

Lelaki itu kini berdiri di ambang batas: antara kegelisahan masa lalunya dan gemuruh abad digital. Di tangannya mata blater menatapnya. Mata blater begitu tajam mengajaknya: diskusi, dan bercerita panjang lebar tentang tanah kelahirannya, masyarakatnya, dan kebudayaan yang tak dikenalnya.

Lelaki itu kini mantap, dia ingin menyebut namanya dengan jelas. Mengenalkan tanah kelahirannya dengan bangga. Dan kalau ada yang bertanya tentang stigma itu, dia akan mengatakan: kekerasan terjadi di mana-mana. Sejak nabi adam hingga kini. Kekejaman adalah salah satu sifat kita, manusia.

Lelaki itu, dua puluh tahun lalu lahir tanpa ingatan. Kini, di tangannya, Mata Blater memberinya kabar tentang siapa dirinya: saya (bangga) orang madura. Eh, maaf, saya bangga memiliki kebudayaan.
__________________
* Makalah ini disampaikan dalam acara GELADAK SASTRA # 11, BEDAH ANTOLOGI CERPEN: “ MATA BLATER”, Karya MAHWI AIR TAWAR. Hari : Jum’at, tanggal : 10 Desember 2010. Pukul : 13.00 -16.00 WIB. Tempat : Aula KH. M. Yusuf Hasyim Lt. III, Pesantren Tebuireng Jombang.
** Salamet Wahedi, Cerpenis asal Madura

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt