Rabu, Juni 29, 2011

Radikalisme Günter Grass dan Sastra Kita

Sigit Susanto*
http://oase.kompas.com/

Radikalisme Grass

Menilik karya-karya peraih nobel sastra Jerman tahun 1999, Günter Grass dan sepak terjangnya, hanya terdapat satu kesan kata: radikal. Grass yang hanya sekolah sampai di usia 15 tahun, mengaku menekuni sastra secara otodidak. Usai Perang Dunia II (1948-1952), baru ia melanjutkan sekolah jurusan pahat dan grafis di Akademi Seni Düsseldorf. Sebagai seorang penulis, punya tambahan tiga kegiatan seni lain, yakni pemahat patung, melukis dan grafis. Keempat kegiatan itu dilakukan silih berganti dan saling melengkapi. Ketika ia menggarap novelnya “Genderang Kaleng“ (Die Blechtrommel) yang memakan waktu selama 4 tahun, untuk menambal kebutuhan ekonominya dengan kerja memahat nisan di kuburan.
Günter Grass lahir di Danzig, Polandia pada 16 Oktober 1927. Grass dibesarkan dari keluarga sederhana yang hanya memiliki rumah dengan dua kamar, tanpa kamar mandi pribadi. Grass dan adik perempuannya, Waltraut tidak punya kamar tidur sendiri. Ayahnya seorang pedagang bahan makanan. Ketika partai Nazi (Nationalsozialismus) menang pemilu di Jerman dan Hitler berkuasa, Grass masih berusia 5 tahun. Pada usia 15 tahun, Grass sebagai pembantu pasukan angkatan udara Nazi. Menginjak usia 17 tahun, Grass mendaftar menjadi anggota pelindung pasukan panser. Pada akhirnya Grass ditangkap pasukan Amerika dengan identitas sebagai anggota Waffen-SS.

Karier sebagai penulis mulai moncer setelah ia tinggal di Jerman dan menikahi penari balet asal Swiss, Anna Schwarz pada tahun 1954. Manuskrip “Genderang Kaleng“ ia kerjakan di Paris. Pada usianya yang ke 32, “Genderang Kaleng“ beredar di pasaran. Novel setebal 779 halaman ini menggetarkan sastra Jerman dan mampu melebar ke seluruh dunia. Grass memarodikan kekonyolan perang dengan menghadirkan tokoh manusia cebol Oskar Matzerath. Pengagum Le Mythe de Sisyphe (Mitos Sisyphus) dari Albert Camus ini memasukkan unsur surealis yang langka. Oskar mampu memecahkan kaca atau gelas hanya dengan berteriak keras sambil matanya melotot. Grass menabur humor, di kala pasukan Nazi apel dengan iringan musik drum band, Oskar menyusup di bawah podium, ia menabuh genderang kalengnya dengan irama dansa. Kontan publik di apel militeris itu berubah berdansa. Tak sampai di situ, hobi Oskar ini masuk ke rok perempuan. Termasuk rok calon ibunya sendiri. Grass juga tidak segan-segan menampilkan adegan yang menjijikkan. Si Oskar ini suka kencing di sembarang tempat. Bahkan ia pernah disuruh minum sup dari kencing kawan-kawan sebayanya. Masih yang berbau menjijikkan, ada kepala kuda yang dibuang ke dasar laut dan diambil lagi, di dalamnya kepala kuda yang sudah busuk itu kemasukan banyak belut hidup. Dan muaknya, belut-belut dari kepala kuda busuk itu kelak digoreng untuk sarapan. Bagi penggemar sastra priyayi, harap minggir dengan aroma amis dan menjijikkan ini.

Begitulah Grass. Ia meramu tema-tema perang, paska perang, perpecahan dan penyatuan Jerman, hingga menggerus ke peristiwa politik terkini. Tak hanya tema yang krusial, tapi kekuatan bahasanya sangat puitis. Ia menabrak pertabuan yang berkembang di masyarakat. “Karena saya tidak takut hidup, maka saya masuk SPD“ (Sozialdemokratische Partei Deutschland), ujar Grass mengenai keterlibatannya dalam politik. Ia memosisikan diri sebagai sosok kiri dari partai SPD yang tengah. Tahun 1961, Grass bergabung dengan SPD dan ikut menyemarakkan kampanye SPD untuk memenangkan Willy Brandt pada pemilu di Jerman tahun 1969. Setelah Willy Brandt menjadi kanselir, tak jarang teks pidatonya yang membuatkan Grass. Risikonya, banyak pembacanya tidak senang. Inginnya pembaca, penulis sastra ya hanya berkutat di ranah sastra, tidak ikut terlibat di politik praktis.

Bagi Grass, sastra sebagai instrumen yang lincah untuk menyuarakan politik. “Trilogi Danzig“ yang terdiri atas “Genderang Kaleng“ (Die Blechtrommel), “Kucing dan Tikus“ (Katz und Maus), “Tahun Anjing“ (Hundejahre), selalu mengusung tema politik. Bahkan novelnya yang terbaru tahun 2006 berjudul “Menguliti Bawang“ (Beim Häuten der Zwiebel) juga tetap tema politik tentang pengakuan Grass pernah menjadi anggota pasukan Nazi. Novel ini di Jerman menjadi polemik panjang. Setahun kemudian, 2007 Grass menjawab polemik itu dengan meluncurkan kumpulan puisi berjudul “Agustus yang Tolol“ (Dumme August).

Pada bukunya “Perbincangan dengan Günter Grass“ (Gespräche mit Günter Grass), ia jelaskan, ia menentang dua hal. Pertama, ideologi marxisme dan kedua, agama Kristen. Dikatakan, sudah tahu ajaran marxis tidak bisa mencari solusi kehidupan terkini, juga orang sudah banyak baca kitab Injil, tetap saja tak menjawab kehidupan. Ia pertanyakan, mengapa orang masih saja melakukan? Di sinilah letak radikalisme berpikir Grass. Secara politik, ia ikut garis marxis revisionis, temuan Eduard Bernstein. Memang Bernstein inilah think thank dan orang lama SPD. Antara Sartre dan Camus, Grass lebih condong ke Camus. Ia anggap teori eksistensialisme Camus yang absurd, tetap memberi peluang manusia untuk berusaha, walaupun tanpa harapan. Grass menolak filsafat sejarah dari Hegel. Uniknya menurut Grass, meskipun pengikut Hegel terpecah dua, Hegel sayap kiri dan kanan, tapi mereka tetap mengkaji teori Hegel. Ujung-ujungnya pembentukan negara yang totalitarian.

Sastra Kita

Iwan Simatupang pernah mengajak penulis kita,“Marilah tulis apa yang belum ditulis oleh Heinrich Böll“, pada “Esai-Esai Iwan Simatupang.“ Sudahkah ajakan Iwan dilakukan? Melihat perkembangan sastra kita terkini cukup menyenangkan, namun juga sekaligus mengkhawatirkan. Menyenangkan, karena banyak muncul penulis baru dan muda usia. Di toko buku rak-rak buku sastra bertambah dan tema bervariasi. Selain banyaknya wadah sastra, juga bermunculan taman baca yang dikelola oleh pribadi atau pemerintah untuk umum. Jaringan taman baca ini sampai ke daerah dan desa-desa.

Yang mengkhawatirkan, bagaimana mutu karya sastra kita? Penulis sebesar Iwan Simatupang pun, bahkan yang digelari Bapak Pembaharu Sastra, karyanya tak sampai menembus pasaran Eropa. Dibanding dengan para penulis Amerika Latin, seperti Carlos Fuentes dan Isabel Allende. Karya mereka menyusup dengan deras ke rak-rak toko buku di negara berbahasa Jerman khususnya. Memang standar mutu bukan ditentukan, apakah sebuah karya sudah bisa menyeberang ke benua lain? Tapi jangan lupa, ciri karya klasik modern adalah bahwa karya itu mampu menembus batas wilayah bahasa dan benua, serta baris-baris dalam karya itu sering dikutip orang berulang-ulang bahkan perlahan dijadikan aforisme.

Karya-karya penulis kita yang sudah dialihbahasakan ke bahasa Jerman antara lain dari Pramoedya, Umar Kayam, Romo Mangun, Mochtar Lubis dan Tohari. Belakangan muncul dua novel, “Tarian Bumi“ karya Oka Rusmini dan “Saman“ karya Ayu Utami. Novel-novel ini karena diterbitkan oleh penerbit kecil, maka tak bisa ditemui di rak-rak toko buku.

Perlu disadari politik di Eropa dikuasai oleh partai-partai sosial demokrat yang sering dijuluki partai sosdem. Ideologi politiknya bukan neoliberal konservatif seperti dipelopori oleh Margaret Thatcher, tapi Jalan Ketiga ala Anthony Giddens, gurunya Tony Blair. Jalan Ketiga dianggap sebagai jembatan atau jalan tengah dari kelompok kiri, marxisme dan kelompok kanan, kapitalisme.

Membandingkan para peraih nobel sejak zaman Heinrich Böll (1972), Günter Grass (1999), Imre Kertez (2002), dan Herta Müller (2009), terdapat kesamaan tema, yakni politik. Akibat fasisme Nazi, para penulis sastra meraub sebagai tema-tema yang tiada henti. Meskipun Adorno pernah melarang, membuat setting cerita korban Yahudi, tetap saja memori perang menarik untuk dicatat kembali. Berangkat dari contoh-contoh peraih nobel di atas, sebetulnya Indonesia punya masa-masa perang di zaman revolusi. Indonesia kaya dengan perbendaharaan fasisme Orde Baru. Dari sana ada pembunuhan massal untuk orang-orang PKI, ada aksi penembak misterius, sampai reformasi dan korupsi yang sampai kini masih menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Sayangnya para penulis kita jarang yang tergiur dengan tema tersebut. Pramoedya menulis tentang tema kolonial dan Orde Baru, karena ia mengalaminya. Demikian Grass pun menulis tema-tema perang dan fasisme Nazi, karena ia mengalami sendiri. “Saman“ muncul mengusung tema reformasi, “Cantik Itu Luka“ membongkar sindikat prostitusi di zaman Jepang, “Tanah Tabu“ memaparkan kerakusan investor asing dan budaya patriarchat. Sekadar contoh saja, ketiga novel di atas berpotensi mengisi kevakuman novel berlatar politik dan kehidupan terkini.

Selebihnya atmosfer sastra kita ditaburi dengan aroma religius dan ideologi. Apa yang dikatakan Tahar Ben Jelloun, novelis Maroko yang domisili di Paris ada benarnya. Ia sebut, karya-karya sastra di negeri-negeri Arab, sesungguhnya sampul luarnya saja yang sastrawi, dalamnya berdakwah. Bertohld Damhäuser dalam wawancara dengan Tempo (27/3/2009) mempertanyakan, ia dengar kalau “Ayat-Ayat Cinta“ layak dinominasikan dapat nobel, karena mengembangkan sastra Islami.

Jika membandingkan peta politik di Eropa yang berhaluan sosdem di atas, sepertinya sebuah ilusi. Selama ini banyak peraih nobel sudah keluar dari lingkaran primordialisme. Sikap religius mereka banyak yang sekuler. Contoh paling jelas pada Orhan Pamuk dan Grass ini. Jika novel sejenis “Ayat-Ayat Cinta“ diharapkan dapat penghargaan, akan lebih bersahaja, sekiranya para raja negeri Timur Tengah juga mengeluarkan award seperti yang dikeluarkan raja Thailand, juga seperti yang dikeluarkan Stalin dulu untuk Pablo Neruda dan para penulis marxist. Dengan begitu peta award akan terbagi tiga, nobel Swedia untuk penulis sosdem, award Rusia untuk penulis marxist dan award negeri Arab untuk penulis Islami. Bukan tidak mungkin akan terjadi silang pemberian award pada penulis yang tidak sesuai ideologi pemberi award. Sayangnya komunis di Rusia sudah ambruk dan award dari negeri Arab tak pernah terdengar. Lepas dari ada award atau pun tidak, yang jelas radikalisme Grass berpotensi bagi penulis di negeri-negeri paska koloni. Seonggok borok penguasa, bagai bangkai yang harus dikuliti.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt