Memuat...

Sabtu, Januari 14, 2012

Bangsa yang Lapar Kejujuran

Muhammadun AS
http://www.suaramerdeka.com/

BANGSA yang tercinta ini sedang dilanda 'kelaparan'. Tidak hanya kelaparan dalam arti fisik, namun mentalitasnya juga sedang dilanda 'kelaparan'. Berbagai tragedi mengerikan yang menimpa selama ini, mulai dari tsunami, gempa bumi, dan busung lapar yang sampai saat ini masih merenggut jiwa, merupakan tamparan atas mentalitas bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis.

Berbagai bencana yang tahun lalu melanda Aceh tidaklah sebatas cermin kehancuran bangunan fisik, namun juga cermin keruntuhan bangunan peradaban. Bencana tersebut merupakan tamparan alam terhadap ulah manusia di muka bumi yang begitu angkuh, semena-mena, dan penuh kesombongan.

Demikian juga kelaparan. Tragedi yang menimpa rakyat miskin yang berulang-ulang, yang sekarang ada di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua yang diduga menewaskan 55 warga dan 112 sakit parah mengindikasikan bahwa para pejabat bangsa ini masih banyak mengidap penyakit kekenyangan elitisme, mengagungkan prestise, sehingga menyepelekan orang miskin. Tidak hanya kekenyangan elitisme, namun bangsa ini juga 'kenyang' korupsi. Ke-kenyangan mentalitas buruk bangsa ini mengindikasikan bahwa bangsa ini sedang 'lapar' kejujuran. 'Lapar' akan kejujuran ini menimpa siapa saja, mulai dari para politisi, birokrat, ekonom, mahasiswa, budayawan, bahkan rakyat miskin juga dilanda lapar kejujuran.

Para politisi sudah tidak mau lagi mendengarkan suara rakyat yang menuntut janji-janjinya saat kampanye dulu. Mereka 'duduk manis' di kursi Dewan mengatasnamakan wakil rakyat dan menjadikan rakyat miskin sebagai lahan proyek mengumpulkan kekayaan. Para birokrat melakukan praktik-praktik kolusi dan menjadikan lembaga pemeritahan sebagai 'lingkaran setan'.

Ekonom, budayawan, bahkan mahasiswa hanya bisa bersuara lantang, menuntut penegakan mentalitas bangsa, namun mereka juga terperangkap dengan elitisme, hanya mengobral wacana dan tidak mau turun di daerah memberdayakan rakyat miskin. Lebih parah lagi, rakyat kecil pun sekarang sudah banyak lapar kejujuran. Banyak orang miskin yang frustasi dan menghalalakan segala cara untuk mendapatkan materi. Rakyat kecil sudah terjebak dengan faham materialisme, di mana ukuran kehidupan adalah tercukupnya harta dan kekayaan, bukan ketenangan dan kedamaian. Penulis di sini bukannya menyalahkan semua orang, namun mengajak berefleksi bersama dengan fenomena seperti ini. Lapar akan kejujuran memang telah menimpa setiap dimensi ruang dan waktu bangsa tercinta ini, sehingga mengakibatkan banyak tragedi, tidak hanya tragedi fisik, namun juga tragedi kemanusiaan.

Urgensi Kejujuran

Manusia kok 'lapar' kejujuran! Sebetulnya, di manakah letak urgensi kejujuran? Menjawab pertanyaan ini, kita bisa menengok sosok Nabi Muhammad. Dialah Nabi yang menempatkan kejujuran sebagai sifat pertama kepemimpinannya. Kejujuran [sidiq] lebih diutamakan dari pada amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan ajaran), dan fathonah (kecerdasan).

Di sini sungguh di luar nalar manusia modern, di mana kecerdasan [fathonah] menempati urutan paling terakhir dari kepemimpinan beliau.

Kejujuran inilah yang perlu segera diresapi bangsa tercinta ini. Sejarah telah mencatat, bangsa ini selalu gagal membangun peradaban dengan strategi nalarnya, sebagaimana yang dilakukan Orde baru dan Orde Lama.

Namun, bangsa ini juga mencatat kesuksesan perjuangan yang dilandasi kejujuran dalam mengusir penjajah. Mengapa kita tidak belajar dari sejarah? Sudah saatnya kita kembali kepada peradaban genuine yang diwariskan leluhur kita.

Peradaban yang penuh kejujuran inilah yang akan memberikan harapan bangsa, sehingga KKN, busung lapar, dan krisis mentalitas lainnya segera berakhir. Amin.

-Muhammadun AS, peneliti pada Central for Studies of Religion and Culture [CSRC] Yogyakarta. /17 Desember 2005

0 komentar:

Pengikut

Blog Archive