Malam Mengenang WS Rendra di Moskow
Svet Zakharov
Gatra, 5 Nov 2009
Pada 1991, Profesor Vilen Sikorsky bertemu dengan W.S. Rendra. Kali itu, "Sang Burung Merak bercerita bahwa neneknya adalah seorang Rusia. Ya, dalam tubuh penyair Rendra (almarhum) mengalir darah Rusia. Sikorsky, Presiden Persatuan Ketimuran Ilmiah Sosial Moskow, mengungkapkan hal itu dalam pidatonya yang berjudul "Rendra: Orang-orang Harus Dibangunkan Agar Kehidupan Bisa Terjaga."
Pidato itu disampaikan dalam acara "Malam Mengenang W.S. Rendra" di Pusat Perpustakaan Ketimuran, Rusia, 14 Oktober lalu. Acara yang terselenggara atas kerja sama Lembaga Ilmiah Nusantara, Lembaga Persahabatan Rusia-Indonesia, dan Perpustakaan Nasional Rusia itu berlangsung di sebuah gedung kuno yang mewah, dekat Kremlin.
Dahulu kala, seorang violinis perempuan Rusia ikut bergabung dalam kelompok musik yang tengah melakukan konser keliling Hindia-Belanda. Seorang pemuda Surakarta (kakek W.S. Rendra) jatuh cinta pada sang penggesek biola itu dan melamarnya untuk menikah. Lamaran diterima. Dan sejak itu, violinis Rusia tersebut menetap dan beranak-pinak di bumi Nusantara.
Dari kisah itu, Sikorsky menabalkan sebuah bagian tentang Rusia yang tersimpan di dalam kalbu Wilibrordus Surendra Broto Rendra (1935-2009), seorang penyair besar Indonesia yang doyan memberontak dan membawakan suara orang-orang yang menderita.
Bukan sekali-dua Sirkosky bertemu Rendra. Pada 2009 ini, sebelum sang penyair gering payah dan wafat, profesor yang di kalangan akademisi Rusia dikenal sebagai "pakar sastra Indonesia" itu sempat mampir ke rumah Rendra di Cipayung, Citayam, Depok, Jawa Barat. Mereka terlibat dalam obrolan hangat sebagai kawan lama.
"Meninggalnya Rendra bagi saya sangat mendadak. Sebab, pada waktu bertemu tahun ini, kami membahas kemungkinan kunjungan sang pujangga bersama istrinya ke Moskow dan St. Petersburg, yang sudah lama diimpikannya," kata Sirosky dalam perhelatan yang juga dihadiri perwakilan Konsulat RI untuk Rusia itu.
Pada 1957, Rendra pernah berkunjung ke Rusia. Ketika itu, ia menjadi anggota delegasi Indonesia yang dikirim untuk mengikuti Festival Pemuda dan Mahasiswa Internasional. Dalam acara "Malam Renungan W.S. Rendra" tersebut, pakar studi ketimuran Rusia, Dr. Alexey Drugov, juga mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Rendra pada 1957 itu.
Drugov yang ketika itu masih muda dan dapat berbahasa Indonesia bertugas menjemput dan menemani 70 anggota delegasi Indonesia, termasuk W.S. Rendra, yang pada saat itu berusia 22 tahun. "Kesan saya, pada masa mudanya Rendra sudah sangat pandai, mampu melihat jauh ke depan secara mendalam. Beliau berkeyakinan teguh, tapi sangat terbuka hatinya dan bersedia untuk diskusi," kata Drugov memaparkan semacam kesaksiannya.
Hubungan "emosional" Rendra dengan Rusia, menurut Drugov, terpapar dalam sajak-sajak yang digubahnya sepanjang mengikuti festival itu. Sebut saja sajak "Sretensky Boulevard", "Gereja Ostankino", dan "Sanatorium Chahlinegara".
Sementara itu, dalam catatan Sikorsky, pergumulan Rendra dengan sastra Rusia, antara lain, terlihat dalam karya sadurannya atas naskah berbahasa Inggris gubahan A. Ostrovsky, yang diberinya judul Buku Harian Seorang Penipu.
"Di setiap negeri, setiap masyarakat memiliki penyair dan pengarang yang dalam karyanya terjelma jiwa dan hati nurani rakyat. Di Rusia terdapat nama-nama seperti Pushkin, Lermontov, Nekrasov, Maykovsky, dan pengarang tersohor Leo Tolstoy. Di Indonesia, ada Pramoedya Ananta Toer dan Rendra," ujar Sikorsky.
Senada dengan Sikorsky, Konsuler KBRI Moskow, M. Aji Surya, mengemukakan bahwa Rendra sebagai budayawan di mata masyarakat Indonesia mirip dengan Alexander Pushkin (1799-1837) di mata orang Rusia. "Sangat radikal, pemberani, menentang kebobrokan, dan tidak takut kapan pun dan di mana pun. Keduanya membawa suara kebenaran dan selalu non-partisan. Keduanya dicintai, dihormati, dan disegani rakyat dan pemerintah," kata Aji.
Di mata Sikorsky, Rendra selalu mengenang Rusia dengan mesra. Dan, tentang Rendra, Sirkosky merasa menyimpan beberapa rahasia. Misalnya 40 lembar sajak pemberian Rendra yang dengan sukacita ia terima. Sebagian dari sajak itu, kata Sirkosky, sebagaimana pengakuan sang pujangga, belum pernah dipublikasikan.
Svet Zakharov (Moskow)
Sumber: http://www.gatra.com/artikel.php?id=132220
Svet Zakharov
Gatra, 5 Nov 2009
Pada 1991, Profesor Vilen Sikorsky bertemu dengan W.S. Rendra. Kali itu, "Sang Burung Merak bercerita bahwa neneknya adalah seorang Rusia. Ya, dalam tubuh penyair Rendra (almarhum) mengalir darah Rusia. Sikorsky, Presiden Persatuan Ketimuran Ilmiah Sosial Moskow, mengungkapkan hal itu dalam pidatonya yang berjudul "Rendra: Orang-orang Harus Dibangunkan Agar Kehidupan Bisa Terjaga."
Pidato itu disampaikan dalam acara "Malam Mengenang W.S. Rendra" di Pusat Perpustakaan Ketimuran, Rusia, 14 Oktober lalu. Acara yang terselenggara atas kerja sama Lembaga Ilmiah Nusantara, Lembaga Persahabatan Rusia-Indonesia, dan Perpustakaan Nasional Rusia itu berlangsung di sebuah gedung kuno yang mewah, dekat Kremlin.
Dahulu kala, seorang violinis perempuan Rusia ikut bergabung dalam kelompok musik yang tengah melakukan konser keliling Hindia-Belanda. Seorang pemuda Surakarta (kakek W.S. Rendra) jatuh cinta pada sang penggesek biola itu dan melamarnya untuk menikah. Lamaran diterima. Dan sejak itu, violinis Rusia tersebut menetap dan beranak-pinak di bumi Nusantara.
Dari kisah itu, Sikorsky menabalkan sebuah bagian tentang Rusia yang tersimpan di dalam kalbu Wilibrordus Surendra Broto Rendra (1935-2009), seorang penyair besar Indonesia yang doyan memberontak dan membawakan suara orang-orang yang menderita.
Bukan sekali-dua Sirkosky bertemu Rendra. Pada 2009 ini, sebelum sang penyair gering payah dan wafat, profesor yang di kalangan akademisi Rusia dikenal sebagai "pakar sastra Indonesia" itu sempat mampir ke rumah Rendra di Cipayung, Citayam, Depok, Jawa Barat. Mereka terlibat dalam obrolan hangat sebagai kawan lama.
"Meninggalnya Rendra bagi saya sangat mendadak. Sebab, pada waktu bertemu tahun ini, kami membahas kemungkinan kunjungan sang pujangga bersama istrinya ke Moskow dan St. Petersburg, yang sudah lama diimpikannya," kata Sirosky dalam perhelatan yang juga dihadiri perwakilan Konsulat RI untuk Rusia itu.
Pada 1957, Rendra pernah berkunjung ke Rusia. Ketika itu, ia menjadi anggota delegasi Indonesia yang dikirim untuk mengikuti Festival Pemuda dan Mahasiswa Internasional. Dalam acara "Malam Renungan W.S. Rendra" tersebut, pakar studi ketimuran Rusia, Dr. Alexey Drugov, juga mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Rendra pada 1957 itu.
Drugov yang ketika itu masih muda dan dapat berbahasa Indonesia bertugas menjemput dan menemani 70 anggota delegasi Indonesia, termasuk W.S. Rendra, yang pada saat itu berusia 22 tahun. "Kesan saya, pada masa mudanya Rendra sudah sangat pandai, mampu melihat jauh ke depan secara mendalam. Beliau berkeyakinan teguh, tapi sangat terbuka hatinya dan bersedia untuk diskusi," kata Drugov memaparkan semacam kesaksiannya.
Hubungan "emosional" Rendra dengan Rusia, menurut Drugov, terpapar dalam sajak-sajak yang digubahnya sepanjang mengikuti festival itu. Sebut saja sajak "Sretensky Boulevard", "Gereja Ostankino", dan "Sanatorium Chahlinegara".
Sementara itu, dalam catatan Sikorsky, pergumulan Rendra dengan sastra Rusia, antara lain, terlihat dalam karya sadurannya atas naskah berbahasa Inggris gubahan A. Ostrovsky, yang diberinya judul Buku Harian Seorang Penipu.
"Di setiap negeri, setiap masyarakat memiliki penyair dan pengarang yang dalam karyanya terjelma jiwa dan hati nurani rakyat. Di Rusia terdapat nama-nama seperti Pushkin, Lermontov, Nekrasov, Maykovsky, dan pengarang tersohor Leo Tolstoy. Di Indonesia, ada Pramoedya Ananta Toer dan Rendra," ujar Sikorsky.
Senada dengan Sikorsky, Konsuler KBRI Moskow, M. Aji Surya, mengemukakan bahwa Rendra sebagai budayawan di mata masyarakat Indonesia mirip dengan Alexander Pushkin (1799-1837) di mata orang Rusia. "Sangat radikal, pemberani, menentang kebobrokan, dan tidak takut kapan pun dan di mana pun. Keduanya membawa suara kebenaran dan selalu non-partisan. Keduanya dicintai, dihormati, dan disegani rakyat dan pemerintah," kata Aji.
Di mata Sikorsky, Rendra selalu mengenang Rusia dengan mesra. Dan, tentang Rendra, Sirkosky merasa menyimpan beberapa rahasia. Misalnya 40 lembar sajak pemberian Rendra yang dengan sukacita ia terima. Sebagian dari sajak itu, kata Sirkosky, sebagaimana pengakuan sang pujangga, belum pernah dipublikasikan.
Svet Zakharov (Moskow)
Sumber: http://www.gatra.com/artikel.php?id=132220
Tidak ada komentar:
Posting Komentar