Kamis, Mei 19, 2011

Kalau Evi Bahagia Dipoligami, ”Lha mbok Biarin Aja..”

Abdul Wachid B.S.
http://www.kr.co.id/

MEMBACA buku cerpen Mahar karya Evi Idawati, ada hal yang menjadi perhatian saya. Dari gaya penceritaan, ekspresi bahasa secara umum, cerpen Evi tidak menunjukkan kebaruan. Tidak serevolusioner cerpen Joni Ariadinata yang mendobrak struktur kalimat menjadi frase-frase demi merebut ekspresi dan aksentuasi pikiran dan peristiwa agar selaras dengan emosi peristiwa yang dibangun. Memang, kelebihan cerpen Joni membangun miniatur “dunia” dengan cara memilih peristiwa paling penting saja. Hal itu, tak ubahnya penyair melakukan pemadatan kata-kata, sedangkan cerpenis melakukan pemadatan peristiwa. Dalam cerpen Evi, saya tidak mendapatkan hal itu. Cerpen Evi tak berpretensi melakukan pembaruan ekspresi kebahasaan, ia “hanya” pencerita yang komunikatif dan “sederhana”
Namun, syarat sebagai prosa yang baik sudah meng-ada dalam cerpennya, selaras ungkapan Satyagraha Hoerip, yang terpenting dalam prosa adalah berkisah atau ceritanya, yang lain nomor dua. Cerpen Evi memang demikian, mengalir perahu pikirannya, membawa pembaca ke seberang, mungkin daerah baru, barangkali desa imajinasi, barangkali sesuatu terindah dalam hidup manusia kita.

Mengapa Evi tak menggunakan kemampuan kepenyairannya secara penuh untuk seluruh cerpennya? Dalam prosa umumnya, hal yang disebut “puisi” memang perlu ada. “Puisi” itu ekspresi seni yang menyisakan ruang-kosong bagi penikmatnya agar dapat memberi makna, karenanya tiap pemaknaan mengalami perkembangan sesuai kejiwaan si Pembaca. Memaknai puisi “Doa” Chairil Anwar di saat SD, tentu berbeda dengan di saat menjadi mahasiswa Fakultas Sastra, akan sejajar dengan bertambahnya wawasan pembacaan. “Puisi” dalam prosa itu mewujud melalui ekspresi kebahasaan seperti halnya Saman karya Ayu Utami, atau Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah el-Khalieqy. Namun hal itu bisa juga meruang-mewaktu di dalam peristiwa, mendekonstruksi pikiran-pikiran umum seperti halnya Khutbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo.

Dalam hal ini, kekecewaan saya agak terobati. Pada cerpen Evi, yang “puisi” itu dari bangunan peristiwa dan pikiran yang dekonstruktif seperti cerpen “Pernikahan Malikha” (pernah di Kedaulatan Rakyat). Dalam cerpen itu, Evi mampu mengemas dramatisnya peristiwa, keadaan batin Malikha sebagai tokoh utama, gadis berusia 12 tahun sebab ketaatan kepada orangtua dan tradisi harus menerima pernikahan dini. Percakapan batin Malikha, percakapan Malikha dengan Kakak, ekspresi Malikha menghadapi nasib di hadapan orangtuanya, kebingungan Malikha mencari kawan “curhat”, akhirnya membawa pada dunia kanak-kanaknya, berperahu ke sunyi pantai, bersembunyi di rumah bakau. Di situ, Evi mampu menciptakan suasana, peristiwa, konflik batin, penyelesaian cerita, semua itu dikemas bagai “puisi” yang mengharubiru, dan unik. Dalam “Pernikahan Malikha”, Evi tak sekadar menguapkan asap tanpa api, tapi api itu ada dan mengirim gelombang panasnya airmata kepada pembaca.

Pada hemat saya, jika menjawab tanya, di mana letak “api” dari cerpen Evi dalam Mahar ini? Jawabnya, di cover Mahar. Seorang wanita rambutnya panjang terurai, di hadapannya api menyala-nyala, di atas api ada tulisan menjadi judul “Mahar”, juga nama “Evi Idawati” dengan huruf-huruf merah metalik, inilah “api” pertama yang nyala dari dalam buku Mahar.

“Api” selanjutnya, wanita di depan api itu apakah semacam Siti Fatimah RA putri Nabi Muhammad SAW, yang menjawab tanya, bagaimana jika Sayidina Ali RA (suaminya) menikah lagi? Dijawabnya, kalau saja telor ditaruh di atas tungku hatiku, maka akan matang… Barangkali cover Mahar terinspirasi riwayat itu sehingga wanita di situ dihadapkan pada “api”? Namun ternyata, membaca cerpen “Mahar” dan “Titik Balik”, dua cerpen yang paling problematis di buku ini, pembaca justru tidak memperoleh gambaran panasnya api poligami yang membakar perempuan. Sebaliknya, api itu, perempuan sendirilah yang memantinya, bukan untuk membakar diri, melainkan lambang kehidupan yang tercerahkan (Bukankah unsur yang mengharmonikan kehidupan adalah air, tanah, udara, dan api?)
***

CERPEN “Titik Balik” lebih syariat, tokoh Ibu tidak melakoni kehidupan asketik (zuhud), kehidupannya biasa saja sebagai umumnya wanita mencintai lelaki yang dicintainya. Namun, dalam pikiran anaknya, mengapa Ibu bisa menerima diperlakukan Ayah sebagai istri kedua tanpa tuntutan neko-neko? Di cerpen itu Evi tidak sedang berdakwah, ia membangun peristiwa kesadaran tokoh Ibu; bukankah logis sebagai orang yang datang nomor dua tidak begitu banyak tuntutan? Apalagi tokoh Ibu berposisi dilematis, di satu sisi ia sadar telah “merebut” kebahagiaan wanita lain, di segi lain ia tak kuasa oleh kuasa cinta yang mengharubiru, yang ditumbuhkan Tuhan di taman hatinya. Cinta, memang, tak perlu didramatisir, namun cinta kerap menjadi misteri sekalipun tiap cinta-sejati selalu hakikatnya jiwa-yang-tenang (nafs al-muthmainnah), selalu dalam hubungannya dengan Tuhan, bahkan dalam percintaan profan sekalipun. Jika cinta-sejati diteruskan perawatannya hingga benar-benar sampai pada Cinta-Sejati, karenanya tak sebatas soal kelon. Yang semula hanya arti (meaning) sebab pukau megahnya tubuh, dari situ cinta-sejati akan meningkat pada makna (significance) megahnya tubuh.

Tokoh Ibu dalam “Titik Balik” tidak mengalami married by accident (MBA), tidak pula selingkuh (“hubungan-gelap” yang didahului zina), melainkan “hubungan-gelap-yang-terang”. Ini takdir yang tak kuasa ditolaknya, tokoh Ibu menyikapi dengan sumarah dan transendental. Justru, tokoh “Aku” (anak) tak mau mengerti selama 29 tahun, sampai akhirnya ia sendiri merasakan cinta yang sama, mencintai lelaki yang sudah beristri.

APAKAH cinta-sejati ada dalam poligami? Cinta-sejati dalam poligami hanya bisa dirasakan dan diterima oleh orang yang memiliki pengalaman sama, yang lain menganggapnya nonsens, syukur-syukur tak mengatainya, “Aaah, ngrebut suami orang!” Atau, “Perempuan matre!”. Bahkan, “Sundal!” Di situlah simalakama, di satu sisi cinta itu meng-ada melalui kuasa upaya, di segi lain cinta meng-ada melalui karunia langsung dari “Yang di Atas Sana” (Transenden). Dua fenomena itu selalu hadir di tengah jutaan hubungan lelaki-perempuan, dengan begitu, definisi, ukuran, dan cara pencapaiannya juga tidak sama. Mengapalah diharuskan sama? Katanya mengagungkan Hak Asasi Manusia?

Dari situ, ada pembenaran tersirat, poligami bukan suatu anjuran (oleh Islam), namun menyediakan ruang bagi keadaan darurat dari realitas kehidupan manusia semacam Unit Gawat Darurat (UGD) sehingga tatkala orang dihadapkan pada kondisi tersebut (pilihan-sadar atau malu-malu), maka hubungan lelaki-perempuan tidak perlu melanggar hati nurani dan nilai-nilai yang disepakati sesama manusia.

Cinta (mahabbah) dipahami dalam prespektif “Jalan”-nya (tarekat), ada yang melalui upaya-upaya konkret manusia (maqamat), dan ada yang bahkan tanpa upaya campur tangan manusia berupa keadaan mental yang mencenderungi cinta (hal). Barangkali ada yang menanyakan, bukankah perspektif demikian hanya berlaku dalam kehidupan sufisme? Boleh balik bertanya, bukankah “upaya” dan “anugerah” juga terjadi pada siapapun? Dalam perspektif ini, cerpen “Titik Balik”, merepresentasikan cinta sebagai upaya-upaya (maqamat) perjuangan dan pengetahuan sekaligus keadaan mental (hal) yang dikaruniai Allah; dan, hal tidak memandang siapa orang yang akan ketiban ndaru cinta, dan alamat cinta pun tidak pandang apa orang yang dicintai sudah memiliki istri atau belum (kita tidak bicara hal sebaliknya, seorang istri memiliki lima suami Pandawa, yang mendapat legalisasi adat sebagaimana di Tibet!). Hanya “orang yang cinta” saja yang dapat merasakan cinta dan Cinta, karenanya di saat supralogis cinta itu niban ndaru kepada tokoh “Aku” (anak), barulah ia dapat menghayati, dan mengetahui makna cinta, selanjutnya memperjuangkan cinta.
***

DALAM cerpen “Mahar”, Maya mempersepsi dan memposisikan cinta lebih pada perspektif mahabbah, yang datangnya secara hal, yang sebab kuasa Tuhan sehingga memiliki kekuatan mengubah seseorang secara tiba-tiba. Wanita yang melakoni hidup pernikahannya 13 tahun ketiban ndaru mahabbah. Tokoh istri, Maya, di satu sisi telah merasakan nikmatnya limpahan cinta suami, ia ingin berbalas budi dengan memberinya kebahagiaan biologis. Namun, saat mengevaluasi hidupnya dengan mendekatkan pada Allah, ia mengalami nikmat cinta dari Yang Mahakekasih. Hal ini menimbulkan kesadaran baru, bagaimanapun secara syariat ia seorang istri, yang mengharuskan antar-keduanya saling memberi nafkah lahir-batin. Dilema ini dijawab dengan kesadaran syariat Maya, agama memberi alternatif dengan poligami. Kesadaran poligami ini didasarkan pada adanya kesepakatan antar-pelaku yang akan melakoninya, jika tidak, maka bukan poligami, melainkan selingkuh. Dari itu sepertinya Evi mengetahui (semoga juga menghayati) perjalanan maqamat cinta: tatkala mabuk-mabuknya cinta kepada Allah, seseorang melupakan semuanya kecuali Allah (fase “kemabukan”); setelah tersingkap hijab-Nya, seseorang itu akan kembali pada pelaksanaan seluruh syariat tanpa terkecuali (fase “ketakmabukan dalam kemabukan”); kemudian ia meng-Esa-kan tauhid, tiada suatu realitas pun jika tidak dimaknakan kaitannya dengan Allah (laailaha illallaah), maka fana.

Di sinilah “api” cerpen “Mahar”, ia memposisikan nilai hubungan lelaki-perempuan didasarkan pada realitas manusia, dan maqamat kemanusiaannya. Tak perlu apriori terhadap poligami, tak perlu emosional mengklaim sebagai hal yang tak beradab dan dampak buruk dari budaya patriarkhal, tapi juga tak perlu mengadakan “Poligami Award”. Nilai hubungan lelaki-perempuan bukan pada kuantitasnya, melainkan kualitasnya; dan kebutuhan, kemampuan, cara masing-masing orang tentulah tidak sama dalam memaknai kebahagiaan.

Dengan demikian, dalam cerpen Mahar (juga lainnya), cinta lelaki-perempuan bukanlah “kepemilikan” mutlak wadag sebab cinta suatu proses yang “menjadi”, proses belajar-mengajar tiada habisnya. Pada proses “menjadi”-kan cinta inilah berlangsung sekaligus “kepemilikan” kreatif dari jati diri yang dicintai. Karenanya, cinta dimaknai dan ditempatkan di antara tingkatan (maqamat) dan keadaan mental dicerahi Cinta Allah (hal). Jadi bukannya “asap tanpa api” sebab nilai “api” orang per orang juga tidak sama tingkatannya. Kalau Evi bahagia dipoligami, “Lha mbok biarin aja”.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt