Selasa, Mei 31, 2011

Antara Aku, Kau Dan Kehidupanku

Nurani Soliha
http://malang-post.com/

“Aku benci hidupku…” itulah kata pertama yang keluar dari mulutku setiap mataku kembali terbuka dari tidurku. Tak lama ku dengar suara ketukan pintu “Tok..tok… non Aina sudah siang, nanti non telat ke sekolah lagi!…”, terdengar suara pembantuku yang selalu setia membangunkan ku setiap paginya. “Ya bi…”.
Namaku Aina, seorang siswi di salah satu SMK di Bandung, aku termasuk golongan keluarga yang di atas rata-rata. Kadang aku kesal mendengar teman-temanku yang selalu berkata “Wah, Aina hidupmu enak, apa yang kau mau pasti tersedia…”. Aku benci mereka.

“Mang, ayah dan ibu sudah berangkat??” aku bertanya kepada supirku yang sudah siap untuk mangantarku.

“Sudah non, dari tadi, ayah non berpesan agar setelah pulang sekolah langsung pulang,,” “Iya mang, nanti kita langsung pulang,” jawabku.
Saat aku mau menghampiri mobil, ada suara memanggil diriku “ Aina,,,,,” saat ku menoleh ke belakang seorang gadis yang sebaya denganku menghampiriku, dia adalah sahabatku, aku panggil dia Tria.

“Tumben terlambat?” aku bertanya karena dia tak pernah datang telat seperti ini.

“Maaf, aku mencari buku bahasaku, tapi tak ada!”.

“Buku apa?” tanyaku kembali.

“Bahasa..!” jawab Tria.

“Kau lupa atau gimana, kan buku itu dikumpulin, baru sekarang dikembaliin lagi,” aku mencoba menjelaskan.

“Oh ya, aku lupa. Kenapa kau tak mamberi tahuku dari tadi, jadi kita nggak kesiangan kayak gini!” protes Tria padaku.

“Mana Ai tau, Tri gak ngasih tau”.

Tiba-tiba supirku ikut berbicara “Monggo non Aina, non Tria kita brangkat. Dari tadi ditungguin”. Kami pun segera berangkat agar tidak kesiangan.

***

Sampailah kami ke sekolah, tanpa berbicara kami langsung menuju ke kelas di mana kami terbiasa melakukan kegiatan belajar. Suasana kelas selalu ribut kalau guru belum dating. “Huh… untung tak kesiangan…!” celetuk Tria.

Tak lama kemudian lonceng tanda jam masuk berbunyi tak lama setelah berbunyi. Bapak guru datang ke ruang kelas, tapi tak seperti biasanya pak guru datang ke kelas, beliau tak hanya membawa buku pelajaran tapi juga dengan seorang siswa.

“Selamat pagi anak-anak “ Pak guru menyapa kami yang sedari tadi terus riuh melihat siswa yang datang dengannya. “Ai pak guru bawa siswa dari mana? Wah ganteng ya, seperti Vokalis Peter Pan,” komentar Tria tentang siswa baru tersebut.

“Oya?? Menurutku juga, tapi dia mirip Vokalis Peter Pan kalau dia duduk di bangkumu, lalu kamu melihat dia di ujung Monas sambil bawa sedotan,!” komentarku.

“Apa sih, dasar jutek banget,” tambah Tria yang tak menerima komentarku.

“Sudah, kalian jangan berisik terus, bapak membawa kabar baik pada kalian. Mulai saat ini kalian mendapat teman baru pindahan dari Jakarta, silakan kamu perkenalkan diri kepada teman-teman barumu,” pinta pak guru.

“Baik pak…” jawabnya. “Selamat pagi, namaku Hendi Ramadhan, aku pindahan dari SMK Wirakarya,”.

Memang benar apa yang di katakana Tria, dia ganteng dan sepertinya dia pintar, tapi kenapa dia pindah sekolah? Kemudian Tria mengangkat tangannya.

“Ada apa Tria?” tanya pak guru.

“Tria mau Tanya pak, kenapa dia pindah sekolah, padahal SMK Wirakarya sekolah favorite di Jakarta?”

“Silakan Hendi kamu jawab pertanyaan teman kamu,” kata pak guru, lalu Hendi menjawab “Karena ayahku pindah tugas,’’.

“Ya sudah kalau begitu, Hendi sekarang kamu mulai belajar, silakan kamu duduk bersama Aina”.

Apa?! aku sebangku dengan dia. Memang aku duduk sendirian karena aku males kalau ada teman sebangku, lalu aku protes pada pak guru “Pak, kenapa harus di bangku Ai? Tria duduknya juga sendiri!” protesku.

“Tidak Ai, bangku Tria sudah ada yang menempati, tapi tidak hadir untuk hari ini, lagian kamu duduk sendiri, kamu juga bisa membantu Hendi untuk beradaptasi, kamu siswi berprestasi di sini,” jelas pak guru padaku. Huh padahal, tapi tak apa, mungkin dia tak secerewet teman-temanku yang lainnya.

Siswa baru itupun duduk di bangku ku, dia memandangiku dengan aneh, “Kenapa? Ada yang aneh?” tanyaku

“Tidak,” jawabnya.

“Kenapa tadi kamu ketus sekali kepadaku, kenapa kamu tak mau ada teman sebangku?” tanya siswa baru tersebut.

Aku pikir dia tak cerewet ternyata sama saja. “Kenapa kamu banyak tanya, kamu masuk ke sekolah ini untuk bertanya atau belajar?,” tanyaku ketus.

Lalu Tria menjawab “ Sudahlah Hendi, Aina emang ketus tapi dia baik kok”.

“Siapa yang minta pujianmu?” aku tanya lagi. “ Ih Ai. . . ,” jawab Tria

***

Jam istirahat pun tiba, kami segera keluar dari ruangan. “Aina!”.
Ada apa lagi siswa baru ini, dari tadi gak bosen nanya terus. “Ada apa Hendi Ramadhan, apa kamu mau tanya padaku kemana aku akan pergi?”.

Hendi memandangku dengan heran. Tapi entah mengapa tatapan matanya yang begitu, aku merasakan kehangatan yang berbeda, ah.. kenapa aku ini, ayo Aina, jangan kamu tergoda oleh anak baru ini.

“Tidak, aku hanya ingin bilang padamu, sedari tadi aku terus memperhatikanmu, ada sesuatu yang kau sembunyikan, di balik perkataanmu yang ketus, tapi matamu tak ingin berbuat seperti itu, iya kan?’’

Apa yang di katakan anak baru ini. “Oyah! Ternyata di sekolah ini ada peramal baru… so banget.”

Lalu Tria membawa Hendi ke kantin, tapi apa yang di katakan anak itu benar, aku bukan ketus, sombong atau angkuh, aku hanya ingin menyembunyikan semua jati diriku, aku ingin mereka hanya tahu aku Aina seorang anak Dirut perusahaan yang mereka anggap aku anak yang sempurna, biarlah hanya sahabatku yang tahu, bagaimana aku dan kehidupanku.

“Ada yang berbeda pada Aina, kamu mungkin tahu?” Tanya Hendi pada Tria, “Emang kenapa? Sepertinya biasa-biasa aja!” jawab Tria dengan tenang.

“Sepertinya tidak biasa, aku yakin kamu tahu tentang Aina, dari tatap matanya yang kosong, sepertinya dia menderita! Malah amat menderita…” jelas Hendi.

Tria berpikir apa mau laki-laki ini, dia baru pertama melihat Aina, tapi dia bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya itu. “Apa sih, Hendi sok tau banget, aku sahabatnya dan aku lebih tau dia, ngerti!! Udahlah jangan banyak tanya, urusi persoalan adaptasimu,” Tria sedikit berteriak sehingga teman-teman memperhatikan Tria dan Hendi. Aku tahu Tria bermaksud melindungiku, Tria menyusulku, dia menyampaikan apa yang di katakana Hendi, menurut Tria, Hendi begitu tahu tentang aku, padahal aku bertemu dengan Hendi baru kali ini dan belum 24 jam.

“Sebenarnya dia siapa?” tanya Tria. Tiba-tiba kepalaku sakit, mataku mendadak gelap, “Ai kamu kenapa?” Tria panik, Tria membawaku ke UKS.

“Di kantongnya!” bisik Tria, lalu dia pergi ke kelas untuk mengambil sesuatu.

“Dimana ya?,” Tria terus mencari sesuatu di tas sekolah ku. “Nah, ini dia,” Hendi masuk kelas dan memperhatikan Tria yang berwajah pucat, “Kau kenapa?” tanya Hendi

“Apa urusanmu,” jawab Tria kesal.

“Apa itu? Sepertinya obat, tapi obat apa dan punya siapa?,” tanya Hendi.

“Kau ini nanya atau mengintrogasi? Bukan urusanmu, minggir aku sedang sibuk!,” Tria pun pergi ke luar kelas menuju ke ruang UKS.

“Triana tunggu” teriak Hendi.

“Bagai mana keadaan Aina?” tanya Tria pada petugas yang menjaga Aina di ruangan, “Sepertinya dia telat minum obat! Memang dia sakit Tri?” tanya petugas UKS.

“Tidak, cuman Aina lupa minum vitaminnya!,” jawab Tria.

Hendi menyadari Aina sedang sakit, tapi sakit apa. Aina pun di suruh pulang oleh guru karena kondisinya yang lemas. “Hati-hati ya Na, nanti pulang sekolah Tri ke rumah!” pesan Tria.

“Iya” jawab Aina yang masih lemas, Tria pun kembali ke kelas.

“Aina sakit apa?” tanya Hendi.

“Bukan urusanmu, dan jangan kau mengintrogasi lagi karena kau takkan mendapatkan jawaban, ngerti!” tegas Tria pada Hendi, Hendi tambah penasaran apa yang di sembunyikan oleh gadis ini.

Sebelum pulang ke rumah Tria mampir ke rumah Aina, “Bi, Ainanya ada?” tanya Tria pada pembantu Aina.

“Eh non Tria, ada non silahkan masuk langsung saja ke kamarnya non!”.

Tria langsung pergi ke kamar Aina, terlihat Aina yang masih lemas dan lunglai. “Ai, bagai mana keadaanmu?,” tanya Tria pada Aina yang menyambutnya dengan senyum manis.

“Besok antar aku ke rumah sakit ya, aku tak yakin aku baik-baik saja!”.

Keesokan harinya Tria mengantar Aina ke rumah sakit, Aina pun diperiksa. “Bagai mana Dok keadaan teman saya?,” tanya Tria harap-harap cemas.

“Apa anda tahu sebelumnya?” tanya dokter.

“Tahu apa dok?”

“Aina menderita kangker otak stadium akhir!”. Tersentak jantung Tria mendengar penjelasan dokter, “Tapi dok, kenapa bisa begitu? Yang saya tahu Aina hanya menderita sakit kepala biasa?,” jelas Tria.

“Mungkin ayah dan ibunya sudah tahu, tak ada yang bisa dilakukan, kangkernya sudah menyebar, hanya saja berikan dan minum obat ini secara teratur, setidaknya bisa menahan rasa sakit yang diderita oleh Aina,” kata dokter.

Tria keluar dari ruang dokter,dia melihatku dengan miris, air matanya membasahi pipinya yang lembut. “Stadium akhir? Tak ada harapan? Hanya bisa menahan rasa sakit? Kenapa kau tak memberi tahuku Ai? Kenapa kau menyimpan semua ini? Kau menggapku orang lain?” sambil menangis Tria memeluku.

“Maafkan akuTri, aku tak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini, tapi aku takut kamu sedih dan memberitahukan aku sakit kepada orang tuaku,” jawabku. Aku tak tahu apa yang harus aku sampaikan pada sahabat kecilku itu.

“Apa yang kau bilang, orang tuamu tak mengetahui kau sakit?” Tanya Tria lagi.

“Ya, hanya kamu yang tahu,” jawabku lagi.

Hari-hari kulewati, dengan harapan yang kosong, bahkan orang tuaku tak memperdulikanku, aku tak mau menjadi beban mereka dan menambah pikiran mereka. Keesokan harinya aku mulai pergi ke sekolah. Tiba-tiba ada yang menyapaku “Pagi cantik!” sapa Hendi pada Aina yang sedang duduk di bangku taman.

“Baru tahu aku cantik, ada apa?” tanya ku ketus.

“Tak ada apa-apa, aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sangat ku senangi,” ajakan Hendi padaku.

“Apa urusanku?”

“Kau ini, tapi karena sikapmu itu yang membuatku suka padamu, aku jemput kau nanti malam”

“Hei, memang aku menjawab ajakan mu apa? Lagian dari mana kau tahu alamat rumahku?” teriak ku.

“Jangan panggil aku Hendi bila ku tak tahu alamat rumah gadis ketus sepertimu”.

Ada apa dengan laki-laki ini. Di perjalanan sekolah aku bercerita pada Tria. “Apa? Hendi mengajakmu dinner?” jawab Tria kaget.

“Iya, nanti malam dia akan menjemputku,” jawabku singkat.

“Dan kamu mau?” tanya Tria lagi.

“Gak taulah, aku belum menjawabnya, tapi dia langsung mau menjemputku, entah kenapa Tri, aku ngerasa nyaman banget kalau deket sama dia, rasanya aku merasakan sesuatu yang sangat membuatku merasa senang. Senyumnya, cara dia bercanda”.

“Kamu menyukai Hendi Ai?” tanya Tria curiga.

“Aku tak tahu apa yang ku rasakan ini, aku berusaha membuat ketus dia Tri, tapi Hendi yang sabar seakan membuatku luluh dengan apa yang ada pada dirinya, tapi kalau aku jatuh hati padanya, aku takut menyakitinya dengan keadaanku saat ini Tri, aku takut!” jawabku miris.

“Jangan seperti itu, kau masih remaja. Kau berhak mendapatkan kasih sayang dari seseorang yang kamu sayangi,” Tria mencoba menghiburku.

“Tapi kamu tahu kan umurku tak lama lagi, aku bertahan hanya untukmu, bukan demi yang lain,” jawabku lagi.

“Kau benar-benar tak ingin memberitahukan orang tuamu?” tanya Tria.

“Biarkan mereka menyadari, bahwa yang mereka cari mungkin lebih berharga dariku,” jawabku.

Jam pun menunjukan pukul 7, tiba-tiba terdengar bel pintuku berbunyi, “Ting….tong… permisi selamat malam,,” terdengar suara laki-laki di luar pintu rumahku, tak lama kemudian pembantuku memberi tahuku ada yang mencari, ternyata benar, Hendi yang mencariku. “Hai cantik, udah siap?” tanya Hendi.

“Memangnya kita mau kemana? Aku tak memberikan jawaban ya, tapi kau datang. Kau tak malu datang ke rumah orang tanpa diundang?”.

Hendi hanya tersenyum dan berkata “Kenapa kau menyambutku dan berpakaian rapi kalau tak mau, ayolah jangan berpura-pura, yuk jalan. Jangan ketus padaku nanti nyesel lagi!” dengan percaya dirinya Hendi menarik tanganku dan membawaku pada kendaraan roda empat yang dia parkir di halaman rumahku.

“Hei percaya diri sekali kau, mau di bawa kemana aku?? Hendi…..”

Entah dibawa kemana aku oleh siswa baru ini, di sepanjang jalan aku hanya terdiam dan cowok yang menurutku tampan ini tak sedikitpun mengeluarkan suara, ia hanya fokus pada jalan yang ada di depan. Tak lama kemudian mobilnya berhenti di suatu tempat, aku pun tak tahu ada tempat yang seindah ini. Mata ku melihat sekeliling tempat itu, lampu-lampu yang amat terang. “Waw, ternyata ada tempat yang seindah ini, dari mana kau tahu? Kau kan pindahan?” tanyaku tanpa melihat wajahnya.

“Kau cantik dengan senyum manismu,”.

Apa yang di katakannya? Aku berpaling melihat raut wajah yang ku suka itu, matanya yang indah, membuat hatiku yang selalu gundah menjadi tenang, senyum yang manis, ya Tuhan di usiaku yang tak lama lagi ini, kau memberikan keindahan yang tak pernah ku rasakan. Sahabatku yang selalu ada di sisiku, dan kini kau berikan aku sosok laki-laki yang menurutku sempurna. Apa aku berdosa membiarkan dia masuk kedalam hidupku yang tak menentu ini? Aku takut, aku membuatnya sakit dengan semua yang ada di sekitarku Tuhan, aku tak ingin dia menangis saat kehidupan tak lagi berpihak padaku. Tiba-tiba Hendi memegang tanganku, ia pun berkata “Kau seorang hawa yang amat sempurna di mata seorang adam yang tak sempurna ini! Tapi sang adam hanya ingin berkata apakah kau izinkan aku menjadikan yang halal dirimu untuk ku?”

Apa yang dia maksud? Apa aku sempurna? Apa aku seorang Hawa yang indah? Aku hanya anak remaja yang sedang menunggu kehidupan pergi, Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin membiarkan anak manusa ini berharap harapan yang tak mungkin aku berikan. Aku hanya tertunduk, terdiam. Rasa ini tak bisa aku hilangkan, aku merasa hidupku telah usai. Lampu-lampu itu tak terlihat lagi.

***

Tubuhku tak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Kau sesuatu yang indah wahai adam, aku tak pernah berani memandang raut wajahmu. “Tria, Aina masuk Rumah Sakit, cepat kau beri tahu orang tuanya!” Hendi panik memberitahukan Aina jatuh tak sadarkan diri saat dia baru ada sekitar 15 menit di tempat itu.

Lalu Tria menghubungi orang tua Aina yang ada di luar kota dan ia bergegas menyusul Hendi ke rumah sakit. “Ada apa? Mengapa Aina sampai tak sadarkan diri seperti itu Hen?” Tanya Tria panik.

“Aku tak tau Tri, aku ajak dia keluar tapi tak lama kami ngobrol di tempat itu dia pingsan, aku panik lalu ku bawa dia ke sini, aku tak tau dia kenapa!” jelaskan Hendi.

“Ya ampun Aina, kamu harus kuat, bertahanlah!” Tria semakin panik.

“Sebenarnya Aina kenapa Tri? Lalu mana orang tuanya?” Tanya Hendi.

“Kamu mau tahu apa yang terjadi sama Aina? Kamu mau tahu kemana orang tuanya?” Tanya Tria yang tak tenang, “Aina menderita kangker otak stadium akhir Hendi!!! Dia tak punya lagi kesempatan untuk menikmati masa remajanya lagi, tak ada harapan untuknya, kamu tahu usia Aina? Dia baru 17 tahun, tapi dia menghadapi sasuatu yang tak seharusnya dia rasakan. Dan kamu tahu apa yang lebih parahnya lagi? Ayah dan ibunya tak pernah tahu Aina sakit, yang mereka tahu hanya mencari materi untuk buah hatinya tanpa mengetahui buah hatinya itu akan pergi dan apa yang mereka cari akan sia-sia!!! Puas!”

Hendi hanya terdiam, dia tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Seseorang yang dia sayang, yang dia inginkan untuk menjadi sesuatu yang berharga akan menghilang untuk selamanya. Dia tak pernah membayangkan semua itu.

“Kau bohong Tri! Aina sehat, senyumnya takan pernah menghilang, kehidupannya takan pergi.”

Hendi berkata dengan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya. Lalu dokterpun keluar dari ruangan di mana Aina berada. “Maaf, kami sudah berusaha!”. Ucapan dokter itu sudah amat jelas. “Gak mungkin dok,” Hendi tak percaya.

Tria hanya bisa menangis, tak ada yang bisa dia lakukan terhadap sahabatnya itu, yang dia pikirkan hanya orang tua Aina. Mungkin mereka takan percaya buah hati mereka satu-satunya, harapan mereka, kini sudah pergi.

Tubuh kecilnya tak kuat lagi menahan ganasnya virus itu, Tria melihat orang tua Aina yang tak berhenti menangis menyesali kepergian buah hati mereka. Hendi yang masih tak percaya, sosok wanita yang dia idamkan kini telah tertidur pulas di pangkuan ibu pertiwi. Tak ada lagi ucapan ketus itu, tak ada lagi sahabat yang menemani Tria berduka dan tertawa. Yang ada tanah merah yang menjadi tempat abadi anak remaja itu.

Ya AINA NUR ANDINI, sosok yang takan pernah bisa terlupakan. Tria menghampiri Hendi yang duduk terdiam di halaman rumah Aina, “Kini kau sudah mendapatkan jawban dari semua pertanyaan mu, kehidupan Aina tak seindah apa yang di katakan orang-orang itu. Aina bukan sombong, dia juga tak mau angkuh, mereka belum melihat apa yang terjadi di dalam hidupnya. Kau yang selalu bertanya kini hanya terdiam, sedangkan aku telah mempersiapkan diriku untuk melihatnya damai dan tenang. Tak ada kata yang Ai ucapkan untuk terakhir kalinya padaku, bahkan sampai akhir hayatnya orang tuanya tak mengetahui apa yang terjadi pada putri mereka. Aku hanya bisa menyampaikan sesuatu yang dia inginkan untuk terakhir kalinya.’’

Lalu Hendi bertanya pada Tria “Mengapa kau tidak mengeluarkan kesedihanmu? Air matamu tak mengalir, apa kamu tak merasa kehilangan?” Hendi bertanya pada Tria.

“Air mataku sudah habis, kering, Aina tak mau melihat orang yang dia sayang mengeluarkan air mata gara-gara dia, bahkan dia tak mau melihat mata sayumu mengeluarkan air mata. Kamu tahu, saat kau mengajak Ai pergi, dia amat gembira, senyum yang tak pernah ku lihat, tertawa yang begitu renyah itu hadir lagi. Sebelum dia pergi denganmu, dia menulis ini untuk mu, bacalah mungkin ini keinginan terakhirnya. Maaf Ai telah membuatmu menangis, selamat tinggal Hendi,” ucapan terakhir Tria pada Hendi.

Hendi membuka surat itu di tempat Aina jatuh untuk terakhir kalinya, tempat yang akan menjadi kenangannya, inilah kata-kata terakhir untuk laki-laki yang Aina kagumi
“Hai….

Sebelumnya aku minta maaf telah lancang membiarkan mu masuk dalam kehidupanku. Aku sudah berusaha untuk menolak rasa itu, rasa yang kau berikan, tapi aku tak bisa menolaknya. Kau yang lembut, membuat raga yang rapuh ini menjadi tegar, hidupku yang singkat ini kau hiasi dengan sunyum manismu. Tak ada yang bisa membuatku kuat dan bertahan selain semangat dari sahabatku, tapi tiba-tiba kau hadir memberi warna baru dalam sisa hidupku.

Kehidupanku yang tak sempurna ini telah usai, penantian panjangku yang ingin merasakan kedamain telah tiba. Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan untuk terakhir kalinya padamu. Siswa baru, kau yang ku impikan, ingatlah ragaku memang telah terbaring tapi hati dan jiwaku akan tetap bersamamu. Kau yang terindah, terima kasih kau telah menghiasi sisa hari-hariku. Dan kini biarlah menjadi kenangan yang manis untuk kita, dan ini rahasia kita, rahasia antara aku, kau dan kehidupanku.
Selamat tinggal”

Kini aku kehidupan tak lagi aku genggam, sahabatku melewati hari-harinya tanpa diriku lagi. Laki-laki yang ku inginkan terlihat tegar dengan semua kenyataan ini. Ayah dan ibuku tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dan kini aku telah damai, jiwaku telah tenang, terima kasih Tuhan.

26 Maret 2011

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt