Minggu, Juli 10, 2011

Gambaran Masyarakat dalam Cerpen “Badai dalam Secangkir Teh”

Alvi Puspita
Riau Pos, 3 Juli 2011

Pembuka

“Badai dalam Secangkir Teh” (Storm in a Teacup [1920]) merupakan salah satu cerpen Lu Xun yang tergabung dalam kumpulan cerpen Catatan Harian Orang Gila, yang diterbitkan Jalasutra pada tahun 2007. Cerpen-cerpen dalam buku ini diambil dari Lu Hsun Selected Stories WW Norton & Company Inc yang diterjemahkan oleh Pipit Maizier. Terdapat 18 cerpen dalam kumpulan ini yang ditulis Lu Xun pada rentang 1918-1926. Rentang waktu tersebut di Cina merupakan saat-saat yang berarti dalam perubahan sejarah Cina, ketika revolusi Cina sedang berkobar.
Lu Xun sendiri merupakan salah satu sastrawan besar Cina Abad 20 yang dikatakan sebagai pelopor sastra modern Cina. Selain sastrawan, Lu Xun juga dikenal sebagai seorang pemikir dan revolusioner yang sempat dipuji-puji oleh komandan tertinggi Revolusi Kebudayaan Cina, Mao Zedong. Lu Xun, yang nama aslinya adalah Zhou Shuren, lahir pada tahun 1881 di Desa Shaoxing, Provinsi Zhejiang dan meninggal karena penyakit tubercolosis pada tahun 1936.

Membaca cerpen-cerpen dalam kumpulan ini maka kita tidak bisa tidak terlepas dari gambaran masyarakat yang terkandung di dalamnya yang bisa pula kita tarik sebagai salah satu kacamata untuk melihat masyarakat sesungguhnya di luar karya pada masa itu, pun juga masyarakat pada masa sekarang di tempat yang berbeda (yang bukan masyarakat Cina). Hal ini mungkin berhubungan dengan ideologi kepengarangan seorang Lu Xun yang dapat kita lihat dari kutipannya pada kata pengantar, “ketika cerpen-cerpenku dicetak ulang dalam satu koleksi, dengan berbagai alasan, aku telah memilih judul yang semoga saja tepat : Na Han (Panggilan Berjuang).

Dari kutipan tersebut maka kita dapat melihat bahwa Lu Xun memilih sastra sebagai salah satu alat perjuangannya dalam membela rakyat tertindas (masyarakat Cina pada waktu itu). Oleh karenanya, untuk mencoba membaca karya Lu Xun lebih jauh, penggunaan kacamata sosiologi sastra terasa menarik, yaitu kacamata yang melihat sastra sebagai produk masyarakat. Sebagai mana yang dikatakan Sapardi Djoko Damono (2003:3) bahwa pendekatan sosiologi sastra mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan dalam karya sastra dengan menggunakan analisis teks untuk mengetahui strukturnya, untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang di luar sastra.

Berdasarkan hal tersebut, maka tulisan ini mencoba membahas salah satu cerpen Lu Xun, “Badai dalam Secangkir Teh”. Walaupun sebenarnya saya tertarik untuk membahas semua cerpen-cerpen Lu Xun dalam kumpulan ini, tapi saya hanya membatasi pada satu cerpen saja, yang menurut saya isi di dalamnya cukup relevan untuk kita perbincangkan pada saat sekarang. Gambaran masyarakat seperti apakah yang terdapat dalam cerpen ini?

Gambaran Masyarakat dalam “Badai dalam Secangkir Teh”

Dari keseluruhan cerita yang terdapat dalam cerpen ini, dengan melihat karakter masing-masing tokoh, hubungan antar tokoh, dialog-dialog yang dikeluarkan oleh para tokoh, serta masalah yang terdapat dalam alur cerita, maka menurut saya terdapat beberapa gambaran masyarakat di dalamnya yang bisa dibagi menjadi tiga persoalan, yaitu persoalan kacamata generasi, masyarakat baling-baling dan intelektual pelacur. Berikut penjelasan atas masing-masing hal tersebut :

Persoalan Kacamata Generasi

Kalau dilihat dari tokoh-tokoh yang terdapat dalam keluarga Si Tujuh Pon, maka keluarga ini semacam miniatur sebuah negara atau katakanlah miniatur sebuah peradaban yang terdiri dari berbagai generasi. Nyonya Sembilan-pon Tua yang berusia 79 tahun mewakili generasi tua. Tujuh-pon dan istrinya mewakili generasi kini pada saat itu, dan anak si Tujuh-pon, si Kecil Enam-pon mewakili generasi yang akan datang.

Nyonya Sembilan-pon Tua memiliki kebiasaan mengeluh dengan mengulangi kalimat yang sama “Ya, sungguh! Setiap generasi lebih buruk daripada generasi sebelumnya!” Kebiasaan Nyonya Sembilan-pon Tua yang seperti ini, dikatakan oleh si penulis yang bersudut pandang orang ketiga dalam cerpen, dimulai sejak Nyonya Sembilan-pon Tua berulang tahun yang ke-50. Semenjak itu dia berangsur-angsur menjadi seorang pencari kesalahan yang selalu berkata bahwa di masa mudanya, musim panas tidak begitu panas atau kacang polong tidak sekeras sekarang. Singkatnya, ada sesuatu yang keliru dengan dunia masa kini.

Suatu ketika, pada sebuah hidangan makan malam di musim panas, dengan lantang si Nyonya Sembilan-pon Tua berujar, “Aku hidup sampai usia tujuh puluh sembilan tahun. Bagiku itu cukup panjang. Aku tidak suka menyaksikan semuanya berubah menjadi anjing-anjing. Labih baik aku mati saja….” Si Enam-pon Kecil yang mendengar kecerewetan nenek buyutnya itu lari ke tepi sungai dan menyembunyikan diri di belakang sebuah pohon tallow sambil berteriak keras, “Orang tua yang tak pernah mati!” Sedangkan Nyonya Tujuh -pon, cucu menantu Nyonya Sembilan-pon Tua, punya cara sendiri menjawab gerutuan Nyonya Sembilan-pon Tua dengan balik menggerutu, “ Kau mulai lagu Enam-pon memiliki berat enam pon lima ons lahir, bukan? Keluargamu menggunakan timbangan-timbangan pribadi yang merupakan timbangan ringan, delapan belas ons sampai satu pon. Dengan timbangan enam belas ons saja, Enam-pon pasti melebihi tujuh pon. Aku tidak percaya kalau kakek dan ayah benar-benar memiliki berat sembilan pon penuh maupun delapan pon. Mungkin mereka menggunakan timbangan empat belas ons kala itu…”

Tiga tokoh tersebut, menurut hemat saya mewakili masing-masing generasi dengan kacamata masing-masing terhadap situasi kekinian. Nyonya Sembilan-pon Tua mewakili generasi tua dengan kacamata romantisme masa lalunya serta kegamangan dan kegelisahan untuk masa yang lebih baik. Yang ia lakukan hanya mengeluh dan mengulang-ulang masa lalu namun tanpa memberi solusi pasti atau paling tidak berbagi pandangan untuk masa kini yang lebih cerah. Kerjanya hanya menghakimi dan menyalahkan. Walau keresahannya itu beralasan dan bisa diterima karena melihat situasi Cina saat itu yang sedang dalam masa revolusi, tetapi kaum mudanya malah kebanyakan tidak mau tahu-menahu dan kaum intelektualnya pun lebih bersifat pragmatis dan mengejar keuntungan diri sendiri saja. Tapi adakah sekedar menggerutu dan selalu mengingat-ingat masa lalu dapat menyelesaikan masalah?

Nyonya Tujuh-pon yang mewakili generasi saat itu (generasi kini), memiliki kacamata skeptis terhadap masa lalu. Ia meragukan perkataan Nyonya Sembilan-pon Tua karena walau bagaimanapun ada keberjarakan ruang dan waktu antara cerita-cerita yang dilagukan Nyonya Sembilan-pon Tua dengan masanya Nyonya Tujuh-pon sehingga ada ruang untuk meragukan dan menyangsikan. Namun, sikap skeptis yang mengarah kesikap kritis tanpa disertai semangat membangun sesuatu yang lebih baik apalagi lebih memilih pula sikap pragmatis, tentu juga tidak cukup dan sama sia-sianya dengan kacamata romantisme masa lalunya si Nyonya Sembilan-pon Tua. Keadaan tetap tidak akan berubah dan akan seperti itu juga. Hanya tinggal menjalani saja.

Dan si kecil Enam-pon adalah simbol harapan. Ia berkata lantang walaupun masih sambil sembunyi di belakang pohon tallow , “Orang tua yang tak pernah mati!” Kalimat tersebut mengisyaratkan pernyataan tersirat bahwa “yang tua sebaiknya mati saja.” Ya lebih baik mati saja kalau hanya ingin tetap eksis dengan menyebut-nyebut bayangan keakuan masa lalu pada generasi selanjutnya tanpa membuka diri dengan jiwa besar dan sahaja untuk didatangi dan dikritisi generasi di bawah. Satu kalimat itu cukup pendek namun terasa ekstrim, bahwa untuk sesuatu yang baru, untuk sebuah kelahiran perlu ada yang mati dan mau ‘mematikan’ diri.

Jadi, membaca tokoh-tokoh dan pandangan mereka dalam cerpen ini, kita seolah bisa berkata begini : tiga generasi, tiga kacamata. Pesimisme, skeptisisme dan mengarah ke nihilisme.

Masyarakat Baling-baling

Tujuh-pon awalnya dihormati karena ia membawa berita-berita terbaru dari kota. Namun semenjak Tuan Chao mendatanginya dan memberitahu tentang keputusan kaisar yang akan menghukum orang-orang yang tak punya kepang, orang-orang desa berubah jadi menjauhinya. Mereka tidak lagi mendatangi rumah Tujuh-pon untuk menanyakan kabar dari kota. Tujuh-pon bagi mereka hanyalah seorang pesakitan. Pun juga istri Tujuh-pon juga memberikan perlakuan berbeda kepada suaminya itu. Dia berubah bersikap kasar. Tapi, setelah ternyata desas-desus itu tak terbukti Tujuh-pon kembali dihormati seperti semula dan istrinya bersikap lembut kembali dan melayaninya dengan baik.

Gambaran masyarakat yang muda berubah ini tidak hanya terdapat dalam satu cerpen ini saja, namun rata-rata cerpen Lu Xun dalam Catatan Harian Orang Gila menggambarkan situasi yang seperti ini. Orang-orang desa haus akan informasi baru dan informasi-informasi yang mereka dapat langsung mereka terima begitu saja, apalagi jika disampaikan oleh bukan orang sembarangan, yaitu orang-orang yang mereka anggap terpelajar dibandingkan mereka yang jelata. Dan informasi tersebut begitu cepat mengubah pandangan mereka terhadap sesuatu. Situasi seperti ini seperti yang diungkapkan pribahasa baling-baling di atas bukit, berputar menurut angin yang datang. Masyarakat seperti ini, masyarakat baling-baling, menerima sesuatu begitu saja tanpa sikap kritis kemudian mengikuti dan mengamininya. Namun, didalam cerpen ini dari kemunculan tokoh janda Pai Yi, sikap masyarakat yang baling-baling, tidak bisa pula kita hakimi begitu saja.

Janda Pai Yi sudah memiliki sikap kritis itu dengan meragukan berita yang dibawa Tuan Chao, karena kebenarannya belum terbukti dan masihlah desas-desus. Tapi ternyata sikap kritis itu tidak untuk masyarakat awam yang tak tahu apa-apa, karena kekritisannya itu hanyalah dianggap sesuatu yang salah dan tak beralasan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih banyak seperti yang diwakili oleh tokoh Tuan Chao. Dalam hal ini, saya teringat konsep hegemoninya Antonio Gramsci dan konsep pengetahuan dan kekuasaan, Michel Foucault.

Konsep hegemoninya Gramsci secara sederhana yaitu bagaimana pihak-pihak tertentu yang memiliki dominasi menanamkan ideologi atau pandangan tertentu pada pihak dibawahnya namun tanpa kekerasan tapi dengan cara yang halus dan tanpa paksaan. Salah satunya adalah lewat kepemimpinan moral dan intelektual. Sedangkan Foucault mengatakan bahwa kekuasaan selalu terakulasikan lewat pengetahuan dan pengetahuan selalu punya efek kuasa. Penyelenggaraan kekuasaan selalu memproduksi pengetahuan sebagai basis dari kekuasaannya (Eriyanto, 2009: 66).

Orang desa atau masyarakat awam lewat tokoh Tuan Chao yang terpelajar dan memiliki banyak pengetahuan, mengamini begitu saja kebodohan mereka. Dan tanpa paksaan, mereka menerima dan meyakini kalau mereka itu bodoh dan tidak tahu apa-apa. Bagi orang yang bodoh dan tidak tahu apa-apa manalah mungkin untuk bisa bersikap kritis. Kalau pun ada yang mencoba bersikap kritis seperti Janda Pai Yi maka itu adalah kesalahan dan kesok-sok-an orang awam yang perlu dibantah, dicemoohkan, dan dikucilkan, seperti yang kita lihat pada sikap orang desa kepada janda Pai Yi yang dianggap telah mengacaukan keadaan karena meragukan Tuan Chao. Padahal janda Pai Yi hanya berusaha menenangkan Nyonya Tujuh-pon agar tidak berlaku buruk pada anak dan suaminya hanya karena isu yang belum tentu benar. Sikap penerimaan dan pengaminan orang desa bahwa mereka adalah orang bodoh menurut saya tidaklah dilakukan dengan proses tangan besi, namun mentalitas seperti itu (seolah) terbentuk begitu saja secara alami. Karena pada kenyataannya, mereka memang tidak mengkomsumsi banyak bacaan seperti orang-orang sekolahan yang banyak tahu. Namun pertanyaannya, apakah hal itu karena memang orang-orang desa tidak mampu dan tidak mau untuk menjadi orang yang tahu atau jangan-jangan sebenarnya mereka dikondisikan agar tidak mampu dan tidak mau untuk menjadi orang-orang yang lebih tahu?

Akhirnya, mentalitas baling-baling ini memang sesuatu yang disayangkan, tapi tentu akan sangat tidak arif untuk menghakimi karena ada suatu kuasa besar yang diam-diam telah merancang semua. Namun, tidak menghakimi tentu bukan pula berarti membiarkan. Lalu bagaimana caranya? Apa yang telah dilakukan Lu Xun lewat sastra bisa menjadi salah satu alternatif. Lu Xun menghadirkan tokoh Nyonya Tujuh-pon dan orang-orang desa, namun ia juga menghadirkan tokoh janda Pai Yi dan Tuan Chao. Dengan memilih sudut tentang keadaan masyarakat pada masanya tanpa terkesan verbal, mendikte apalagi menghakimi. Dan tentu, perjuangan seperti ini tidak boleh berhenti hanya sebatas tulisan, tetapi terjun langsung ke masyarakat adalah tindakan lebih nyata. Artinya, akan menjadi menarik dan efektif saya kira jika ada pembagian peran dan kerjasama kolektif antara para pemikir atau konseptor (sastrawan, seniman, akademisi, pemikir sosial) dengan orang-orang di lapangan (NGO, pemerintah [mestinya juga orang lapangan], perangkat desa dll). Masing-masing punya energi dan jika energi itu digabungkan tentu akan menjadi sebuah energi besar untuk sebuah perubahan.

Intelektual Pelacur

Lu-Xun menghadirkan tokoh Tuan Chao dalam cerpen “Badai dalam Secangkir Teh” ini. Tokoh yang terpelajar, membaca banyak buku yang tidak bisa dibaca oleh masyarakat awam kebanyakan. Memiliki kedai minum dan jubah panjang yang merupakan simbol pembeda status dalam masyarakat Cina pada saat itu. Tuan Chao mengetahui berita lebih cepat. Ia mengetahui yang tidak diketahui orang lain. Dan hal ini menyebabkan dia memiliki posisi kehormatan tersendiri. Namun, sosok Tuan Chao di sini digambarkan kurang lebih sama dengan masyarakat baling-baling tadi. Kalau masyarakat baling-baling bersikap seperti itu karena keawamannya, kita mungkin bisa memaklumi. Tapi akan menjadi hal yang miris dan ironis kalau hal itu juga dilakukan oleh seorang terpelajar. Dalam cerpen ini dinarasikan kalau Tuan Chao kadang menggelung kepangnya ke atas dan kadang membiarkannya tergerai.

Hal ini tergantung berita yang ia terima. Kalau dia mendengar kaum pemberontak yang sedang berada di atas maka ia membiarkan kepangnya, seolah-olah ia berada dipihak kaum revolusioner. Namun ketika ia mendengar kaisar hendak naik takhta ia menggelung kepangnya ke atas seolah-olah ia pro dengan kaisar, dan ia malah menakut-nakuti orang-orang desa yang awam seperti Tujuh-pon yang tidak memiliki kepang. Tapi, ternyata setelah isu itu tidak benar maka kepangnya kembali tidak lagi digelung. Tuan Chao menggambarkan, orang-orang terpelajar (yang tahu banyak hal) yang pragmatis yang hanya memperjuangkan kepentingan sendiri saja. Dan pengetahuan yang ia miliki digunakan bukan untuk membantu masyarakat yang tidak tahu apa-apa namun malah untuk menakut-nakuti agar ia tetap memiliki keeksisan. Mungkin nama yang tepat untuk jenis orang semacam ini adalah intelektual pelacur.

Intelektual memiliki nilai yang positif. Dengan demikian orang-orang terpelajar yang disebut kaum intelektual dalam bayangan kita tentulah orang-orang yang cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan serta bersifat cendekia (tajam pikiran serta cepat membaca situasi dan pandai mencari jalan keluar. Oleh karenanya tentu tidaklah salah ketika orang-orang memiliki harapan kepada kaum-kaum intelektual untuk sesuatu yang lebih baik, namun tentu bukan berarti menyerahkan seutuhnya bulat-bulat segala permasalahan kepada kaum intelektual. Sederhananya, berdasarkan kapasitas yang ia miliki, akan menjadi wajar jika seharusnya perannya lebih besar dibanding masyarakat awam dengan kapasitas seadanya.

Penutup

Walaupun Lu Xun menulis cerpen ini pada tahun 1920, di wilayah yang jauh pula dari tempat kita, namun gambaran masyarakat yang terdapat dalam cerpen tersebut seolah masih memiliki relevansi dengan keadaan masyarakat sekarang. Gambaran-gambaran masyarakat yang terdapat di dalam cerpen ini sedikit banyak ternyata masih ditemui pada gambaran masyarakat kita kini.

Sastra adalah dunianya sendiri. Tapi sastra tidak terlahir kosong begitu saja tanpa persentuhan si pengarang dengan dunia disekitarnya. Oleh karenanya, menurut hemat saya tetap ada manfaat ketika kita mencoba melirik masyarakat di dalam sastra sebagai pembanding untuk masyarakat di luar sastra. Mungkin bisa sama bisa pula jauh berbeda. Tapi, persoalannya mengapa sama, mengapa berbeda? Jangan-jangan hal seperti itu adalah pemantik tersendiri dari si penulis sastra untuk khalayak pembaca, terutama pembaca terpelajar. Jangan-jangan?

Alvi Puspita, Lahir di desa Teratak-Kampar, 3 Maret 1988. Menulis puisi dan cerpen.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/07/gambaran-masyarakat-dalam-cerpen-badai.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt