Senin, Januari 10, 2011

Kalap

Akhmad Fatoni
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Konon katanya, menurut cerita yang saya dengar sejak kecil. Kalap itu sejenis makhluk halus yang tinggal di air. Entah di sungai, di laut atau pun di danau. Bisa juga disebut sebagai makhluk halus yang menunggu tempat itu. Sehingga tempat itu dikeramatkan, bila berada di tempat itu harus berhati-hati dan tidak boleh berucap kotor. Bila tidak, maka akan hilang dan tak kembali. Konon orang hilang yang terkena Kalap itu sudah mati. Versi yang lain lagi bahwa orang yang hilang itu dijadikan abdi di alam lain, alam di mana Kalap itu tinggal. Versi lain lagi, bila kembali itu pun hanya bajunya saja, tetapi orangnya hilang.
Cerita Kalap terus turun-temurun dan dipercayai sebagai mitos di kampung saya. Ternyata setelah saya mencari tahu, mitos itu tidak hanya dipercaya di kampung saya saja, di kampung-kampung tetangga juga mempunyai tempat yang dijaga Kalap. Jadi ada beberapa tempat yang memang dipercayai ada Kalapnya. Di kampung saya, Kalap dipercaya menunggu Kedong Lengkong. Di kampung lain, terdapat di Sungai Wonokoyo dan di bantaran Kali Sepanjang, Sidoarjo. Untuk cerita di bantaran Kali Sepanjang, itu saya ketahui dari tetangga saya yang bekerja sebagai supir truk. Di mana ia selalu mengambil muatan dari sungai ke sungai, yang sudah dikumpulkan oleh warga sekitar kemudian dijual pada supir truk, seperti pada tetangga saya itu. Si supir truk tetangga saya itu kebetulan mengambil muatan di sekitar Kali Sepanjang. Saat itulah tetangga saya kecewa, sudah jauh-jauh tetapi tidak ada pasir yang bisa dimuat. Hal itu dikarenakan kemarin ada seorang pengambil pasir hilang tak diketemukan.

Kekosongan muatan itu sebenarnya tetangga saya juga tidak tahu penyebabnya. Namun sebelum meninggalkan lokasi, ada seorang pencari pasir lewat. Dan dipanggillah orang itu oleh tetangga saya. Barulah dari perbincangan itu, tetangga saya tahu kenapa tidak ada pasir. Cerita yang dituturkan si pencari pasir ke tetangga saya itu yakni kemarin ada orang menghilang, hilangnya orang itu dikarenakan lalap. Sebab di bantaran Kali Sepanjang memang ditunggui Kalap. Begitulah inti cerita si pencari pasir kepada tetangga saya. Ketakutan sebenarnya melanda seluruh warga, terutama para pencari pasir yang mengandalkan pendapatan dari sungai itu. Tetapi harus bagaimana lagi, para pencari pasir harus menerjang mitos itu demi menafkahi keluarga. Berusaha tidak menghiraukan mitos tentang adanya Kalap. Meski seperti itu, setiap bulan selalu ada saja yang hilang dan meninggal. Melihat kondisi satu persatu pencari pasir hilang, akhirnya sesepuh desa memutuskan untuk memberikan sesaji tiap bulan agar tidak ada lagi korban. Sesaji itu terdiri dari kembang tujuh rupa, nasi kuning yang berlauk udang.

Semenjak dilakukan ritual sesaji, kejadian orang hilang sudah tidak ada lagi. Namun sewaktu pencari pasir itu bercerita kepada tetangga saya, memang waktu itu warga lalai, yang ingat waktu untuk mengeluarkan sesaji hanya Sugondo, mudin desa. Karena Sugondo pergi menunaikan ibadah haji maka tak ada lagi yang tahu. Sehingga naas pun terjadi, sebab lupa tidak memberi sesaji. Konon si Kalap murka karena tidak ada sesaji, akhirnya membuat si Kalap mengambil korban warga sekitar yang sedang mencari pasir. Seluruh warga panik mendengar ada orang hilang lagi. Hal itu yang membuat seluruh warga bantaran Kali Sepanjang resah, lalu salah satu menelpon Sugondo. Namun usaha warga menelpon Sugondo juga sia-sia. Yang hilang tak mungkin dikembalikan lagi. Sukondo hanya berpesan, agar warga segera membuat sesaji, namun sesaji kali ini harus ditambah kembang telon dan telur angsa. Semenjak kejadian itu, warga sekitar kali Sepanjang sampai saat ini selalu mengadakan ritual sesembahan rutin tiap bulannya, dengan harapan tidak ada lagi orang yang hilang. Mendengar cerita tetangga saya itu, saya masih menyimpan tanya sekaligus tidak percaya. Apalagi sesaji yang disuguhkan bagi saya aneh. Yang membuat saya aneh dari beberapa rangkaian sesaji itu yakni udang. Kenapa harus udang? Kehadiran udang itu seperti tidak sinkron dengan beberapa fragmen sesaji yang lain.

Teka-teki itu terus menyelinap dan membuat saya terus resah. Sampai akhirnya, saya bermain ke rumah teman saya dan terjawablah teka-teki itu. Awalnya saya bercerita perihal sesaji itu pada teman saya, belum usai saya bercerita pada teman saya itu. Kakek teman saya itu, tiba-tiba memutus cerita saya. Mengambil alih saya sebagai sang pencerita waktu kemudian si kakek pun bercerita. Menurut kakek teman saya itu, Kalap memiliki tubuh seperti manusia pada umumnya. Akan tetapi ada bagian dari tubuhnya yang membuat berbeda dengan manusia yakni bentuk tangannya yang seperti supit kepiting dan di kepalanya ada bara api yang menyala-nyala. Di mana bara api itu digunakan oleh si Kalap untuk memanggang udang. Sebab si Kalap sangat suka dengan udang.

Atas dasar kesukaan si Kalap dengan udang, membuat si Kalap tidak mau diganggu sewaktu mencari udang. Entah ada orang di sekitarnya yang hanya melintas, mencuci atau apa pun. Maka orang itu oleh si Kalap langsung ditarik dan ditenggelamkan ke dalam air untuk disembunyikan. Mendengar cerita kakek dari teman saya itu, akhirnya teka-teki perihal sesaji yang dipersembahkan untuk si Kalap, terjawablah sudah. Kepercayaan akan keberadaan Kalap itu pun tidak begitu saja saya percayai. Saya tetap memberontak dan tidak mau percaya tentang hal-hal semacam itu. Ketidakpercayaan saya itu membuat saya terus mencari tahu, perihal Kalap itu.

***

Keragu-raguan saya terhadap cerita Kalap menjadi hilang ketika tetangga saya ada yang mati akibat Kalap. Namanya Ikhsan. Tetapi cerita kematian Ikhsan ini sangat lain dengan cerita-cerita yang selalu saya dengar.

Menurut cerita Kardi yang melihat peristiwa kematian Ikhsan. Kejadian berawal ketika ngerempah, mengalihkan aliran sungai. Setelah aliran tidak begitu deras obat ditaburkan dengan tujuan agar ikan-ikan pada bingung dan gelimbung. Setelah itu barulah menangkap ikan-ikan tersebut. Aktivitas mencari ikan mulai menyibukkan diri mereka masing-masing. Tidak mengurusi orang lain, tetapi segerombolan yang tadi berangkat bersama-sama untuk ngerempah mulai sibuk mencari cara bagaimana agar mendapatkan ikan banyak. Mengunakan jaring, seser, aret dan apapun dilakukan untuk menangkap ikan-ikan yang sedang limbung itu. Kemudian dimasukkan dalam tempat yang sudah disiapkan sebelum berangkat. Ada yang membawa kresek, tong atau hanya menggunakan alang-alang. Menyelundupkan dari sirip hingga tembus ke mulut ditumpuk hingga berjubel layaknya buah anggur yang masih menempel erat di tangkainya.

Kesibukan-kesibukan itulah yang membuat Ikhsan lalai. Ikhsan lupa bahwa di kedong Lengkong merupakan tempat yang angker. Nalar Ikhsan hilang ketika melihat rombongan ikan berduyun-duyun seperti pawai partai politik. Melihat itu, Ikhsan sigap dan mengejarnya hingga Ikhsan masuk dan mengikuti ikan-ikan itu makin ke tengah. Sontak Kardi yang melihat itu langsung berteriak, “San, jangan terlalu ke tengah, hati-hati.”

Ikhsan tak lagi memedulikan teriakan Kardi. Ikhsan makin ke tengah dan berenang ke dalam untuk menjaring ikan-ikan yang sedang limbung. Lama Ikhsan tidak njumbul. Kardi mulai panik, dan berteriak pada yang lain perihal yang ia lihat itu. Tak lama semuanya berkumpul di bibir kedung. Kecemasan mulai menghiasi seluruh wajah mereka. Ada yang komat-kamit mewirid apa yang ia percaya, memohon pada Tuhan, dengan harapan tidak terjadi apa-apa pada Ikhsan. Suasana hening nan senyap menyelimuti kedung. Keadaan makin mencekam setelah matahari terbenam, tetapi Ikhsan tak kunjung muncul. Semua orang diam, walau hanya sepatah kata. Yang terdengar hanya hembus nafas. Tetapi tiba-tiba Kardi memecah keheningan, “Hallo….Mbah Naim, saya Kardi.” Sontak semua mata tertuju pada Kardi. Tetapi tampaknya Kardi tak menghiraukan tatapan yang memojokkannya.

“Ini Ikhsan…tiba-tiba menghilang. Kami tadi berangkat ngerempah. Tapi Ikhsan menyelam di Kedong Lengkong dan belum muncul-muncul hingga sekarang.” Kardi memeragakan dengan tangan, dan matanya terpejam. Kemudian terdengar suara.

“Sudah berapa lama Ikhsan tak muncul setelah menyelam tadi?”

“Sdah agak lama mbah, kira-kira dua sampai tiga jam.” Mulut Kardi komat-kamit.

“Tadi kamu melihat kejadian sebelum Ikhsan menyelam hingga ia ke tengah kedung?”

“Iya…Mbah. Kebetulan saya tadi berada tidak jauh di belakang Ikhsan. Tadi ada segerombolan ikan lele, saya pun tadi sempat kaget dan tidak percaya. Jika saya perkirakan ikan-ikan itu sekitar 100-200. Melihat itu, Ikhsan langsung berlari mengejar. Berenang. Tapi ikan-ikan itu akhirnya menggiring Ikhsan ke Kedong Lengkong. Ikhsan tidak sadar akan hal itu. Sontak saya langsung berteriak mengingatkannya, tapi Ikhsan sepertinya sudah terhipnotis dengan begitu banyaknya ikan. Hingga Ikhsan pun menyelam dan masuk.”

Semua orang terpaku melihat Kardi, semua tak ada yang berkomentar. Seolah-olah semua percaya dan menaruh harap dengan Kardi. Memang di kampung saya, si Kardi cukup dikenal dan dipercaya. Banyak orang yang berobat ke Kardi dan sembuh.

“Ya sudah Kardi, sekarang pimpin orang-orang yang ada di sana untuk membacakan Ayat Kursi sebanyak 21 kali, tetapi sebelumnya kamu khususkan dulu ke Ikhsan, juga ke penjaga kedung.”
“Baiklah Mbah…terima kasih.” Setelah itu Kardi menutup telpon dan melakukan apa wejangan Mbah Naim. Kardi duduk di depan menghadap ke Kedung Lengkong dan di belakangnya semua orang duduk bersila. Ritual pun berjalan.

Setelah ritual selesai dilakukan, semua orang masih tidak ada yang bersuara. Di wajah mereka nampak keresahan, juga bulir-bulir keringat menetes, membuat mereka semakin tidak tenang. Hampir setengah jam, tidak ada tanda-tanda kemunculan Ikhsan. Kepanikan mulai melanda semua orang, hanya Kardi yang nampak masih tenang. Tiba-tiba Kardi menghampiri satu persatu semua orang dengan membawa tong. Kardi meminta kepada mereka semua untuk menyerahkan udang hasil tangkapan mereka. Setelah itu Kardi menuju ke bibir kedung lalu menyiramkan dengan pelan udang-udang dari tong yang ia bawa. Tak lama kemudian nampak tubuh Ikhsan melembang ke permukaan. Pelan-pelan Kardi berjalan ke tengah menuju jasad Ikhsan. Semua mata tertuju pada Kardi. Setelah sampai di pinggir kedung, beberapa orang membantu mengangkat tubuh Ikhsan. Namun wajah kecemasan kini diganti kesedihan, setelah melihat Ikhsan sudah meninggal.

***

Semenjak kejadian itulah, aku mulai memercayai akan kebenaran cerita tentang Kalap. Memang di jaman seperti ini, sudah banyak orang tidak percaya tentang kejadian semacam itu. Begitu pula dengan saya dan saya sebenarnya lebih setuju dengan jawaban teman saya sekantor. Ketika teman saya itu saya tanyai tentang Kalap ia menjawab dengan santainya, “Kalap itu ya Kepala Laboratorium. Padahal kau dikenal bahkan dijuluki Topan si kutu buku. Tapi Kalap saja tidak tahu.”

Mau tidak mau, setelah kematian Ikhsan saya mulai memercayai keberadaan Kalap. Dan saya hanya berpesan pada anda harap berhati-hati bila melintasi ketiga tempat itu. Kedung Lengkon, Kali Wonokoyo dan bantaran Kali Sepanjang Sidoarjo. Saya pun tidak memaksa anda percaya, tetapi hati-hati saja jangan sampai anda seperti Ikhsan dan si pencari pasir itu.
***

November 2010

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt