Kamis, Januari 06, 2011

Menggagas Kamus Besar Bahasa Lampung

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Kamus merupakan khazanah yang memuat perbendaharaan kata suatu bahasa, yang secara ideal tidak terbatas jumlahnya. Hal ini sesuai dengan arti kata kamus yang diserap dari bahasa Arab qamus (jamak: qawamis), yang berasal dari kata Yunani okeanos yang berarti “lautan”. Sejarah kata itu jelas memperlihatkan makna dasar yang terkandung dalam kata kamus, yaitu wadah pengetahuan, khususnya pengetahuan bahasa, yang tidak terhingga dalam dan luasnya.
Setiap kebudayaan besar di dunia bangga akan kamus bahasanya. Dalam kenyataannya kamus itu tidak hanya menjadi lambang kebanggaan suatu (suku) bangsa, tetapi juga mempunyai fungsi dan manfaat praktis. Kamus merupakan khazanah perbendaharaan kata suatu bahasa yang menggambarkan tingkat peradaban (suku) bangsa pemiliknya.

Setakat ini, kita memang sudah memiliki kamus bahasa Lampung. Upaya pertama penyusunan kamus tersebut dilakukan oleh M. Noeh dengan judul Kamus Bahasa Lampung. Kemudian menyusul Hilman Hadikusuma (HH) yang menyusun Kamus Bahasa Lampung (Mandar Maju, Bandung, 1994, 153 halaman); tetapi dalam bentuk diktat fotokopi sudah ada sejak 1984. Selanjutnya Fauzi Fattah (FF) dkk. menerbitkan Kamus Bahasa Lampung (Gunung Pesagi, Bandar Lampung, 2002, 80 halaman). Terakhir, Admi Syarif (AS) menyusun Kamus Lengkap Indonesia-Lampung, Lampung-Indonesia (Lembaga Penelitian Universitas Lampung, 2008, 379 halaman).

Dari keempat kamus tadi, tiga kamus disusun oleh perorangan, kecuali yang disusun oleh FF dkk. Kamus susunan HH dan FF dkk. meliputi dialek O dan A, bahkan pada kamus HH dilengkapi juga dengan 9 logat seturut 9 logat pada peta lingkungan bahasa Lampung yang diperkenalkan JW van Royen. Secara demikian, kamus HH adalah kamus umum. Sedangkan susunan AS hanya dialek O, secara demikian bukan kamus umum. Dari segi jumlah entri (lema), yang terbanyak adalah susunan HH karena merupakan kamus Lampung-Indonesia, sementara susunan AS meskipun lebih tebal tetapi jumlah lemanya lebih sedikit karena merupakan kamus Indonesia-Lampung sekaligus Lampung Indonesia. Kelebihan kamus susunan AS adalah karena dilengkapi dengan aksara Lampung (had Lampung). Bahkan AS yang dosen ilmu komputer juga menyusun kamus elektronik yang mampu menerjemah kata-kata atau kalimat dalam bahasa Lampung dialek O menjadi kata-kata atau kalimat bahasa Indonesia, dan sebaliknya.

Namun, saya memergoki kecerobohan. Pada halaman 24, misalnya, terdapat lema “bordil kain (kb), bordil kawai”. Mungkin maksudnya “bordir”, yang berarti sulaman; tekat; hiasan dari benang yang dijahitkan pada kain. Sedangkan “bordil” memiliki dua arti (1) rumah panjang terbagi oleh sekat-sekat yang membentuk banyak kamar; (2) rumah pelacuran. Juga pada halaman akhir terdapat Akko Lappung (Angka Lampung) yang masih menggunakan angka Arab, yaitu 1, 2, 3 dst. Perlu diingatkan, bahwa Lampung memiliki angka sendiri yang ditemukan oleh Yahya Ganda sebagaimana dimuat pada bagian lampiran (halaman 43) buku yang disusun oleh Yahya Ganda berjudul Aksara Lampung (penerbit CV Satya Dwi Wibawa, Tangerang, 1995).

Keempat kamus di atas adalah kamus dwibahasa, yang disusun dalam bahasa Lampung dan Indonesia. Dari keempat kamus tadi tentu saja tidak ada yang lengkap, meskipun AS mengklaim kamusnya sebagai kamus lengkap. Sejatinya, memang tidak pernah ada kamus lengkap karena kosakata dan istilah bahasa pada dasarnya terus tumbuh dan berkembang. Istilah kamus besar, misalnya, merujuk kepada makna yang bertalian dengan banyaknya informasi yang terkandung di dalamnya. Bahkan untuk mendaftar kosakata yang sudah ada saja, penyusun kamus masih sering luput.

Saya pernah memanfaatkan kamus-kamus tersebut untuk menerjemahkan sebuah reringget (salah satu bentuk puisi Lampung) dalam dialek O, tetapi tidak tuntas karena tidak menemukan kata suno, ngatemei, betatei, papak, senajin, ngerujung, dilekeu. Bagaimanapun juga, ini bukti bahwa kamus memang tidak pernah lengkap. Dalam ilmu perkamusan (leksikografi) tidak dikenal istilah kamus lengkap. Boleh jadi sebutan itu merupakan propaganda alias siasat dagang, seperti juga muncul pada kamus-kamus kecil yang berjudul raksasa semisal kamus satu miliar!

Para penyusun kamus di atas agaknya juga bukan linguis (ahli bahasa) atau pekamus (leksikograf). Hilman Hadikusuma adalah pakar hukum adat. Meskipun beliau menyusun kamus bahasa Lampung atau mengajar sastra Lampung, sejatinya hal itu merupakan kegiatan sampingan saja karena di dalam penjelajahan hukum adat yang ditekuninya beliau menemukan bahan-bahan itu dan pada zamannya memang belum ada pakar yang mengkhususkan diri pada ranah itu. Demikian pun Admi Syarif, beliau adalah seorang doktor engineering (teknik), bukan linguis.

Dengan ini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa bahasa Lampung melulu menjadi urusan para sarjana bahasa Lampung. Tegasnya, bahasa Lampung bukan hanya diurus sarjana bahasa Lampung, tetapi juga oleh munsyi. Dalam bahasa Indonesia (Melayu) kita mengenal Abdullah bin Abdulkadir dan Sutan Takdir Alisjahbana yang merupakan munsyi. Sementara J.S. Badudu dan Anton M. Moeliono adalah sarjana bahasa.

Munsyi adalah suatu kata yang lebih tepat dipahami pada komprehensi ganda antara seseorang dan inklanasi kesukacitaan berbahasa Lampung, dan karena itu terpanggil untuk menguasainya, dan seseorang yang tertantang untuk menghasilkan bentuk bahasa tulis yang kreatif dalam idealitas kepujangaan di atas sifat-sifat kedibyaan budaya. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan “munsyi” sebagai guru bahasa; ahli bahasa; pujangga.

Maka, para penyusun kamus bahasa Lampung tadi dapatlah kita sebut sebagai munsyi. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penyusun keempat kamus di atas, saya menilai bahwa kamus-kamus tadi belumlah memadai. Bak kata pepatah Lampung “bacak nenakan jak melasa; lebih baik cempedak daripada nangka”, maka “daripada tidak lebih baik ada”. Lain ungkapan, kamus-kamus tadi disusun—mengutip pepatah kembali—“seraya menunggu tukang tiba”.

Tetapi, siapakah para “tukang” itu? Di sini saya ingin menyebut Junariah, dosen Universitas Indonesia asal Lampung. Beliau adalah sarjana bahasa Indonesia yang juga menekuni bahasa Lampung dan pernah menyusun kamus bahasa Lampung. Demikian untuk menyebut sebuah nama. Nama lain yang ingin saya sebut adalah Hermanus Neubronner van der Tuuk (1824-94), yang karena tulisannya memiliki suatu kecemerlangan yang sangat tajam bisa menjadikan dirinya voltaire dari Hindia Belanda.

Van der Tuuk bertugas di Indonesia (Hindia Belanda) sebagai perwakilan dari Bible Society, (Nederlands Bijbelgenootschap), suatu organisasi misionaris yang justru dibencinya. Selama seperempat abad dia bekerja untuk Bible Society. Tugas pertamanya adalah di wilayah Batak Sumatra dan menghasilkan kamus Batak-Belanda, tata bahasa Batak Toba, dan menerjemahkan Injil dalam bahasa Batak. Pada tugasnya yang kedua dia ditugaskan di Bali.

Namun karena di Bali saat itu sedang terjadi epidemi, mustahil dia pergi ke sana. Itu baru terjadi pada April 1870, sampai kematiannya di sana pada 1894 dalam usia 70 tahun. Maka untuk sementara dia tinggal di Jawa. Selama tinggal di Jawa secara terpaksa ini dia menerima suatu tugas pemerintah untuk mempelajari bahasa yang dituturkan di distrik Lampung di Sumatra bagian selatan. Dia melakukan perjalanan menjelajah daerah itu selama hampir satu tahun.

Van der Tuuk menerima tugas itu, tanpa ragu, karena rasa ingin tahu alamiahnya terhadap bahasa-bahasa, tetapi juga karena dia ingin melarikan diri dari masyarakat Eropa. Dia tinggal di Lehan, Tarabanggi (Terbanggi) pada sebuah bangunan terbuka, tepat di seberang sungai Seputik (Seputih), dikelilingi oleh hutan.

Maka pada 24 Maret 1869 dia melakukan perjalanan menjelajahi distrik Lampung. Kemudian dia menerbitkan sejumlah manuskrip Lampung dan menulis banyak artikel tentang aspek-aspek bahasanya. Van der Tuuk memandang bahasa itu penting karena dia percaya bahwa bahasa Lampung mewakili suatu tingkat transisional antara bahasa-bahasa Sumatera dan jawa, dan merasakan bahwa studinya akan meningkatkan pengetahuan akan bahasa Jawa kuno atau Kawi.

Linguis lapangan ini melakukan penelitian bahasa dan sastra Lampung selama satu tahun pada 1869. Van der Tuuk membagi bahasa Lampung dalam dua dialek, yaitu dialek Abung dan dialek Pubian. Pembagian ini hanya melihat pada masyarakat beradat pepadun. Sementara itu, Van Royen membagi bahasa Lampung dalam dialek nyow (O) dan dialek api (A) dan membuat peta bahasa Lampung yang memuat 9 lingkungan bahasa (logat).

Pada akhir abad ke-19, perintis linguistik modern di Nusantara ini, setelah menjalani kajian lapangan di Sumatera Selatan pada 1862, sempat menyusun sebuah kamus bahasa Lampung setebal 600 halaman, yang dengan bantuan penutur lokal ditulisnya dalam aksara Lampung, yakni sejenis tulisan Indik. Ini berarti bahwa HN van der Tuuk adalah Bapak Leksikografi Lampung. Dalam buku suntingan Kees Groenceboer bertajuk Een vorst onder de taalgeleerden. Hermann Neubronner van der Tuuk, taalafgevaardigde voor Indie van het Nederlandsch Bijbelgenootschap, 1847-1873 (Leiden: KITLV Uitgeverij) halaman 23, Groenceboer melaporkan bahwa, “Onderweg werkte hij aan een Lampongs woordenboek. Dit woordenboek van circa zeshonderd dichtbeschreven pagina’s is echte nooit gepubliceerd, wellicht omdat er geen geschickte Lampongs drukletters beschikbaar waren (Sementara itu, dia menghasilkan sebuah kamus bahasa Lampung. Kamus ini, yang mengandung lebih kurang 600 halaman yang ditulis dengan padat sekali, belum diterbitkan, mungkin karena tiada cara untuk menerbitkan aksara (huruf) Lampung).”

Dalam tulisannya Van der Tuuk as Lexicografer (Archipel 51:113-34) Andreas Teuuw menyebutkan bahwa kamus tersebut dibawanya ke Bali ketika dia bertugas di sana pada 1870-1894. Dia berusaha menyuntingnya tetapi amun rupanya tak punya waktu karena kesibukannya menyusun kamus Kawi-Bali-Belanda, dan karena itu tidak pernah disuntingnya. Kamus Van der Tuuk ini perlu dilacak keberadaannya, semoga saja masih tersimpan di arsip KITLV (Koninklijk Instituut voor de Tall-, Land- en Volkenkunde) Negeri Belanda. Selain Van der Tuuk, peneliti Belanda lain juga melakukan pencatatan bahasa Lampung tetapi bukan dalam bentuk kamus melainkan daftar kata (woorden lijst) semisal O.L. Helfrich dalam bukunya Proeve van eene Lampongsch-Hollandsche woorden lijst bepaaldelijk voor het dialect van Kroe (1891), Daftar kata Lampung-Belanda ini dalam dialek Krui.

Pemerintah Provinsi Lampung perlu menghubungi lembaga tersebut secara resmi dan meminta salinannya. Langkah berikutnya adalah menerjemahkannya ke dalam bahasa Lampung dan bahasa Indonesia. Bagaimanapun juga, kamus Van der Tuuk adalah bahan yang amat berharga untuk menyusun kamus besar Bahasa Lampung. Kesulitan menerbitkan kamus tersebut pada zaman Van der Tuuk karena tidak ada cara untuk menerbitkan aksara Lampung kiranya sudah teratasi oleh temuan Admi Syarif yang telah berhasil membuat kamus elektronik bahasa Lampung dan juga membuat aksara Lampung dalam bentuk cetakan. Temuan Admi Syarif ini merupakan jawaban cerdas atas kesulitan yang dihadapi oleh Van der Tuuk.

Selanjutnya, perlu dibentuk tim penyusun kamus besar Bahasa Lampung dengan memanfaatkan kamus-kamus Lampung yang sudah ada khususnya kamus Van der Tuuk. Langkah raksasa ini perlu diambil agar kita memiliki kamus baku (standar). Upaya ini menjadi bernilai strategis mengingat bahasa Lampung diramalkan akan lenyap dalam tempo 75—100 tahun mendatang, seperti diteriakkan oleh pakar sosiolinguistik Asim Gunarwan pada suatu seminar tahun 1999. Kisah punahnya bahasa ini sungguh bukan dongeng pelanduk atau kancil. Saat ini, bahasa Lampung adalah satu di antara 289 bahasa daerah yang masih hidup. Kalau dulu, jumlah bahasa daerah se-Nusantara tidak kurang daripada 350-an, maka berarti sudah ada bahasa daerah yang lebih dulu lenyap. Malahan, dalam esainya bertajuk Para Teroris adalah Kita (Terorists R Us) yang dimuat dalam Adbuster vol. 13 No. 1 Januari/Februari 2004, Ziauddin Sardar menyatakan sepuluh bahasa mati setiap tahun. Ini berarti seluruh kebudayaan, gaya hidup, dan cara-cara hidup yang berbeda dari manusia lenyap dari muka bumi sebagai suatu akibat langsung dari terorisme kebudayaan yang kita hidupkan terus menerus terhadap dunia.

Oleh karena itu, Pemprov Lampung bersama Universitas Lampung perlu mengambil prakarasa untuk penyusunan dan penerbitan kamus besar Bahasa Lampung atau kamus balak Bahasa Lampung (KBBL) tersebut. Kamus besar adalah kamus yang memuat khazanah secara lengkap, termasuk kosakata istilah dari berbagai bidang ilmu yang bersifat umum. Paling tidak, dalam bentuk kamus umum, yaitu kamus yang memuat kata-kata yang digunakan dalam pelbagai ragam bahasa dengan keterangan makna dan penggunaannya, dengan menghindarkan istilah teknis atau kata yang digunakan di lingkungan terbatas.

Jika KBBL itu berhasil diterbitkan, dapatlah kita menyatakan bahwa kamus Lampung merupakan khazanah perbendaharaan kata bahasa Lampung yang menggambarkan tingkat peradaban suku-bangsa Lampung.

Betapa pun, kekayaan bahasa beserta aksara dan angka Lampung mesti diselamatkan, agar “mak lebon Lampung di bumi”; takkan hilang Lampung dari bumi. Upaya itu mesti kita lakukan mulai sekarang juga. Penyusunan kamus merupakan proses yang panjang. Setiap tahap dalam proses itu merupakan kumulasi dari penelitian dan analisis bahasa serta kegunaan praktis hasil proses sebelumnya. Setiap penerbitan kamus diarahkan kepada kecermatan pencatatan bahasa dan kesempurnaan penyusunan yang setinggi-tingginya, walaupun setiap terbitan tidak dapat dilepaskan dari “ideologi bahasa”.

Dalam hal yang terakhir ini, fungsi KBBL di atas kiranya bukanlah untuk memelihara kemurnian bahasa, melainkan berusaha mencatat dan menafsirkan pemakaian bahasa secara cermat, tanpa mendikte mana yang betul dan mana yang salah. Penyusunan KBBL itu adalah kerja besar dan perjalanan panjang. Perjalanan panjang selalu diawali dengan langkah pertama, kata Mao Zedong. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi, Tuan? Ki mak ganta kapan moneh, ki mak gham sapa moneh, pun?

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt