Sabtu, September 24, 2011

Sebuah Cerita : Flashback

Dody Kristianto *
http://sastra-indonesia.com/

Bila dalam proses kreatifnya Afrizal Malna menyatakan bila ia seorang yang negatif, maka saya akan mencoba untuk positif. Tentu saya berpositif terhadap tulisan yang saat ini sedang berada di hadapan para pembaca sekalian. Positif dalam arti saya tak ingin berumit-rumit dan beraneh-aneh dalam tulisan ini. Artinya saya mencoba untuk berbincang gamblang dan membuka perihal mengenai proses yang saya alami. Meski saya tahu, jika gamblang dalam kacamata saya belum tentu bagi para pembaca.
Sesungguhnya tulisan ini harus dinamai sebagai sebuah tulisan proses kreatif (sesuai tuntutan panitia). Tapi tidak. Saya tidak bernyali untuk memproklamirkan tulisan ini sebagai sebuah proses kreatif. Bisa jadi ia malah melantur ke sana ke mari, mengigau mirip orang mabuk, berteriak di segala tempat. Ujung-ujungnya pembaca akan tersesat dari jalan lurus menuju lorong pengap berliku.

Tapi tak apalah…. Anggap saja saya sedang mendongeng, bercerita mengenai sedikit dari masa lalu saya.

Maka membincang mengenai proses kreatif adalah hal yang bersifat personal. Setiap orang memiliki dunia, latar belakang dan ”kecelakaan” masing-masing. Bahkan secara ekstrim Sutardji Calzoum Bachri hanya membubuhkan titik-titik pada proses kreatifnya. Bisa jadi proses kreatif adalah sebuah hal yang tak terkatakan. Lalu bagaimana dengan beberapa tulisan pada buku antologi tunggal beberapa penyair yang pernah saya baca? Bisa jadi beberapa penyair sedang mengurai alur mundur proses kepenyairannya.

Sebutlah beberapa nama yang pernah saya nikmati perihal “proses kreatif”nya : Afrizal yang tergerak untuk membahasakan energi benda-benda yang bersliweran di sekitarnya, Mardiluhung yang menemu titik temu antara eksotisme masa kanak-kanak dalam komik dengan puisi-puisi Tardji serta kehidupan khas pesisir, atau mungkin Warih Wisatsana yang digoda oleh perasaan tersisih karena tak memunyai lingkungan dominasi yang jelas. Juga beberapa penyair semacam Faisal Kamandobat, Pranita Dewi, Mochtar Pabotingi maupun Indra Tjahyadi.

Yang jelas, ada satu motif yang mengikat mereka dalam mendedahkan proses kreatifnya : obsesi pada masa lalu. Seperti seorang kawan yang saat ini “menjabat” sebagai paus sastra facebook, Heru Susanto yang menulis puisi sebagai upaya untuk menebus kesalahan di masa lalu, yakni alpa menulis perihal kehidupannya pada buku harian.

Mau tidak mau saya harus memutar ingatan saya kembali. Apakah dalam petualangan kembali ke masa lalu, saya menemu titik temu atau tidak dengan proses yang saya jalani sekarang.

Saya tidak lahir pada keluarga yang memiliki darah seni. Mungkin keluarga saya hanya keluarga biasa yang suka mendengar lagu-lagu langgam jawa maupun keroncong. Tapi ada yang saya ingat ; mereka senantiasa membacakan dongeng pada saya sebelum tidur. Dan mereka membaca dongeng itu tanpa membaca buku teks sama sekali. Jadi, dongeng yang mereka bacakan murni karena hasil ingatan turun temurun (saya baru menyadari saat ini jika mereka mungkin adalah pelaku sastra lisan). Dan, saya rajin menghayalkan apa yang mereka dongengkan. Jadilah dody kecil sebagai anak yang memunyai daya khayal cukup gila.

Saya menyenangi diri saya di masa kecil. Sebab saya akhirnya terbiasa menjadi anak yang suka membaca. Catatlah majalah-majalah anak-anak semacam Bobo, Mentari, Ananda, Hoopla (almarhum) pernah saya baca. Cerita-cerita dalam majalah itu turut merangsang daya imajinasi saya.

Lalu dengan puisi? Ini yang saya herankan. Sebenarnya saya (mungkin) kurang tertarik dengan puisi. Karena ketika ada PR membuat puisi, saya tak pernah bisa mengerjakan tugas ini.

Kalau perkenalan dengan puisi? Bisalah puisi Toto Sudarto Bachtiar yang berjudul ‘ Pahlawan Tak Dikenal’ menjadi gerbang. Mengapa? Karena ada kata ‘sayang’ dalam puisi itu (sepuluh tahun yang lalu ia terbaring/ tetapi bukan tidur sayang/ sebuah lubang peluru bundar di dadanya/ senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang). Bagi saya yang (kalau tidak salah) masih kelas empat SD, kata ‘sayang’ adalah kata yang amat genit. Dan saya merasa aneh dengan teks semacam ini.

Lalu kebiasaan beriseng-iseng ria dengan puisi ini berlanjut ketika SMP. Saya saat itu rajin untuk menyalin puisi-puisi dalam buku teks pelajaran Bahasa Indonesia ke dalam buku harian saya. Hal itu saya lakukan semata-mata karena saya tidak ingin kehilangan puisi-puisi tersebut. Tentunya patut dicatat bila dalam buku-buku pelajaran itu ada juga gambar yang menyertai setiap teks puisi. Setelah saya melihat gambar yang menarik, saya juga tertarik dengan puisi di dalamnya.

Hasilnya lumayan. Dari buku harian butut itu saya mengenal Rendra, Sapardi Djoko Damono, Ramadhan KH, Sanusi Pane, Amir Hamzah, dan beberapa penyair yang lain. Saya mulai jatuh cinta. Terutama pada “gambar ilustrasi” dalam puisi’Tanah Kelahiran’ Ramadhan KH. Saya juga menghubungkan gambar tersebut dengan lirik puisinya : Seruling di ipis, merdu/ antara gundukan pohon pina/ tembang menggema di dua kaki/ Barangrang-Tangkubanprahu// Jamrut di pucuk-pucuk/ Jamrut di air tipis menurun… terus terang saya jadi membayangkan keelokan alam yang ditulis oleh Ramadhan KH. Saya jadi tertarik oleh pesona tanah Pasundan, meski melalui puisi.

“Kecelakaan” dating kala saya menginjak kelas dua SMA. Saat itu saya membaca puisi (yang oleh Binhad Nurohmat) sebagai puisi Mazhab Gapus. Tepatnya saya membaca puisi Mashuri yang berjudul ‘Seperti Khidir’ : di atas rumpun bambu/ duri-duri memberi mimpi/ tentang rasa sakit,/ berdarah dan ketakutan untuk melangkah. Atau juga puisi Dheny Jatmiko ‘Hujan III’ : bapak,/ malaikat-malaikat/ merangkum darah/ darah kemungilanku/ dengan tusukan/ dan kutukku/ melebihi dendam ikan/ di antara hujan. Puisi-puisi itu saya baca secara kebetulan di salah satu media di Surabaya. Dan tak hanya puisi dua orang itu, saya juga membaca puisi F Aziz Manna dan Deny Tri Aryanti juga di media yang sama. Di kemudian hari, saya mengetahui bila mereka tergabung dalam satu komunitas.

Apa yang saya baca pada puisi-puisi penulis puisi tersebut benar-benar berbeda dengan yang saya dapat di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Membaca puisi para penulis puisi tersebut, imajinasi saya yang liar seolah mendapat tempat. Dan saya mulai gemar menulis puisi (atau tepatnya sesuatu yang saya klaim sebagai puisi). Meski puisi yang saya tulis ketika SMA lebih didasarkan pada perasaan saya. Pada hal-hal yang saya alami dan amati. Dan tentu masih sangat mentah dan masturbatif.

Lalu ketika SMA pula saya berpikir untuk melanjutkan pendidikan saya ke Sastra Indonesia. Barangkali di jurusan itu saya dapat lebih sering menulis puisi dan mengetahui cara menulis puisi yang baik dan benar.

Alangkah kecewanya saya (hal ini mungkin juga dialami oleh kawan-kawan saya semacam Fauzi atau pun Bang Taqin). Bahwa di ruang perkuliahan, saya tidak mendapatkan perkuliahan mengenai cara menulis puisi. Jadinya saya mulai berhenti untuk menulis puisi dan lebih suka berkutat dengan materi-materi linguistik.

Satu ketika, waktu BEM JBSI Unesa mengadakan pameran puisi, secara tidak sengaja saya membaca puisi kawan Angga Priandi :

AKU TERPAKSA MENUNDA KEMATIAN

Hanya begitu. Dan entah mengapa saya begitu tertarik oleh sajak Angga tersebut. Maka saya mulai menulis puisi kembali. Dan imajinasi untuk menulis liar juga sekonyong-konyong bergolak. Saya akhirnya larut untuk menulis puisi yang gelap (atau tepatnya saya gelap-gelapkan). Hal ini berlangsung selama setahun sampai akhirnya saya berkenalan dengan Bang Alek Subairi maupun Cak Muttaqin di Komunitas Rabo Sore (KRS).

Di komunitas itulah saya mulai belajar untuk membenturkan puisi-puisi saya dengan pendapat kawan-kawan yang sebelumnya memiliki jam terbang tinggi di ranah dunia penulisan. Saya mendapat pelajaran bila puisi yang saya tulis saat itu terlalu membabi buta dan tidak terkendali.

Saya kemudian menyadari bila perlu untuk mengontrol imaji. Sebab puisi-puisi saya hanya berupa karnaval imaji yang bertabrakan tidak terkontrol. Hal inilah yang kemudian membuat saya menulis cerpen. Mengapa? Karena dari cerpen saya bisa mengontrol imaji dan membuat suatu alur jelas terhadap imaji saya. Jadi saya menulis cerpen untuk menyeimbangkan diri.

Beberapa kawan (saat itu) ada yang mengaitkan puisi-puisi saya dengan Indra Tjahyadi, W Haryanto, maupun Kriapur. Saya berpikir hal tersebut cukup wajar. Karena seorang penyair pasti diciptakan oleh penyair pendahulunya. Hal ini seperti yang pernah saya pikirkan bila tidak ada orisinalitas. Orisinalitas pertama mungkin kitab suci yang diciptakan oleh Tuhan dan diwahyukan pada nabi-nabi.

Bila ditelisik, saya menemu jejak Kriapur pada puisi-puisi Indra Tjahyadi maupun W Haryanto. Begitu juga pengaruh Goenawan Mohamad yang saya rasakan pada puisi-puisi Kriapur. Dan bila ditelusuri saling memengaruhi ini adalah sesuatu yang wajar adanya dan lumrah. Bahkan “saking” lumrahnya, saling pengaruh ini bisa mewujud menjadi plagiator, epigon, pengikut dan hal-hal sebangsanya. Sebab, penyair memang menjadi penyair karena membaca penyair lain atau penyair terdahulu.

Sebagai rekan satu komunitas, jujur saya juga kagum dan sedikit banyak terpengaruh oleh puisi-puisi Muttaqin. Tapi di sisi lain, saya tentu tak bisa membiarkan keliaran yang ada pada diri saya meluap. Sebab keliaran itu saya yakini sebagai potensi yang telah saya miliki sebelumnya.

Sebagai jalan tengah, saya mencoba bagaimana sesuatu yang liris melantur semacam puisi-puisi Muttaqin saya pertemukan dengan keliaran yang mengendap pada diri saya. Hal ini saya rasakan sebagai hal yang positif dan negative. Di satu sisi, saya bisa terus berkembang tanpa harus terkungkung oleh satu estetika tertentu. Dengan demikian, saya bisa terus mengeksplorasi bentuk. Akan tetapi di sisi lain, saya turut dituding tidak memiliki konsistensi. Puisi-puisi saya terkadang tampil manis. Tapi kadang pula sangat liar dan gelap. Apa boleh buat. Tapi saya memakluminya karena saya masih merasa awam dalam tulis menulis puisi. Tentu pengaruh-pengaruh dari luar yang cukup menggoda saya akan terus saya dalami. Sebab saya tidak ingin berhenti pada satu titik saja. Dan jalan ke depan (bisa jadi) masih sangat panjang.

*) Dody Kristianto, anggota Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Group Wisata Kuliner Warung Door To Door!

NB : tulisan ini saya buat sebagai proses kreatif saya. tulisan ini juga termuat pada kumpulan puisi Rumah Kabut yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Surabaya tahun 2009. Antologi Rumah Kabut juga merupakan salah satu rangkaian antologi acara Halte Sastra.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt