Pemikiran Keindonesiaan dalam Sastra
Benny Benke
http://suaramerdeka.com/
Sebagai pengawal Bienal Sastra Internasional Utan Kayu-Salihara 2011, Komunitas Salihara akan mengadakan seri kuliah umum bertema "Pemikiran Keindonesiaan dalam Sastra".
Kuliah umum pertama itu, sebagaimana rilis Komunitas Salihara (6/9) akan membahas topik "Pramoedya dan Pemikiran Kebangsaan" dengan pembicara Ignas Kleden. Pembacaan atas pemikiran salah satu sastrawan Indonesia itu, akan diselenggarakan di Teater Salihara pada hari Rabu (14/9), mulai pukul 19.00. Kuliah umum ini bersifat rangkaian. Terbuka untuk umum.
Merujuk peristiwa pada 1928, para pemuda menyelenggarakan Kongres Pemuda II di Jakarta, sebuah peristiwa yang ternyata sangat bermakna bagi perjalanan bangsa Indonesia. Sebuah warisan penting Kongres itu adalah Sumpah Pemuda yang antara lain mendeklarasikan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Sejak itu, pemikiran-pemikiran mengenai kebangsaan dan kemerdekaan perlahan-lahan mulai dituliskan dan diperdebatkan dalam bahasa Indonesia. Bersamaan dengan itu pula, sastra berbahasa Indonesia mulai ditulis dengan kesadaran kebangsaan yang pelan-pelan mengubah bahasa Melayu Pasar menjadi bahasa yang sekarang berlaku di Indonesia.
Bahasa dan sastra Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pemikiran mengenai keindonesiaan. Sastra Indonesia mengusung pemikiran mengenai keindonesiaan, dari zaman ke zaman. Seperti nama Kwee Tek Hoay, Chairil Anwar, Idrus, Sutan Takdir Alisjahbana, Suwarsih Djojopuspito, Pramoedya Ananta Toer, Mangunwijaya, dan begitu banyak nama lainnya.
Diantara nama penting itu, kali ini, Ignas Kleden membaca Pramudya via kacamata pemikirannya.
06 September 2011
Benny Benke
http://suaramerdeka.com/
Sebagai pengawal Bienal Sastra Internasional Utan Kayu-Salihara 2011, Komunitas Salihara akan mengadakan seri kuliah umum bertema "Pemikiran Keindonesiaan dalam Sastra".
Kuliah umum pertama itu, sebagaimana rilis Komunitas Salihara (6/9) akan membahas topik "Pramoedya dan Pemikiran Kebangsaan" dengan pembicara Ignas Kleden. Pembacaan atas pemikiran salah satu sastrawan Indonesia itu, akan diselenggarakan di Teater Salihara pada hari Rabu (14/9), mulai pukul 19.00. Kuliah umum ini bersifat rangkaian. Terbuka untuk umum.
Merujuk peristiwa pada 1928, para pemuda menyelenggarakan Kongres Pemuda II di Jakarta, sebuah peristiwa yang ternyata sangat bermakna bagi perjalanan bangsa Indonesia. Sebuah warisan penting Kongres itu adalah Sumpah Pemuda yang antara lain mendeklarasikan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Sejak itu, pemikiran-pemikiran mengenai kebangsaan dan kemerdekaan perlahan-lahan mulai dituliskan dan diperdebatkan dalam bahasa Indonesia. Bersamaan dengan itu pula, sastra berbahasa Indonesia mulai ditulis dengan kesadaran kebangsaan yang pelan-pelan mengubah bahasa Melayu Pasar menjadi bahasa yang sekarang berlaku di Indonesia.
Bahasa dan sastra Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pemikiran mengenai keindonesiaan. Sastra Indonesia mengusung pemikiran mengenai keindonesiaan, dari zaman ke zaman. Seperti nama Kwee Tek Hoay, Chairil Anwar, Idrus, Sutan Takdir Alisjahbana, Suwarsih Djojopuspito, Pramoedya Ananta Toer, Mangunwijaya, dan begitu banyak nama lainnya.
Diantara nama penting itu, kali ini, Ignas Kleden membaca Pramudya via kacamata pemikirannya.
06 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar