Kamis, Maret 24, 2011

Mendialogkan Keberadaan Gathak dan Gathuk

M.D. Atmaja
http://phenomenologyinstitute.wordpress.com/

Keresahan itu selayaknya kawan mesra yang kedatangannya tanpa harus kita rindukan, juga seringkali datang tanpa terlebih dahulu membuat janji. Resah yang memang terlahir dari keinginan diri – yang dalam bahasa kerennya: mimpi – yang belum sempat tergapai. Berangkat dari keinginan ini, manusia dapat dikatakan memiliki sifat hidup. Akantetapi, tidak lantas kita langsung menterjemahkan kalau “keinginan” itu memiliki arti mengenai “hidup”, sebab hal tersebut tidak ada di dalam kamus, dan masyarakat Jawa lebih senang dalam “sepi ing pamrih” serta untuk “mati selagi hidup dan hidup selagi mati”.
Melepaskan paradigma hidup manusia Jawa yang super rumit, bahwa keinginan sebagai pendorong bagi manusia untuk bergerak di atas dunia. Bergerak untuk mengisi perjalanan waktu dengan sesuatu (kegiatan) yang dapat membawa pada pencapaian mimpi, yang akhirnya akan membawa kita pada mimpi(-mimpi) yang lain. Kita sama-sama menyadari jikalau salah satu watak manusia yang teramat menonjol adalah ketidak-puasan.

Pembentuk dari watak manusia ini oleh keinginannya sendiri yang terkadang teramat sederhana: Hanya menjadi Bupati, meskipun itu adalah Bupati Kethoprak. Manusia yang jauh dari kepuasan, tidak menunjukkan suatu sifat buruk. Jikalau saja manusia melepaskan segala keinginannya, maka manusia tidak akan hidup lagi. Pohon, bebatuan juga memiliki keinginan (dan hanya sebangsa mereka saja yang tahu keseluruhannya).

Hari ini terasa lebih melelahkan setelah beberapa saat berkutat dalam perselingkuhan dengan teknologi. Sampai seorang kawan dari Lamongan menginjakkan kakinya di Yogyakarta, singgah ke kantor cerpenis teguh Winarso AS. Sebenarnya sudah dari tadi malam (Rabu 16 Maret 2011) kawan saya dari Lamongan itu datang. Tapi sayang, saya tidak bisa beranjak dari meja kerja untuk menyambut sebab di malam yang sama saya sudah memiliki janji dengan saudara: Kangmas Gathak dan Dhimas Gathuk,untuk membahas mengenai keberadaan mereka dalam dunia modern.

Gathak dan Gathuk suatu wacana mengenai ilmu pengetahuan yang tidak ter-teks-kan, akantetapi memberikan ruang lingkup yang cukup banyak. Dua unsur kehidupan yang diproduksi oleh masyarakat Jawa ini sarat akan nilai, yang kalau dalam pandangan Husserl disebut sebagai “dunia kehidupan” masyarakat Jawa. Gathak dan Gathuk adalah dua unsur berbeda yang menjadi satu dan sekaligus utuh serta menyeluruh (holistik). Tidak boleh dipisahkan satu sama lain, karena dengan meng-gathak menjadi gathuk (sesuai). Hal yanng terkesan remeh dan tidak memiliki suatu sistem ilmiah. Tapi masak iya seperti itu? sekarang kita lihat, bahwa di dalam berbagai ilmu sosial (filsafat) faktor utama apa yang menjadi pijakan? Kalau menurut saya, faktor tersebut adalah pengalaman manusia.

Aspek pengalaman sebagai bahan dasar dari ilmu pengetahuan. Paradigma Fenomenologi mengkhususkan diri untuk menjadikan pengalaman sebagai bahan kajian utama, begitu juga dengan paradigma ilmu pengetahuan lain yang berangkat dari pengalaman.

Bagi saya, Gathak dan Gathuk adalah bagian dari ilmu sosial kita (masyarakat Jawa secara khusus), yang memiliki nilai keilmiahan tersendiri. Hanya saja teks yang menguatkan keilmiahan Gathak dan Gathuk, saya belum ditakdirkan untuk menemukan teks tersebut. Marilah kita berusaha menilik dari landasan berikut: Ketika ilmu pengetahuan, khususnya Fenomenologi, mendasarkan kajian analisis pada pengalaman manusia, hal ini juga dapat kita temukan dalam paradigma Gathak-Gathuk. Pengalaman yang digunakan paradigma gathak dan Gathuk untuk menjelaskan suatu kejadian (bahasa ilmiahnya: fenomena) adalah dengan memanfaatkan kajian “(ilmu)titen”. Istilah ini dari bahasa Jawa yang merujuk pada tindakan untuk mengingat atau memberikan tanda (sebagai pengalaman) atas suatu pengalaman manusia. Gathak dan Gathuk membuat kesimpulan dengan berdasarkan pengalaman terdahulu.

Paradigma Gathak dan Gathuk sebagai ilmu Fenomenologi Jawa. Ilmu asli manusia Jawa yang juga berkembang pesat di Barat dengan istilah lain. Antara Fenomenologi dan Gathak-Gathuk, sejauh pengamatan saya sampai hari ini hanya memiliki perbedaan istilah, namun keduanya memiliki esensi yang sama: Pengalaman dunia kehidupan. Bukankah Fenomenologi sebagai pengalaman subjektif (pengalaman fenomenologikal) atau berdasarkan pendapat Husserl bahwa fenomenologi sebagai studi mengenai kesadaran dari perpektif pokok dari seseorang. Sekarang kita mencoba membandingkan dengan paradigma Gathak-Gathuk, bahwa “(ilmu)titen” atau mengingat adalah sebagai buah dari pengalaman subjektif (pengalaman fenomenologikal) dan kerja Gathak-Gathuk sebagai studi kesadaran di dalam menterjemahkan (atau memaknai) suatu fenomena.

Dapat saya pastikan, bahwa dari publik yang membaca ini akan mengatakan: Gathak-Gathuk itu tidak empiris. Memang akan terlihat tidak empiris bagi masyarakat yang tidak mengerti dengan proses kerjanya, akantetapi Fenomenologi pun menentang apa yang dinamakan sebagai empirisme. Fenomenologi hanya mendeskripsikan dunia setiap orang, juga mengenai sumber yang “tidak-disadari” yang mengorganisasikan kesadaran. Untuk lebih jauh lagi pembasahan mengenai paradigma Gathak-Gathuk akan saya uraikan dalam “JURNAL PEMBACA” Indonesia, yang semoga saja dapat terbit di awal April 2011 ini.

Kegelisahan itu yang menjadikan saya tega (ditambahi dengan beberapa alasan lain) untuk membiarkan kawan saya (Nurel Javissyarqi) untuk naik ojek. Baru tadi siang saya bisa mengusahakan untuk pergi, meski sepeda motor yang saya pakai sempat mogok berkali-kali. Pertemuan saya dengan Cak Nurel, sembari makan soto yang ternyata mahal, kami berbincang ngalor kemudian pergi ngidul (untuk ngalor dan ngidul lagi). Pembicaraan biasa, masalah lelaki, namun yang karena suatu tekatnya (niat baiknya) membawa pembicaraan itu ke masalah Kritik Sastra. Dari perbincangan beberapa menit, saya menemukan hal baru, mengenai keberadaan sastrawan dan kritikus sastra dan jarak diantara keduanya. Sketsa pembatas yang tidak dimengerti, kenapa harus ada diantara keduanya yang membuat dua hal ini berjarak dan terkesan “tidak-cocok”? Tapi jarak itu masih samar mengingat pandangan yang masih juga terhalangi.

Kritikus sastra terkesan elitis dengan berbagai titel dan jabatan yang mereka genggam, yang mungkin juga karena berbagai pengetahuan yang sudah direguk habis dalam studi panjang yang tidak murah. Sikap elitis itu, karena mereka sudah mendapatkan sebutan “kritikus sastra”, dapat saya pahami. Berdasarkan pengalaman semasa kuliah ketika menemukan fenomena “unik”. Yaitu ketika seorang kawan yang sedang menulis tugas akhir, kawan saya ini lupa menuliskan gelar S3 dosen pembimbingnya, yang karena memang baru saja lulus. Langsung saja si dosen yang sangat ilmiah ini tidak mau mengoreksi lantaran gelar yang besar itu tidak mengiringi nama panjangnya dan bilang: Saya kuliah untuk gelar ini perlu perjuangan yang tidak gratis. Fenomena yang memberikan saya bahan untuk melucu sembari menghabiskan Klembak-Menyan di warung kopi: ternyata seperti itu, gumam saya.

Kritikus yang elitis dengan menyandang gelar profesor, mungkin saja sudah merasa memiliki penguasaan ilmu yang tinggi. Menjadikan mereka tidak memiliki waktu lagi untuk memperhatikan gelisahan-gelisahan sastrawan dan juga kritikus sastra yang masih berumur 26 tahun dan bergelar S.S. (yang kata orang disebut sebagai: Sarjana Sudjana).

Ke-elitis-an seorang kritikus, mungkin disebabkan beberapa faktor lain. Misalnya saja, ketika ada sastrawan yang tiba-tiba mengajak berkomunikasi langsung mendapat dakwaan bahwa ada udang di balik batu (meski kadang di balik batu juga ada cacing). Maksud saya sebagai keinginan lain, untuk diangkat namanya melalui kegiatan Kritik Sastra sehingga si sastrawan menjadi populer (toh akhirnya “pop” juga) dan tercatat ke dalam buku besar sejarah sastra. Eh, tapi tenang saja, kelau semisal M.D. Atmaja berusaha membangun komunikasi itu hanya disebabkan faktor untuk mereguk tetesan embun sebagai saripati malam. Tidak lebih dari itu, sebab tidak mempermasalahkan akan tercatat ke dalam sejarah sastra yang super buram itu. Hal yang paling penting bagi seorang M.D. Atmaja adalah tercatat di dalam hati manusia. Jailah, saya langsung teringat dengan puisi Jalaluddin Rumi: “Kalau kita mati jangan mencari nisan di bumi, dapatkan itu dalam hati manusia.”

Akantetapi mungkin juga jarak diantara kritikus dengan sastrawan disebabkan dari sisi sastrawan itu sendiri. Maklum saja, sebagai seorang pemanifestasi saripati dunia, sastrawan terkadang bersifat “unik” (terjemahkan saja menurut interpretasi setiap kita). Atau memang barangkali musti ada jarak diantara mereka? Biarlah ini menjadi bahasan lain di lain kesempatan.

Dalam pembicaraan dengan Cak Nurel saya juga mendapatkan teguran, bahwa menurut beliau saya banyak menggunakan pengulangan yang tidak berarti apa-apa. Lha, langsung saja saya bantah dengan berstatmen kalau pengulangan-pengulangan itu sebagai teknik penyampaian pesan. Terkadang dengan pengulangan itu saja, kita masih jarang untuk mengerti akan pesan yang tertuang dalam sebuah karya, pesan atas sebuah pertanda. Kalau membicarakan pesan di dalam tanda, ujung-ujungnya saya akan membicarakan masalah Gathak dan Gathuk lagi, karena itu lebih baik kalau hal ini dikesampingkan lebih dahulu.

Kita langsung saja merujuk pada contoh: Televisi yang seringkali kita tunggui, berapa kali melakukan pengulangan iklan sampai menghabiskan biaya ber-M-M bahkan lebih (ber-M-M membuat saya teringat dengan cerita para pengikut Nabi yang merayakan ultah nama kumpulan dan menghabiskan ber-M-M itu, padahal Nabi berpesan: Hidup dengan sederhana).

Pengulangan adalah teknik penulisan dalam rangka menyampaikan pesan. Lha, pesan yang disiarkan lima kali dalam sehari masih nampak menjadi pesan (seruan) yang tidak sampai, apalagi kalau disampaikan sekali juga dengan bahasa yang rumit?

Semua ini, hanya tentang diri saya sendiri.

Sampai tiba waktunya saya beranjak pulang, Cak Nurel membingkisi dengan dua hal. Salah satunya 2 eksemplar buku yang baru selesai dicetak sebagai bingkisan manis dari Penerbit Pustaka Pujangga. Buku kumpulan cerpen yang juga mendapatkan dukungan (kata-kata) dari beberapa orang terkenal (masak seperti Pilpres, perlu dukungan?) Dalam kumpulan cerpen itu, baru saya ketahui kalau di dalamnya karya-karya lama yang sudah lama dan tercecer di mana-mana. Oh,.

Tulisan mengenai kumpulan cerpen itu akan saya teruskan besok. Malam sudah larut. A.R. Fadlurrahman juga sudah lelap setelah menangis karena lapar. Maklum, anak kecil suka menangis kalau lapar sebab belum bisa mengatakan: Pak, inyong kencot. Menangis seperti manusia dewasa di saat-saat tertentu. Ketakutan pada lapar yang akhirnya menggadaikan diri (identitas dan esensi) demi bisa makan dengan lezat dan mewah. Hanya makan saja lho, belum yang lainnya lagi. Bahkan mereka, ada yang sampai korupsi, bahkan mereka yang sudah “haji” dan mengatas-namakan pengikut Nabi.

Saya akhiri tulisan ini karena sudah waktunya untuk mengisi malam dengan perjalanan yang lain. Semoga bermanfaat. Amin.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Kamis Wage – malam Jumat Kliwon, 13 Maret 2011.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt