Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/
Selama bertahun-tahun aku mengabdi di sekolah swasta. Jika dihitung sejak pertama aku berseragam safari, sudah hampir dua puluh lima tahun lamanya. Berkali-kali pula aku mengadu nasib mengikuti tes penerimaan pegawa negeri. Namun, berkali-kali pula kegagalan yang kudapatkan.
Sebagai guru swasta yang berhonor kecil, aku tetap melaksanakan tugas dengan ikhlas tanpa mengiri kepada para guru yang statusnya lebih mentereng. Setiap pagi aku selalu datang paling awal di sekolah yang berdinding kusam itu. Setiap pagi pula tangan anak-anak menjabat dan mencium tanganku lebih dahulu sebelum menjabat tangan guru-guru yang lain. Aku ikhlas ini adalah sebuah pengabdianku untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.
Usiaku sudah berkepala lima. Kata Pak Qosim, kepala sekolahku, aku sudah memasuki usia seksi. Aku kaget saat Pak Qosim mengatakan demikian.
”Apa maksud usia seksi?” tanyaku penasaran.
”Usia seksi itu, ya, usia seket siji !” sahutnya dengan enteng.
Kontan saja aku dan teman-teman tertawa karena plesetan ala Pak Qosim itu.
Harapanku menjadi pegawai negeri sudah tertutup. Karena usiaku saat ini sudah 51 tahun. Berarti itu usia yang sudah kedaluwarsa. Tapi semangatku untuk melaksanakan tugas tak surut. Aku tetap masuk mengajar dengan semangat pengabdian yang tinggi. Aku tak mau kalah dengan guru-guru muda yang baru saja bertugas di sekolah ini. Bahkan sebagai guru tua, aku harus bisa memberi contoh kepada mereka.
Tak pernah sedikit pun aku menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat apa dan bagaimana kinerja teman-teman seperjuangan. Aku tak pernah mengiri kepada guru-guru muda yang baru lulus kuliah kemudian langsung diangkat menjadi PNS. Aku tak pernah menegur atau menyindir mereka karena sering datang terlambat. Aku juga tidak pernah protes kepada kepala sekolah karena guru-guru muda yang statusnya sudah negeri itu mempunyai jam mengajar lebih sedikit daripada jumlah jam megajarku.
”Yang penting aku berusaha melaksanakan tugas yang diberikan kepadaku dengan sebaik-baiknya,” kataku dalam hati.
Pada siang hari saat jam istirahat, Pak Qosim memanggilku ke ruangannya. Aku tak tahu apa yang ingin disampaikan kepadaku. Demi rasa hormat aku memenuhi panggilannya.
”Ada apa Pak?”
”Silakan duduk dulu! Begini Pak Poniman, ini ada surat dari kantor tentang peluang guru usia lima puluh tahun ke atas untuk mengikuti program guru sertifikasi. Nah, di sekolah ini tinggal Bapak saja yang memenuhi kriteria itu. Pada hari Kamis lusa, ada undangan untuk mengikuti pengarahan pembuatan portofolio di kantor dinas. Bapak wajib datang, lho!”
”Alhamdulillah, Terima kasih Pak!” jawabku dengan riang.
”Ya, Pak. Sama-sama,”
Saya langsung keluar dari ruangan Pak Qosim dengan perasaan haru. Ternyata buah dari pengabdianku selama ini datang juga kepadaku. Aku mendapatkan kesempatan mengikuti program guru sertifikasi.
Usai menerima informasi dari kepala sekolah tentang peluang mengikuti program guru sertifikasi, yang terbayang dalam benakku adalah saya akan mendapatkan tunjangan guru profesional yang jumlahya setara dengan gaji pokok pegawai negeri.
***
Kini kumulai menata berkas instrumen portofolio yang harus kusetorkan ke dinas pada minggu depan. Beberapa piagam, SK, dan surat tugas yang berkitan dengan komponen-komponen yang ada dalam portofolio telah kupersiapkan.
Untuk menata berkas-berkas yang diperlukan itu, aku harus lembur hingga lima hari. Setelah itu, berkas yang tersusun rapi sesuai dengan petunjuk yang telah kudapatkan dari dinas, lantas kugandakan sebanyak lima bendel. Empat bendel kusetorkan kepada panitia dan yang satu kugunakan sebagai arsip.
Sepanjang hari kumenanti hasil penilain portofolio dengan rasa optimis yang tinggi. Dengan pengabdian yang cukup lama dan didukung dengan berkas-berkas yang banyak, aku menyongsong hasil penilaian portofolioku dengan memuaskan. Aku yakin pasti lulus tanpa mengikuti PLPG (Pendidikan dan pelatihan profesi guru).
Pagi hari saat aku membariskan anak-anak di halaman sekolah untuk persiapan pelaksanaan upacara bendera, Pak Qosim datang. Ia membawa tas warna hitam yang sarat dengan isinya. Aku melihat ia berisyarat memanggilku. Tangan kanannya melambai-lambai ke arahku. Agar jelas siapa yang ia maksud, aku menunjuk dadaku dengan jari telunjuk. Pak Qosim mengangguk. Kemudian aku bergegas mendekatinya. Ia mengajakku masuk ke kantor.
”Selamat, Pak! Bapak lulus portofolio. Sekarang Bapak telah masuk sebagai guru sertifikasi dan berhak mendapatkan tunjangan senilai gaji pokok pegawai negeri.,” ucap Pak Qosim dengan senyum gembira atas keberhasilanku dalam penilai portofolio.
”Benarkah yang Bapak sampaikan?” tanyaku penasaran.
”Jika Pak Pon tidak percaya, lihat selembar kertas pengumuman yang kubawa ini!” sahut Pak Qosim dengan mengeluarkan kertas pengumuman dari dalam tas hitamnya.
”Poniman,” bunyi tulisan dalam pengumuan tersebut. Aku lihat nomor pesertanya juga cocok dengan nomor pesertaku. Aku lantas bersujud syukur di hadapan Pak Qosim sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas karunia yang baru saja diberikan kepadaku.
***
Setahun lamanya aku menunggu kabar tentang tunjangan guru profesional. Namun selama itu juga belum ada kabar yang jelas dari kepala sekolah. Aku mencoba bertanya kepada guru yang seangkatan dengaku. Namun, ia juga belum mengetahui kapan tunjangan itu cair. Sebagai guru swasta dengan pangkat rendahan seperti saya ini hanya bisa pasrah menunggu dan menunggu pencairan tunjangan yang kumimpi-mimpikan.
Pada suatu hari aku bertemu dengan Pak Solihin. Dia juga guru berusia seksi yang mendapatkan kesempatan mengikuti program sertifikasi seperti aku. Dia juga lulus portofolio. Dia memberi kabar bahwa tunjangan itu akan cair dalam minggu ini. Menurut ceritanya, dia mendapatkan kabar ini dari pegawai dinas yang mengurusi nasib guru swasta yang berusia seksi.
“Kita akan merapel tunjangan tersebut selama dua belas bulan,” katanya.
”Alhamdulillah…!” sahutku.
Tapi berapa besarnya dia tidak cerita dan saya juga tak menanyakan itu kepadanya. Saya bisa lolos sertifikasi saja sudah untung-untungan. Berapa pun nanti yang akan saya terima, semua akan kuanggap sebagai karunia yang luar biasa dan wajib kusyukuri.
Apa yang disampaikan oleh Pak Solikin ternyata benar. Kepala sekolah mendapat instruksi dari atasannya bahwa guru sertifikasi yang telah lulus portofolio dapat mencairkan tunjangannya lewat bank yang telah ditunjuk oleh dinas yang terkait. Maka keesokan harinya saya pergi ke bank tersebut dan mencairkan tunjangan sertifikasi yang ternyata baru keluar enam bulan.
”Enam bulan berikutnya akan dicairkan pada minggu terkahir bulan ini,” kata petugas bank.
Saya sempat meneteskan air mata saat menerima uang dari bank itu. Aku terharu dengan tunjangan yang baru saja aku terima.
”Usai menerima tunjangan ini, aku harus melaksanakan tugas mengajar dengan lebih baik daripada sebelumnya,” Kata hati kecilku.
Tapi, bukan berarti aku harus berada di sekolah selama dua puluh empat jam dalam sehari. Itu keterlauan namanya. Saya kan juga punya keluarga di rumah yang juga membutuhkan perhatianku.
”Yang dimaksud dua puluh empat jam itu dalam satu minggu, bukan sehari,” jelas Pak Solikin yang juga ikut mengantre di bank saat itu.
”Ya, saya tahu itu. Saya pernah mendengar cerita bahwa ada guru yang telah menerima tunjangan sertifikasi harus seperti itu. Katanya dia harus siap di sekolah selama dua puluh empat jam,”
”Ah, itu tidak mungkin! Kepala sekolah tidak boleh semena-mena seperti itu. Itu sama saja dengan mlokotho guru!” putusnya.
”Jangan karena guru sudah mendapat tunjangan sertifikasi, lantas kepala sekolah seenaknya saja main perintah. Itu semua ada aturan mainnya!” tambahnya. Aku terus diam sambil memegangi uang yang baru saja kuterima.
Sebongkok uang telah kugenggam sebagai hasil pengabdianku selama ini. Aku sudah berencana akan menggunakan uang tersebut untuk memperbaiki tempat tinggalku yang sudah tak layak huni.
Sesampai di sekolah, Pak Qosim memanggilku. Dia lantas menyeret tangaku masuk ke ruang kerjanya. Saya didudukkan di kursi tepat di depan meja tugasnya.
”Ada apa, Pak!”
”Sudah Bapak cairkan uang tunjangannya?”
”Sudah, Pak. Baru cair enam bulan. Yang enam bulan berikutnya katanya akan dicairkan pada minggu terkahir bulan ini,”
”Saya ikut bahagia karena Bapak telah menerima tunjangan sertifikasi. Sebagai ucapan terima kasih atas karunia yang Bapak terima, kami telah membuat catatan-catatan perihal uang tunjangan Bapak,”
”Catatan? Apa maksudnya?”
”Begini Pak Pon, guru yang menerima tunjangan sertifikasi harus menyumbang ke sekolah sebanyak satu juta rupiah. Terus untuk kepala sekolah lima ratus ribu rupiah. Jadi, jumlah yang harus Bapak setorkan kepada saya adalah satu juta lima ratus ribu rupiah. Itu belum yang lain-lainnya. Misalnya, membelikan seragam teman-teman guru. Kalau Bapak membelikan kain seragam yang kualitasnya sedang, ya, sekitar sejutalah. Tapi yang terkahir ini kalau Pak Pon ikhlas, lho!” katanya.
Aku terperangah keheranan dengan apa yang baru saja disampaikan oleh kepala sekolah. Baru saja aku pulang dari bank, uang sudah dibetheti seperti ini.
”Nanti sampai di rumah tinggal berapa? Bagaimana dengan rencanaku? Apakah ada aturan resmi seperti itu? Kalau sifatnya itu syukuran mestinya, ya, terserah saya. Jangan dibandrol seperti itu,” grundelku.
Hatiku berkecamuk antara menolak atau menerima apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. Tapi demi keutuhan dan ketentraman di sekolah ini, aku harus menerima semua yang dikatakan oleh kepala sekolah. Saya tidak ingin dengan tunjangan seperti ini terus terjadi sikap saling bermusuhan sesama guru di sini.
“Baiklah, Pak! Ini uang satu juta lima ratus ribu untuk sekolah dan Bapak. Untuk teman-teman guru, ya, menunggu pencairan tunjangan yang berikutnya,”
“Nah, begitu. Ini namanya guru yang benar-benar profesional!” sanjungnya dengan menimang-nimang uang yang baru saja kuberikan. Setelah itu aku keluar dari ruang kepala sekolah dengan sedikit kecewa.
Perasaan dongkol tetap ada di dalam hatiku. Aku menggerutu sepanjang jalan yang kulalui.
”Pemerintah memberikan tunjangan guru senilai itu adalah demi mendongkrak semangat guru dalam melaksanakan tugasnya. Kalau kenyataannya seperti itu, jangan salahkan guru jika prestasi di sekolah tersebut tak ada perubahan setelah ada guru yang mendapatkan tunjangan profesi. Belum lagi tuntutan dari kepala sekolah yang meningkat tajam. Setiap kali ada pekerjaan untuk sekolah, sebentar-bentar guru sertifikasi, sedikit-sedkit guru sertifikasi. Guru akan semakin tertekan sehingga mereka tidak bisa mengembangkan potensi dan profesinya,” ungkap kejengkelanku yang kutumpahkan pada istriku di rumah.
Suasana rumah yang semestinya ceria berubah jadi hening berbalut kecewa lantaran uang tunjangan guru sertifikasiku dibetheti oleh kepala sekolah. Kusandarkan kepala pada dinding papan yang sudah dimakan usia. Aku mengantuk, lelah, lantas tertidur untuk menghilangkan rasa kecewa walau hanya sesaat.(*)
Desember 2009
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Jumat, Desember 30, 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzieb
A. Aziz Masyhuri
A. Hana N.S
A. Iwan Kapit
A. Khoirul Anam
A. Kurnia
A. Purwantara
A. Qorib Hidayatullah
A. Rego S. Ilalang
A. Syauqi Sumbawi
A.C. Andre Tanama
Aa Sudirman
Abd. Basid
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Ghofar
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Lathif
Abdul Malik
Abdul Muid Badrun
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Alawi
Abdullah Ubaid Matraji
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abonk El ka’bah
Acep Zamzam Noor
Ach. Nurcholis Majid
Achmad Farid Tuasikal
Achmad Maulani
Adi Faridh
Adi Marsiela
Adi Sucipto
Adian Husaini
Aditya Ardi N
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
AF. Tuasikal
Afnan Malay
Afrizal Malna
AG Hadzarmawit Netti
AG. Alif
Agama Para Bajingan
Agnes Majestika
Aguk Irawan M.N.
Agung Prihantoro
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Buchori
Agus M. Irkham
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus S Warman
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Aguslia Hidayah
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Badrus Sholihin
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Rafiq
Ahmad Rifa’i Rif’an
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Taufik
Ahmad Thohari
Ahmad Tohari
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akmal Nasery Basral
Al-Fairish
Alang Khoiruddin
Alex R Nainggolan
Ali Irwanto
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Alvi Puspita
Amang Mawardi
Ambarukminingsih
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Hamzah
Amirullah
Ana Mustamin
Anam Rahus
Andari Karina Anom
Andhi Setyo Wibowo
Andik Nurcahyo
AndongBuku #3
Andry Deblenk
Anindita S. Thayf
Aning Ayu Kusuma
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Antologi Sastra Lamongan
Anwari WMK
Aprillia Ika
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Junianto
Arif Bagus Prasetyo
Arif Firmansyah
Arifun Najib
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arys Hilman
Asarpin
Asep Sambodja
Asrama Mahasiswa Aceh Sabena
Asri Bariqah
Awalludin GD Mualif
Azumardi Azra
Azyumardi Azra
Baca Puisi
Badaruddin Amir
Balada
Bambang kempling
Bambang Satriya
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benni Indo
Benny Benke
Benny D Koestanto
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Koran
Bernada Rurit
Bernarda Rurit
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Palopo
Budi Purnomo
Buldanul Khuri
Bunda Zakyzahra Tuga
Bungaran Antonius Simanjuntak
Candrakirana
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cawapres Jokowi
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Che Guevara
Coronavirus
Cover Buku Kritik Sastra
Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II
Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV
Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V
D. Zawawi Imron
Dadan Maula Darmawan
Dadang Ari Murtono
Dahlan Kong
Damanhuri Zuhri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darmanto Jatman
Dedy Tri Riyadi
Dedykalee
Deni Ali Setiono
Deni Jazuli
Denny Ardiansyah
Denny JA
Denny Mizhar
Desa Glogok Karanggeneng Lamongan
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan
Dewi Indah Sari
Dhanu Priyo Prabowo
di Bluri
di Karangasem
Dian Sukarno
Diana AV Sasa
Diana Ifrina Ernawati
Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Dini Tri
Dinoroy M. Aritonang
Dion Maulana Prasetya
Diskusi buku
Djaka Susila
Djenar Maesa Ayu
Djesna Winada
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djulianto Susantio
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Dr. Hilma Rosyida Ahmad
Drs H Budiono Herusatoto
Drs H Choirul Anam
Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran)
Dudi Rustandi
Dunia Penerbitan Indonesia
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Nikmatika Roma
Dwi Pranoto
Dwidjo Maksum
Dyah Ayu Fitriana
Eddy D. Iskandar
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi Faisol
Edy Firmansyah
Edy Sartimin
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eko Hendri Saiful
El Sahra Mahendra
Elly Burhaini Faizal
Elly Trisnawati
Ellyn Novellin
Emerson Yuntho
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endang Supriyadi
Endi Haryono
Endri Y
Erdogan
Esai
Esha Tegar Putra
Esme Fadliha
Etik Widya
Evan Ys
Evieta Fadjar
F Rahardi
Fadjriah Nurdiarsih
Fahmi
Fahrudin Nasrulloh
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faris Al Faisal
Fariz al-Nizar
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Felix K. Nesi
Festival Mocosik
Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta
Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta
Festival Teater Religi
Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan
festivalsenisurabaya.com
Fikri. MS
Firdawsi
Fortus Pake
Forum Lingkar Pena
Forum Lingkar Pena Lamongan
Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L)
Forum Santri Nasional
Foto
Franditya Utomo
Fransiskus Nesten Marbun ST
Franz Magnis-Suseno
Friski Riana
Fuad Hasan Nasihin
Fuji Pratiwi
Furqon Lapoa
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Gde Artawa
Gede Mugi Raharja
Gedung Sabudga UNISDA Lamongan
Gedung Sangbala
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gito Waluyo
Goenawan Mohamad
Golput
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin
Gus Dur
H Ikhsan Effendi
H. Usep Romli H.M
H.B. Jassin
H.O.S Cokroaminoto
Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf
Hadi Napster
Hadziq Jauhary
Halim H.D.
Halimatussa’diyah
Hamberan Syahbana
Hamluddin
Hana Pertiwi
Hanif Nashrullah
Hardono
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Haris Priyatna
Haris Saputra
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Basri
Hasan Junus
Hasanuddin WS
Hasnan Bachtiar
Helmi Y Haska
Helmy Tasaufy
Hera Khaerani
Herdiyan
Heri C Santoso
Heri Latief
Herman
Herman Hasyim
Herman RN
Herry Lamongan
Herry Mardianto
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Homaedi
I Made Asdhiana
I Nyoman Suaka
I Wayan Seriyoga Parta
IBM. Dharma Palguna
Ibnu PS Megananda
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Fitri
Ignas Kleden
Ilham Safutra
Ilham Wancoko
Imam Mustofa
Imam Nawawi
Imam Qodim Al-Haromain
Imam Zanatul Huaeri
Imamuddin SA
Imelda
Imron Arlado
Imron Rosidi
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indrian Koto
Ingki Rinaldi
Ipik Tanoyo
Ire
Irvan Sihombing
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismet NM Haris
Ismi Wahid
Isnanur Janah
Iswadi Pratama
Isyana Artharini
Iwan Nurdaya-Djafar
Iwank
Jadid Al Farisy
Jafar M Sidik
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jazzi
Jejak Laskar Hisbullah Jombang
Jembatan Kuno Yang Misterius
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jo Batara Surya
Jodhi Yudono
Jogjanews.com
John Joseph Sinjal
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jual Buku Paket Hemat
Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN
Jumartono
Jurnalisme Sastra
Jusuf A.N
K.H. M. Najib Muhammad
K.H. Ma’ruf Amin
K.Y. Karnanta
Kadjie Mudzakir
Kaheesa Kirania Putri Ayu
Kang Daniel
Kapal Nabi Nuh
Karanggeneng
Karkono
Kasnadi
Katrin Bandel
Kautsar Muhammad
Kedai Kopi Sastra
Kedung Darma Romansha
Kemah Budaya Panturan (KBP)
KH Abdul Ghofur
KH Bisri Syansuri
KH. Abdul Aziz Masyhuri
KH. M. Najib Muhammad
KH. Ma'ruf Amin
Khairul Mufid Jr
Khoirul Abidin
Khoirul Inayah
Ki Ompong Sudarsono
Ki Supriyoko
Kiagus Wahyudi
Kika Dhersy Putri
Kitab Arbain Nawawi
KITLV
Koh Young Hun
Koko Sudarsono
Kompas TV
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan
Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA)
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA)
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Komunitas-komunitas Teater di Lamongan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)
Kopi Bubuk Mbok Djum
Kopi Sunan Drajat
Kopuisi
Koskow
Kostela
KPRI IKMAL Lamongan
Krisman Kaban
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kulonprogo
Kurnia Effendi
Kurnia Sari Aziza
Kurniawan
Kurniawan Junaedhie
Kurniawan Muhammad
Kuswinarto
L Ridwan Muljosudarmo
Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan
Lagu
Lailiyatis Sa'adah
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU)
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Linda Sarmili
Literasi
Liza Wahyuninto
Lugiena De
Lukas Adi Prasetyo
Lukisan
Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP
Lukman Alm
Lukman Santoso Az
Luqman Almishr
Lusia Kus Anna
Lutfi S. Mendut
Lynglieastrid Isabellita
M Zainuddin
M. Afif Hasbullah
M. Faizi
M. Lutfi
M. Mushthafa
M. Romandhon
M. Sunyoto
M. Yoesoef
M. Yunis
M.D. Atmaja
M’Shoe
Made Geria
Mahendra Cipta
Mahfud Ikhwan
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahrus eL-Mawa
Majelis Ulama Indonesia
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Maqhia Nisima
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Mardiansyah Triraharjo
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma Wulan
Medco
Media Lamongan
Mega Vristian
Mei Anjar Wintolo
Meka Nitrit Kawasari
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Memoar
Memoar Purnama di Kampung Halaman
Mentari Meida
Mh Zaelani Tammaka
MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1
Mia Arista
Michael Gunadi Widjaja
Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno)
Miftahul A’la
Misbahus Surur
Moch. Faisol
Mochammad A. Tomtom
Moh. Ghufron Cholid
Moh. Jauhar al-Hakimi
Moh. Samsul Arifin
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Afifi
Mohammad Ali Athwa
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Rafi Azzamy
MTs Putra-Putri Simo Sungelebak
Muh Kholid A.S
Muhammad Al-Mubassyir
Muhammad Alfatih Suryadilaga
Muhammad Amin
Muhammad Arif
Muhammad Aris
Muhammad Eko Nugroho
Muhammad Hidayat
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Musa
Muhammad N. Hassan
Muhammad Rasyid Ridho
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M. Dahlan
Mukafi Niam
Mukhsin Amar
Mulyani Hasan
Mulyo Sunyoto
Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Musfarayani
Musfi Efrizal
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nadine Tri Duhita
Naim
Nanang Suryadi
Naqib Najah
Naskah Teater
Nasrullah Nara
Nazaruddin Azhar
Neli Triana
Ngatini Rasdi
Nh. Anfalah
Ni Luh Made Pertiwi F
Ni Made Frischa Aswarini
Ninuk Mardiana Pambudy
Nono Anwar Makarim
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Noval Maliki
Novel
Novel Pekik
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nur Hayati
Nur Kholiq
Nur Kholis Huda
Nurani Soliha
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi
Obrolan
Ochi
Oil on Canvas
Oky Sanjaya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Paciran
Pameran Seni Rupa
Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik
Panji Satrio
Patung Sphinx
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
Pekan Literasi Lamongan 2020
Pelukis Dahlan Kong
Pelukis Harjiman
Pelukis Jumartono
Pelukis Saron
Pelukis Senior Tarmuzie
Pendidikan
Penerbit Progresif
Penerbit PUstaka puJAngga
Penerbit SastraSewu
Pengajian
Pengetahuan
Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Pesantren Sunan Drajat
Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011
Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur
Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur
Politik
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringgo HR
Prof Dr Achmad Zahro
Prof Dr Aminuddin Kasdi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puji Santosa
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Puspita Rose
Pustaka GU
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putri Utami
Putu Setia
Putu Wijaya
R. N. Bayu Aji
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rafita Dewi
Rahmah Maulidia
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rameli Agam
Rana Akbari
Raras Cahyafitri
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Rengga AP
Resensi
Revdi Iwan Syahputra
Riadi Ngasiran
Rian Sindu
Ribut Wijoto
Ridlwan
Ridwan Munawwar
Riki Utomi
Rinny Srihartiny
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Robert Adhi Kusumaputra
Robin Al Kautsar
Roby Karokaro
Rodli TL
Rof Maulana
Rofiqi Hasan
Rojiful Mamduh
Rokhim Sarkadek
Rosdiansyah
Rosi
Rosidi
Rudi S. Kalianda
Rukardi
Rumah Budaya Pantura
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rumah Budaya Pantura Lamongan
Rx King Motor
S Jai
S Yoga
S.W. Teofani
Sabiq Carebesth
Sabrank Suparno
Sabrina Asril
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salim Alatas
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Pasir
Sanggar Pasir Art and Culture
Sanggar Rumah Ilalang
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Saratri Wilonoyudho
Sari Oktafiana
Sasti Gotama
Sastra
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sejarah
SelaSastra
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
Selvie Monica S
Sendang Duwur Tahun 1920
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Shiny.ane el’poesya
Shohebul Umam JR
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sifa
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Simon Saragih
Sirikit Syah
Siti Muti’ah Setiawati
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Slavoj Zizek
Soelistijono
Soetanto Soepiadhy
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Sohirin
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sreismitha Wungkul
Sri Mulyani
Sri Wintala Achmad
ST Indrajaya
Stanley Adi Prasetyo
Stefanus P. Elu
Suci Ayu Latifah
Sudarmoko
Sudirman Hasan
Sugeng Ariyadi
Sugeng Wiyadi
Sugiarto
Sugito Wira Yuda
Suhartono
Sujatmiko
Sukardi Rinakit
Sukitman
Sumenep
Sunarno Wibowo
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susie Evidia Y
Sutamat Arybowo
Sutardi
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Suyatmin Widodo
Svet Zakharov
Syaf Anton Wr
Syaiful Bahri
Syaiful Irba Tanpaka
Syaiful Mustaqim
Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili
Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari
Syamsul Arifin
Syi'ir
Tamrin Bey
TanahmeraH ArtSpace
Tanjung Kodok Tahun 1947
Tasman Banto
Taufik Rachman
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teater
Teater Air
Teater Bias
Teater Biru
Teater Cepak
Teater Dua
Teater Ganast MAN Lamongan
Teater Kanjeng
Teater Lingkar Merah Putih
Teater Mikro
Teater nDrinDinG
Teater Nusa
Teater Padi
Teater Sakalintang
Teater Sangbala
Teater Sundra
Teater Tali Mama
Teater Taman
Teater Tewol
Teater Tewol Lamongan
Teguh LR
Teguh Winarsho AS
Temu Karya Teater Jawa Timur XXI
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thamrin Dahlan
Tharie Rietha
The Ibrahim Hosen Institute (IHI)
Thohir
Thompson Hs
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
To Take Delight
Toni Munajat
Tosa Poetra
Tri Andhi S
Tri Wahono
Trisno S. Sutanto
Triyanto triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Umar Fauzi
Umbu Landu Paranggi
Unieq Awien
Universitas Airlangga Surabaya
Universitas Jember
Untung Basuki
Ustadz Charis Bangun Samudra
Utami Diah Kusumawati
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Veven Sp. Wardhana
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wachid Nuraziz Musthafa
Wahyu Aji
Wahyudi Zuhro
Wan Anwar
Warjati Suharyono
Wawan Eko Yulianto
Wawan Hudiyanto
Wawancara
Wayan Sunarta
Welly Suryandoko
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wong Wing King
Wuri Kartiasih
Y. Wibowo
Yanuar Jatnika
Yanuar Yachya
Yaumu Roikha
Yayasan Thoriqotul Hidayah 1
Yerusalem Ibu Kota Palestina
Yesi Devisa
YF La Kahija
Yogyo Susaptoyono
Yohanes Sehandi
Yok’s Slice Priyo
Yoks Kalachakra
Yona Primadesi
Yonathan Rahardjo
Yudi Latief
Yuli
Yuni Ikawati
Yurnaldi
Yushifull Ilmy
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Zahrotun Nafila
Zaim Uchrowi
Zainal Arifin Thoha
Zaki Zubaidi
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimras
Zen Hae
Zuhdi Swt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar