Penanda Apakah Sehelai Rambut Itu...?
IBM. Dharma Palguna
http://www.balipost.co.id/
BAGAIMANA bisa membayangkan saat menyosong kematian dikatakan seperti menyeberang di atas titi yang terbuat dari sehelai rambut dibelah tujuh?
Bagaimana pula bisa membayangkan ada seorang ibu mengatakan dirinya tergantung pada tali yang terbuat dari hanya sehelai rambut manakala tubuhnya terbelah oleh kelahiran manusia baru.
Metafora titian rambut dibelah tujuh dan metafora magantung ban bok akatih (tergantung pada sehelai rambut) rupanya dimaksudkan tidak untuk dibayangkan, tapi untuk dipahami. Bukan tingkat kesulitan dari peristiwa itu yang mesti dipahami, tapi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh orang yang terpaksa harus menyeberang di atas titi sehelai rambut dibelah tujuh, dan risiko yang dihadapi oleh orang yang tergantung dengan tali sehelai rambut.
Tapi mengapa zaman dahulu orang senang mengekspresikan hal seperti itu dengan rambut? Tentu ada sesuatu pada rambut sehingga benda itu mendapatkan perhatian demikian mendalam dari para pemikir zaman dahulu. Dan sudah pasti ada sesuatu yang tidak dikatakan tentang rambut itu, sehingga justru sehelai rambut itulah yang ditinggalkan oleh seorang Pendeta Shiwa sebagai kenang-kenangan kepada penduduk pesisir selatan Jemberana.
Tapi sanggupkah kita membuka misteri sehelai rambut itu tanpa harus mendudukkan sehelai rambut itu pada konteksnya? Rasanya tidak. Bukan karena kita bodoh, atau malas, juga bukan karena misteri itu tidak punya pintu atau jendela atau lubang untuk kita mengintip. Tapi karena kita sudah diajarkan oleh para Guru kehidupan bahwa yang namanya misteri itu adalah suatu hal atau kejadian yang belum diketahui konteksnya secara utuh. Bukan konteks itu yang akan menjawab, tapi melalui konteks itulah orang bisa memasuki apa yang disebut misteri itu. Jadi kita memang harus menemukan konteksnya.
PERISTIWA seorang Pendeta Shiwa dengan sehelai rambut adalah sebuah peristiwa mistis-religius paham Tantra. Bagian dari tubuh manusia yang bila dipotong tidak menimbulkan rasa sakit adalah rambut dan kuku. Tapi ketika manusia mati, justru rambut dan kuku yang paling sulit lebur ke tanah. Kuku terletak di ujung lima jari tangan dan lima jari kaki kanan kiri. Rambut ada di (atas) kepala. Selain perbedaan posisi itu, keduanya juga dibedakan berdasarkan fungsi. Dalam praktiknya, paham Tantra menjadikan keduanya, rambut dan kuku itu, sebagai penanda mistis untuk dua hal yang juga berbeda.
PENANDA apakah rambut itu? Cabang paham Tantra yang dikenal dalam khasanah shastra Bali menghubungkan gambar tubuh manusia dengan simbul Ongkara. Tubuh dari pangkal leher ke bawah dihubungkan dengan huru O (O-kara). Tangan kanan dan kiri yang dibentangkan dan ditekuk sedemikian rupa dan membentuk setengah lingkaran adalah representasi Arddhacandra. Kepala yang bulat adalah lingkaran Windhu. Dan rambut yang digambarkan lurus ke atas adalah pelambang Nadha (vibrasi halus tapi sangat bertenaga muncul dari angkasa sunyi). Seperti itulah kurang lebih salah satu penjelasan tentang rambut dalam konteks mistis religiusnya. Penjelasan lebih lanjut tentu akan sangat bersifat teknis dan tidak relevan untuk tulisan ini.
Yang jelas, rambut atau sehelai rambut dalam pandangan mistis-religius adalah salah satu Pratima Nada. Pratima itukah yang diberikan oleh seorang Pendeta Shiwa legendaries itu kepada penduduk pesisir selatan Jemberana lima abad silam?
Bukan! Bukan itu! Tapi ini adalah sebuah pembacaan yang didasari oleh rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik cerita masa lalu yang memenuhi ruang-ruang hidup manusia Bali sedari dulu. Pembacaan seperti ini bisa menjadi penjelasan di antara sejumlah penjelasan yang ada. Dan salah satu ''kelebihan'' Bali, menurut para peneliti asal luar Bali, konon di Bali ada banyak penjelasan tentang hal-hal yang di tempat lain tidak dijelaskan.
Kelebihan? Dalam ilmu logika tingkat dasar kita diajarkan bahwa ''kelebihan'' adalah juga ''kekurangan'' sekaligus. Tapi dalam pelajaran mistis juga tingkat dasar, para murid akan diberitahu bahwa ilmu mistis bukan logika. Jadi, tulisan ini saya tutup dengan pertanyaan seperti di judul: penanda apakah sehelai rambut itu?
Minggu, 26 Juli 2009 | BP
IBM. Dharma Palguna
http://www.balipost.co.id/
BAGAIMANA bisa membayangkan saat menyosong kematian dikatakan seperti menyeberang di atas titi yang terbuat dari sehelai rambut dibelah tujuh?
Bagaimana pula bisa membayangkan ada seorang ibu mengatakan dirinya tergantung pada tali yang terbuat dari hanya sehelai rambut manakala tubuhnya terbelah oleh kelahiran manusia baru.
Metafora titian rambut dibelah tujuh dan metafora magantung ban bok akatih (tergantung pada sehelai rambut) rupanya dimaksudkan tidak untuk dibayangkan, tapi untuk dipahami. Bukan tingkat kesulitan dari peristiwa itu yang mesti dipahami, tapi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh orang yang terpaksa harus menyeberang di atas titi sehelai rambut dibelah tujuh, dan risiko yang dihadapi oleh orang yang tergantung dengan tali sehelai rambut.
Tapi mengapa zaman dahulu orang senang mengekspresikan hal seperti itu dengan rambut? Tentu ada sesuatu pada rambut sehingga benda itu mendapatkan perhatian demikian mendalam dari para pemikir zaman dahulu. Dan sudah pasti ada sesuatu yang tidak dikatakan tentang rambut itu, sehingga justru sehelai rambut itulah yang ditinggalkan oleh seorang Pendeta Shiwa sebagai kenang-kenangan kepada penduduk pesisir selatan Jemberana.
Tapi sanggupkah kita membuka misteri sehelai rambut itu tanpa harus mendudukkan sehelai rambut itu pada konteksnya? Rasanya tidak. Bukan karena kita bodoh, atau malas, juga bukan karena misteri itu tidak punya pintu atau jendela atau lubang untuk kita mengintip. Tapi karena kita sudah diajarkan oleh para Guru kehidupan bahwa yang namanya misteri itu adalah suatu hal atau kejadian yang belum diketahui konteksnya secara utuh. Bukan konteks itu yang akan menjawab, tapi melalui konteks itulah orang bisa memasuki apa yang disebut misteri itu. Jadi kita memang harus menemukan konteksnya.
PERISTIWA seorang Pendeta Shiwa dengan sehelai rambut adalah sebuah peristiwa mistis-religius paham Tantra. Bagian dari tubuh manusia yang bila dipotong tidak menimbulkan rasa sakit adalah rambut dan kuku. Tapi ketika manusia mati, justru rambut dan kuku yang paling sulit lebur ke tanah. Kuku terletak di ujung lima jari tangan dan lima jari kaki kanan kiri. Rambut ada di (atas) kepala. Selain perbedaan posisi itu, keduanya juga dibedakan berdasarkan fungsi. Dalam praktiknya, paham Tantra menjadikan keduanya, rambut dan kuku itu, sebagai penanda mistis untuk dua hal yang juga berbeda.
PENANDA apakah rambut itu? Cabang paham Tantra yang dikenal dalam khasanah shastra Bali menghubungkan gambar tubuh manusia dengan simbul Ongkara. Tubuh dari pangkal leher ke bawah dihubungkan dengan huru O (O-kara). Tangan kanan dan kiri yang dibentangkan dan ditekuk sedemikian rupa dan membentuk setengah lingkaran adalah representasi Arddhacandra. Kepala yang bulat adalah lingkaran Windhu. Dan rambut yang digambarkan lurus ke atas adalah pelambang Nadha (vibrasi halus tapi sangat bertenaga muncul dari angkasa sunyi). Seperti itulah kurang lebih salah satu penjelasan tentang rambut dalam konteks mistis religiusnya. Penjelasan lebih lanjut tentu akan sangat bersifat teknis dan tidak relevan untuk tulisan ini.
Yang jelas, rambut atau sehelai rambut dalam pandangan mistis-religius adalah salah satu Pratima Nada. Pratima itukah yang diberikan oleh seorang Pendeta Shiwa legendaries itu kepada penduduk pesisir selatan Jemberana lima abad silam?
Bukan! Bukan itu! Tapi ini adalah sebuah pembacaan yang didasari oleh rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik cerita masa lalu yang memenuhi ruang-ruang hidup manusia Bali sedari dulu. Pembacaan seperti ini bisa menjadi penjelasan di antara sejumlah penjelasan yang ada. Dan salah satu ''kelebihan'' Bali, menurut para peneliti asal luar Bali, konon di Bali ada banyak penjelasan tentang hal-hal yang di tempat lain tidak dijelaskan.
Kelebihan? Dalam ilmu logika tingkat dasar kita diajarkan bahwa ''kelebihan'' adalah juga ''kekurangan'' sekaligus. Tapi dalam pelajaran mistis juga tingkat dasar, para murid akan diberitahu bahwa ilmu mistis bukan logika. Jadi, tulisan ini saya tutup dengan pertanyaan seperti di judul: penanda apakah sehelai rambut itu?
Minggu, 26 Juli 2009 | BP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar