Jumat, Desember 30, 2011

Pak Poniman

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Selama bertahun-tahun aku mengabdi di sekolah swasta. Jika dihitung sejak pertama aku berseragam safari, sudah hampir dua puluh lima tahun lamanya. Berkali-kali pula aku mengadu nasib mengikuti tes penerimaan pegawa negeri. Namun, berkali-kali pula kegagalan yang kudapatkan.

Sebagai guru swasta yang berhonor kecil, aku tetap melaksanakan tugas dengan ikhlas tanpa mengiri kepada para guru yang statusnya lebih mentereng. Setiap pagi aku selalu datang paling awal di sekolah yang berdinding kusam itu. Setiap pagi pula tangan anak-anak menjabat dan mencium tanganku lebih dahulu sebelum menjabat tangan guru-guru yang lain. Aku ikhlas ini adalah sebuah pengabdianku untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.

Usiaku sudah berkepala lima. Kata Pak Qosim, kepala sekolahku, aku sudah memasuki usia seksi. Aku kaget saat Pak Qosim mengatakan demikian.

”Apa maksud usia seksi?” tanyaku penasaran.

”Usia seksi itu, ya, usia seket siji !” sahutnya dengan enteng.

Kontan saja aku dan teman-teman tertawa karena plesetan ala Pak Qosim itu.

Harapanku menjadi pegawai negeri sudah tertutup. Karena usiaku saat ini sudah 51 tahun. Berarti itu usia yang sudah kedaluwarsa. Tapi semangatku untuk melaksanakan tugas tak surut. Aku tetap masuk mengajar dengan semangat pengabdian yang tinggi. Aku tak mau kalah dengan guru-guru muda yang baru saja bertugas di sekolah ini. Bahkan sebagai guru tua, aku harus bisa memberi contoh kepada mereka.

Tak pernah sedikit pun aku menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat apa dan bagaimana kinerja teman-teman seperjuangan. Aku tak pernah mengiri kepada guru-guru muda yang baru lulus kuliah kemudian langsung diangkat menjadi PNS. Aku tak pernah menegur atau menyindir mereka karena sering datang terlambat. Aku juga tidak pernah protes kepada kepala sekolah karena guru-guru muda yang statusnya sudah negeri itu mempunyai jam mengajar lebih sedikit daripada jumlah jam megajarku.

”Yang penting aku berusaha melaksanakan tugas yang diberikan kepadaku dengan sebaik-baiknya,” kataku dalam hati.

Pada siang hari saat jam istirahat, Pak Qosim memanggilku ke ruangannya. Aku tak tahu apa yang ingin disampaikan kepadaku. Demi rasa hormat aku memenuhi panggilannya.

”Ada apa Pak?”

”Silakan duduk dulu! Begini Pak Poniman, ini ada surat dari kantor tentang peluang guru usia lima puluh tahun ke atas untuk mengikuti program guru sertifikasi. Nah, di sekolah ini tinggal Bapak saja yang memenuhi kriteria itu. Pada hari Kamis lusa, ada undangan untuk mengikuti pengarahan pembuatan portofolio di kantor dinas. Bapak wajib datang, lho!”

”Alhamdulillah, Terima kasih Pak!” jawabku dengan riang.

”Ya, Pak. Sama-sama,”

Saya langsung keluar dari ruangan Pak Qosim dengan perasaan haru. Ternyata buah dari pengabdianku selama ini datang juga kepadaku. Aku mendapatkan kesempatan mengikuti program guru sertifikasi.

Usai menerima informasi dari kepala sekolah tentang peluang mengikuti program guru sertifikasi, yang terbayang dalam benakku adalah saya akan mendapatkan tunjangan guru profesional yang jumlahya setara dengan gaji pokok pegawai negeri.
***

Kini kumulai menata berkas instrumen portofolio yang harus kusetorkan ke dinas pada minggu depan. Beberapa piagam, SK, dan surat tugas yang berkitan dengan komponen-komponen yang ada dalam portofolio telah kupersiapkan.

Untuk menata berkas-berkas yang diperlukan itu, aku harus lembur hingga lima hari. Setelah itu, berkas yang tersusun rapi sesuai dengan petunjuk yang telah kudapatkan dari dinas, lantas kugandakan sebanyak lima bendel. Empat bendel kusetorkan kepada panitia dan yang satu kugunakan sebagai arsip.

Sepanjang hari kumenanti hasil penilain portofolio dengan rasa optimis yang tinggi. Dengan pengabdian yang cukup lama dan didukung dengan berkas-berkas yang banyak, aku menyongsong hasil penilaian portofolioku dengan memuaskan. Aku yakin pasti lulus tanpa mengikuti PLPG (Pendidikan dan pelatihan profesi guru).

Pagi hari saat aku membariskan anak-anak di halaman sekolah untuk persiapan pelaksanaan upacara bendera, Pak Qosim datang. Ia membawa tas warna hitam yang sarat dengan isinya. Aku melihat ia berisyarat memanggilku. Tangan kanannya melambai-lambai ke arahku. Agar jelas siapa yang ia maksud, aku menunjuk dadaku dengan jari telunjuk. Pak Qosim mengangguk. Kemudian aku bergegas mendekatinya. Ia mengajakku masuk ke kantor.

”Selamat, Pak! Bapak lulus portofolio. Sekarang Bapak telah masuk sebagai guru sertifikasi dan berhak mendapatkan tunjangan senilai gaji pokok pegawai negeri.,” ucap Pak Qosim dengan senyum gembira atas keberhasilanku dalam penilai portofolio.

”Benarkah yang Bapak sampaikan?” tanyaku penasaran.

”Jika Pak Pon tidak percaya, lihat selembar kertas pengumuman yang kubawa ini!” sahut Pak Qosim dengan mengeluarkan kertas pengumuman dari dalam tas hitamnya.

”Poniman,” bunyi tulisan dalam pengumuan tersebut. Aku lihat nomor pesertanya juga cocok dengan nomor pesertaku. Aku lantas bersujud syukur di hadapan Pak Qosim sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas karunia yang baru saja diberikan kepadaku.
***

Setahun lamanya aku menunggu kabar tentang tunjangan guru profesional. Namun selama itu juga belum ada kabar yang jelas dari kepala sekolah. Aku mencoba bertanya kepada guru yang seangkatan dengaku. Namun, ia juga belum mengetahui kapan tunjangan itu cair. Sebagai guru swasta dengan pangkat rendahan seperti saya ini hanya bisa pasrah menunggu dan menunggu pencairan tunjangan yang kumimpi-mimpikan.

Pada suatu hari aku bertemu dengan Pak Solihin. Dia juga guru berusia seksi yang mendapatkan kesempatan mengikuti program sertifikasi seperti aku. Dia juga lulus portofolio. Dia memberi kabar bahwa tunjangan itu akan cair dalam minggu ini. Menurut ceritanya, dia mendapatkan kabar ini dari pegawai dinas yang mengurusi nasib guru swasta yang berusia seksi.

“Kita akan merapel tunjangan tersebut selama dua belas bulan,” katanya.

”Alhamdulillah…!” sahutku.

Tapi berapa besarnya dia tidak cerita dan saya juga tak menanyakan itu kepadanya. Saya bisa lolos sertifikasi saja sudah untung-untungan. Berapa pun nanti yang akan saya terima, semua akan kuanggap sebagai karunia yang luar biasa dan wajib kusyukuri.

Apa yang disampaikan oleh Pak Solikin ternyata benar. Kepala sekolah mendapat instruksi dari atasannya bahwa guru sertifikasi yang telah lulus portofolio dapat mencairkan tunjangannya lewat bank yang telah ditunjuk oleh dinas yang terkait. Maka keesokan harinya saya pergi ke bank tersebut dan mencairkan tunjangan sertifikasi yang ternyata baru keluar enam bulan.

”Enam bulan berikutnya akan dicairkan pada minggu terkahir bulan ini,” kata petugas bank.

Saya sempat meneteskan air mata saat menerima uang dari bank itu. Aku terharu dengan tunjangan yang baru saja aku terima.

”Usai menerima tunjangan ini, aku harus melaksanakan tugas mengajar dengan lebih baik daripada sebelumnya,” Kata hati kecilku.

Tapi, bukan berarti aku harus berada di sekolah selama dua puluh empat jam dalam sehari. Itu keterlauan namanya. Saya kan juga punya keluarga di rumah yang juga membutuhkan perhatianku.

”Yang dimaksud dua puluh empat jam itu dalam satu minggu, bukan sehari,” jelas Pak Solikin yang juga ikut mengantre di bank saat itu.

”Ya, saya tahu itu. Saya pernah mendengar cerita bahwa ada guru yang telah menerima tunjangan sertifikasi harus seperti itu. Katanya dia harus siap di sekolah selama dua puluh empat jam,”

”Ah, itu tidak mungkin! Kepala sekolah tidak boleh semena-mena seperti itu. Itu sama saja dengan mlokotho guru!” putusnya.

”Jangan karena guru sudah mendapat tunjangan sertifikasi, lantas kepala sekolah seenaknya saja main perintah. Itu semua ada aturan mainnya!” tambahnya. Aku terus diam sambil memegangi uang yang baru saja kuterima.

Sebongkok uang telah kugenggam sebagai hasil pengabdianku selama ini. Aku sudah berencana akan menggunakan uang tersebut untuk memperbaiki tempat tinggalku yang sudah tak layak huni.

Sesampai di sekolah, Pak Qosim memanggilku. Dia lantas menyeret tangaku masuk ke ruang kerjanya. Saya didudukkan di kursi tepat di depan meja tugasnya.

”Ada apa, Pak!”

”Sudah Bapak cairkan uang tunjangannya?”

”Sudah, Pak. Baru cair enam bulan. Yang enam bulan berikutnya katanya akan dicairkan pada minggu terkahir bulan ini,”

”Saya ikut bahagia karena Bapak telah menerima tunjangan sertifikasi. Sebagai ucapan terima kasih atas karunia yang Bapak terima, kami telah membuat catatan-catatan perihal uang tunjangan Bapak,”

”Catatan? Apa maksudnya?”

”Begini Pak Pon, guru yang menerima tunjangan sertifikasi harus menyumbang ke sekolah sebanyak satu juta rupiah. Terus untuk kepala sekolah lima ratus ribu rupiah. Jadi, jumlah yang harus Bapak setorkan kepada saya adalah satu juta lima ratus ribu rupiah. Itu belum yang lain-lainnya. Misalnya, membelikan seragam teman-teman guru. Kalau Bapak membelikan kain seragam yang kualitasnya sedang, ya, sekitar sejutalah. Tapi yang terkahir ini kalau Pak Pon ikhlas, lho!” katanya.

Aku terperangah keheranan dengan apa yang baru saja disampaikan oleh kepala sekolah. Baru saja aku pulang dari bank, uang sudah dibetheti seperti ini.

”Nanti sampai di rumah tinggal berapa? Bagaimana dengan rencanaku? Apakah ada aturan resmi seperti itu? Kalau sifatnya itu syukuran mestinya, ya, terserah saya. Jangan dibandrol seperti itu,” grundelku.

Hatiku berkecamuk antara menolak atau menerima apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. Tapi demi keutuhan dan ketentraman di sekolah ini, aku harus menerima semua yang dikatakan oleh kepala sekolah. Saya tidak ingin dengan tunjangan seperti ini terus terjadi sikap saling bermusuhan sesama guru di sini.

“Baiklah, Pak! Ini uang satu juta lima ratus ribu untuk sekolah dan Bapak. Untuk teman-teman guru, ya, menunggu pencairan tunjangan yang berikutnya,”

“Nah, begitu. Ini namanya guru yang benar-benar profesional!” sanjungnya dengan menimang-nimang uang yang baru saja kuberikan. Setelah itu aku keluar dari ruang kepala sekolah dengan sedikit kecewa.

Perasaan dongkol tetap ada di dalam hatiku. Aku menggerutu sepanjang jalan yang kulalui.

”Pemerintah memberikan tunjangan guru senilai itu adalah demi mendongkrak semangat guru dalam melaksanakan tugasnya. Kalau kenyataannya seperti itu, jangan salahkan guru jika prestasi di sekolah tersebut tak ada perubahan setelah ada guru yang mendapatkan tunjangan profesi. Belum lagi tuntutan dari kepala sekolah yang meningkat tajam. Setiap kali ada pekerjaan untuk sekolah, sebentar-bentar guru sertifikasi, sedikit-sedkit guru sertifikasi. Guru akan semakin tertekan sehingga mereka tidak bisa mengembangkan potensi dan profesinya,” ungkap kejengkelanku yang kutumpahkan pada istriku di rumah.

Suasana rumah yang semestinya ceria berubah jadi hening berbalut kecewa lantaran uang tunjangan guru sertifikasiku dibetheti oleh kepala sekolah. Kusandarkan kepala pada dinding papan yang sudah dimakan usia. Aku mengantuk, lelah, lantas tertidur untuk menghilangkan rasa kecewa walau hanya sesaat.(*)

Desember 2009

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt