Sabtu, Mei 28, 2011

HANNA FRANSISCA Harum Puisi Penyair Han

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/
Dalam gelombang panas
Ibu menambah kuah gula dan kelapa
bersarung merah daster tembaga
ia titipkan matanya
dalam liuk api
yang menenteramkan cinta.

(Puisi Kacang Hijau)
BETAPA sederhana, betapa mengejutkan. "Metafora Hanna Fransisca memang mengejutkan karena dia menggunakan majas dari dunia kuliner," kata penyair Sapardi Djoko Damono, yang menjadi salah satu juri pemilihan Buku Sastra Terbaik pilihan Tempo 2010.

Sepotong puisi karya Hanna Fransisca itu mengisahkan seorang ibu yang sedang memasak kacang hijau. Tapi Hanna tiba-tiba memasukkan sang ibu ke dalam masakannya: Hingga senja tiba/menunggu usia binasa/Ibu menuangkan seluruh dirinya/ke dalam mangkuk, lalu menitipkan anak-anaknya/pada hidup yang akan menjadikannya/dewasa.

Nasib yang dimasak dan memasak menyatu di dalam puisi itu. Kacang hijau menjadi majas sebuah kesetiaan dan pengabdian seumur hidup seorang ibu kepada anak-anaknya. Hanna menguncinya dalam bait terakhir: Ini kacang hijau/atau hatimukah/yang kami makan hari ini/bersama Tuhan yang selalu/kauajak/bicara.

Tantangan utama bagi para penyair masa kini adalah upaya melepaskan diri dari bayang-bayang penyair pendahulunya, katakanlah Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Mengingkari keterpengaruhan mereka adalah sesuatu yang mustahil, tapi mengekor pada mereka jelas tak menyumbang banyak pada perkembangan sastra Indonesia. Yang pasti, hingga kini jejak para penyair klasik masih tampak nyata atau samar dalam banyak karya penyair generasi saat ini.

Lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, 30 Mei 1979, Hanna Fransisca adalah penyair generasi baru yang memahami hal ini dan mencoba membuka jalannya sendiri. Pertama, Hanna tak mengejar kerumitan bahasa, tapi memanfaatkan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti, tanpa beban, dan, meski begitu, tak sampai kehilangan tenaga dalam diksinya. Kedua, dalam kumpulan puisi perdana Konde Penyair Han dia memunculkan serangkaian majas dengan suatu cara baru, cara yang belum dilakukan para penyair lain. Itulah beberapa alasan mengapa Tempo memilih Hanna sebagai tokoh sastra tahun ini.

Dalam puisi Surat buat Pahlawan, Hanna mengolah peristiwa pemotongan bebek Peking sebagai sebuah majas yang ironis. Mulai judul, puisi itu sudah menahbiskan sang bebek sebagai pahlawan yang harus menjadi korban. Dalam puisi 13 bait itu ia menggambarkan proses penyembelihan seekor bebek jantan, yang dia sebut "kekasih", yang nanti akan dimasak menjadi sebuah hidangan. Uraiannya yang terperinci menunjukkan pengamatannya yang cermat terhadap peristiwa yang sebenarnya biasa terjadi dalam keseharian.

Bila dilepaskan dari konteksnya, bait-bait puisi itu melukiskan sebuah kekerasan: Berjuanglah kekasih, di rentang tali/sepanjang sungai mengalir/yang mengikat lehermu, dalam tali simpul mati/agar rentang sayap dan kakimu bebas menari.

Sang bebek diajak menerima takdirnya untuk dikorbankan, sama seperti nasib anjing yang belum genap umur yang harus "Dibekap mulut dalam karung/dibentur batu". Atau nasib babi panggang "yang ditikam besi panjang sebelum maut/benar menjemput?" Tapi pengorbanan adalah sebuah bakti, yang terjadi semata "demi nama baik" sang bebek, karena ganjarannya adalah "Di alam tempat segala kebaikan/Di mana Tuhan/selalu bersemayam".

Hanna juga menyinggung hubungan sang bebek dengan betinanya sebelum penyembelihan: jikalau ada pacar sempat mampir/dalam semalam, pamitlah sebelum fajar/Sebab tajam pisau di lehermu nanti/akan menjadi doa terakhir bagi betinamu yang khawatir.

Hanna tidak mengubah sang bebek sebagai aku-liris-suatu cara yang telah dieksplorasi banyak penyair, terutama Sapardi Djoko Damono. Sebaliknya, ia mempertahankan dirinya sebagai akuliris yang berempati pada sang pahlawan dan, dengan demikian, dapat mengomentarinya.

Namun penyair Han ini juga menggunakan kata "pacar", "kekasih", dan "betina". Pada beberapa puisinya yang lain, dia juga menggunakan "ibu" dan "anak perempuanku". Dari puisi-puisi itu kita dapat menangkap suatu tafsir Hanna soal gender. Dia menunjukkan keutamaan perempuan sekaligus perannya sebagai pelengkap dan penderita. Strategi itu bisa diurainya dengan mulus melalui majas penyembelihan bebek dan majas kuliner lain.

Puisi kuliner seperti Puisi Kacang Hijau muncul di beberapa puisinya yang lain. Dalam Pesta Api Bersamamu Pagi Hari, Hanna menggambarkan sebuah pertengkaran antara aku-liris dan kekasihnya dengan menggambarkan "sepasang sumpit yang mengarungi panas gelombang sup". Sumpit itu pula yang mendorong nasib "hingga masuk ke ujung mulut, bertemu lidah pahitmu/yang bertahun kutanam dalam lidahku".

Perkara kuliner, dari memasak hingga makan, terbilang jarang diolah para sastrawan Indonesia. Hanna justru memanfaatkannya sebagai majas yang efektif dan menggoda pembaca untuk menafsirnya. Tapi hal itu juga didukung kemampuan Hanna bercerita dengan lancar, khususnya dalam sajak-sajak panjang, seperti Kepada Kerbau, yang mengisahkan keluarga petani yang bahagia akhirnya dapat memiliki seekor kerbau yang dapat membantu membajak sawah. Tapi masa paceklik tiba, "Padahal ia mulai belajar menulis:/'Aku mencintai rumah ini'" dan diakhiri dengan sebuah tragedi: Ayah yang lelah, membisikkan kata sayang begitu pasrah/lalu menggiringnya pergi/menjadi tiada.

Hanna Fransisca mengaku sebagai orang yang amat menikmati makanan dan suka menjelajahi makanan yang begitu menakjubkan. "Di dalam spirit keberagamaan yang saya yakini, makanan tidak hanya sebatas bentuk fisik dan rasa, tapi juga simbol," kata pengarang yang menempuh pendidikan hingga lulus SMP dan belajar menulis secara otodidak ini.

Hanna menganggap makanan adalah kehidupan karena diproses dari segala yang hidup. Dia kadang menjalani hidup sebagai vegetarian dan menghayati bagaimana makanan menjelma menjadi sebuah dunia lain yang mau tidak mau harus menjadi korban demi keberlangsungan hidupnya. "Apakah Anda bisa mendengar jeritan kacang panjang ketika diiris oleh tajamnya pisau? Apakah Anda pernah mendengar rintihan tomat ketika darah merahnya mengucur? Seorang penyair bisa mendengar banyak hal, dan ini yang kemudian saya tuliskan dalam puisi-puisi yang disebutkan dengan istilah 'puisi kuliner'," kata Hanna.

Hanna banyak belajar menulis melalui pertemanannya di komunitas dunia maya, seperti Pembelajaran.com dan Forum Lingkar Pena Jakarta. Cerita pendek pertamanya, Darahku Tumpah di Kelenteng, terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Jakarta International Literary Festival 2008. Salah satu naskah lakonnya, Kawan Tidur, dibacakan oleh Saturday Acting Club dan Teater Tetas dalam Indonesia Dramatic Reading Festival 2010. Dia juga menulis sejumlah esai dan tulisan-tulisan motivasi yang dipublikasi di Andaluarbiasa.com. "Sekarang saya sedang merampungkan sebuah novel tentang Singkawang," kata Hana.

Secara umum, puisi-puisi Zhu Yong Xia, nama Cina Hanna, bertema kemanusiaan. Di beberapa karyanya ia mengangkat tradisi-tradisi masyarakat Cina yang selama ini dihayati dan dijalaninya, seperti Cap Go Meh dan Hari Kue Bulan, tapi juga mengkritik keras tradisi masyarakat Cina yang dianggapnya tak adil, seperti dalam Perempuan tanpa Bulu. Di situ ia menulis: Di Pecinan hanya amoi yang mesti telanjang/sebab bulu bagi suami adalah hitungan rezeki/yang harus pasti.

Hanna juga sadar betul bahwa kaum-nya minoritas di negeri ini. Dan dengan penuh kesadaran, karyanya berisi protes dengan menunjukkan pengalaman pribadinya. Dalam Di Sudut Bibirmu Ada Sebutir Nasi, Hanna menyinggung soal stigma nama Cina di masa Orde Baru: Sebut sembarang saja/namanya: Aliong, Aliung, Along/atau nama lain seperti Hartono, Hartanto/Hardoyo. Atau nama lain semisal babi licik/maling baba-bukan pribumi. Dan dia menggambarkan luka sebuah penolakan: Setelah tak lulus SMP Negeri, setelah guru/tulen pribumi dengan pasti mengatainya:/"Di sudut bibirmu ada sebutir nasi. Bukan tempatmu tinggal di sini".

Tapi Hanna juga belajar berdamai dengan dunianya dan tetap memilih Indonesia sebagai tanah airnya. Dalam Air Mata Tanah Air, yang ditujukannya untuk Abdurrahman Wahid, dia merumuskan tanah airnya: Tanah Air adalah kekasih/yang mengecup bibirmu di pintu surga/yang mendekapmu dengan wajah bercahaya/dan melihat di matamu/berenangan kilau wajah anak-anak/yang kelak akan lahir dari rahimmu.

03 Januari 2011
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/01/03/LK/mbm.20110103.LK135519.id.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt