Senin, Desember 19, 2011

N Y E K A R

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Ibu ingin nyekar. Keinginan itu disampaikannya berulang-ulang. Ibu ingin seperti umumnya warga di kampung kami. Bersiap jelang bulan suci Ramadhan dengan nyekar. Tradisi yang biasanya dirangkai dengan besik atau bersih-bersih makam itu diakhiri dengan berdoa, mendoakan arwah yang dikubur. Berikut moyang-moyang terdahulu. Ibu juga ingin kembali nyekar, lusa, usai sembahyang Ied di masjid kampung. Kebetulan, sarean atau pemakaman umum utama kampung kami terletak persis di samping masjid.

Biasanya, tepat sepekan sebelum Ramadhan, kampung kami mengadakan tradisi yang dilakukan secara massal, di samping nyekar. Dengan mengambil tempat di tanah lapang sekitar pemakaman, ritual Nyadran atau kenduri bersama, diadakan. Setiap warga diwajibkan membawa nasi berkat. Seusai ritual doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama, nasi berkat tersebut kemudian saling ditukar dengan warga lain dan dibawa pulang. Tradisi itu seluruhnya dilakukan oleh laki-laki. Keluarga kami tak pernah sekalipun mengikutinya. Ibu beserta kami, ketiga anaknya, semuanya perempuan, karenanya kami tidak terkena kewajiban sosial itu.

Tetapi, rasa-rasanya bukan itu alasan utama sehingga kami sebagai bagian warga kampung tak dilibatkan. Hanya warga yang memiliki sanak yang dikuburkan di pemakaman itu yang bisa mengikuti tradisi nyekar maupun Nyadran. Sedang almarhum ayah kami tidak dimakamkan di situ. Warga kampung menolak, tidak membolehkan ayah dikubur di pemakaman umum milik kampung. Bertahun-tahun kami hanya bisa menyimpan gundukan perasaan tajam sebagai warga yang dikucilkan. Setajam ingatan yang menancap di ubun-ubunku. Pada masa lalu.

Naluri masa kanak yang lekat oleh pendengaran tidak sengaja pada suatu hari, membawaku bergetar tiap kali ruang ingatanku membuka. Terlebih ketika tradisi mengunjungi makam sebelum Ramadhan dilakukan orang-orang penuh suka cita, namun tidak dengan keluarga kami.

***

Hari masih pagi ketika seorang tamu yang rupanya dikenal ibu datang membawa kabar. Bibir ibu bergetar. Aku yang masih kecil ketika itu, mengintip dan mencuri dengar percakapan. Dari korden pintu tengah yang menghubungkan dengan ruang tamu, aku melihat ibu berbincang dengan tamu itu. Sesekali ibu tampak terhenyak. Menghela napas berat. Kakiku terasa diseret dan masuk ke dongeng gelap.

”Lokasinya sudah diketemukan. Seseorang yang mengaku sebagai pelaku itulah yang menceritakan dan menunjukkan. Tapi, kita jangan salah paham. Seperti Mbakyu ketahui, orang-orang itu tidak tahu-menahu. Mereka hanya disuruh. Mohon, kita coba ikhlas untuk memaafkan. Tak ada faedahnya kita memelihara dendam. Besok teman-teman akan ke sana. Silakan kalau Mbakyu mau ikut”.

Tamu itu bicara dengan suara lirih, pelan, dan penuh kehati-hatian. Seakan yang dihadapi adalah barang yang mudah pecah. Diujung percakapan aku melihat tangis ibu tumpah. Tamu itu merunduk. Sehari kemudian, ibu pergi bersama tamu itu dan menjadi awal hari yang hitam di hidupku. Di keluargaku.

***

Aku tengah menyiram pohon kenanga ketika ibu pulang membawa bungkusan. ”Siapkan bunga kenanga itu, Nis. Juga kembang setaman lain. Kita akan ke makam ayahmu”. Ibu berujar singkat. Aku tidak mengerti. Seumur-umur, ibu tidak pernah mengajak kami, anak-anaknya, ke makam ayah. Kisah yang sering diulang-ulang oleh ibu adalah ayah meninggal karena kecelakaan kapal saat tengah berlayar ke Makassar. Jasadnya tidak pernah ditemukan. Aku masih dalam perut ibu saat itu. Lantas, makam siapa? Ayah yang mana?

Belakangan, baru aku tahu bahwa bungkusan yang dibawa ibu tak lain adalah tulang-belulang yang konon jasad ayah. Bersama orang-orang yang kata ibu juga menjadi korban, entah korban apa, ibu mengambilnya dari sebuah sumur di daerah pegunungan kidul. Orang-orang menyebutnya luweng. Sumur dengan kedalaman yang konon berujung di laut selatan. Seseorang yang datang dari masa lalu telah membongkar semuanya. Rupanya ayahku tidak meninggal karena kecelakaan kapal, tetapi dibunuh orang-orang tak dikenal.

Aku melihat ibu bergegas. Hari telah beranjak gelap. Pak Lik Martoyo datang menenteng cangkul dan peralatan menggali lainnya. Aku semakin tidak paham. Ketika kami semua telah siap hendak meninggalkan rumah, sekelompok orang mendadak mendatangi rumah kami. Wajah mereka tertutup warna senja. Gelap dan menakutkan.

”Tulang-tulang itu tidak boleh kau kubur di pemakaman kampung ini. Kampung ini bisa dikutuk karena pemakaman umum berpenghuni pengkhianat bangsa, pemberontak negara macam suamimu. Kalau kau bersikeras, kami seluruh warga tak segan-segan membongkar galianmu. Kau hanya boleh mengubur tulang-tulang itu di tanah sekitar rumahmu sendiri”. Seorang tetua kampung berteriak lantang di depan rumah kami. Disusul suara sahut-sahutan teriakan orang-orang di belakangnya dengan ancaman yang sama. Aku ketakutan. Naluri kanakku membuatku menangis keras. Mulutku dibekap dan ditenangkan oleh ibu. Ibu diam. Kami semua diam. Orang-orang itu kemudian berlalu setelah ibuku menyatakan sanggup memenuhi keinginan mereka. Setelah senja yang menyakitkan itu, hampir sepekan sekali, ibu dan kedua kakakku pasti mengunjungi gundukan tanah di belakang rumah. Makam ayah. Ya, ibu mengubur tulang-belulang ayah di sana. Tanpa upacara. Tanpa air mata.

***

Masa kanak-kanak merambat kutinggalkan, namun ingatan saat kanak itu tidak mau tanggal. Setiap hari aku menumpuknya menjadi gumpalan dendam. Setiap hari pula ibu dengan sabar meruntuhkan.

Menurut cerita ibu, ayah kami bukan pemberontak seperti yang dituduhkan orang-orang. Ayah hanyalah seorang guru sekolah dasar yang biasa dipanggil Kamerad Guru. Kebetulan ayah memiliki bakat lain selain menjadi seorang guru. Bermain Kethoprak (sandiwara Jawa). Saat ulang tahun sebuah partai politik yang dilangsungkan meriah di Alun-Alun Kota, ayah diundang untuk pentas. Sebuah pementasan yang berujung petaka karena partai politik itu kini terlarang keberadaannya.

Sejak terjadi ontran-ontran di ibukota negara, ayah tidak pernah pulang. Kata ibu, ayah dibawa paksa oleh orang-orang tak dikenal dengan truk. Entah ke mana. Hari-hari selanjutnya status ibu berubah menjadi janda. Anehnya, ibu meminta kami semua untuk berlapang dada. Melupakan air mata. Sekaligus memaafkan ibu yang tak pernah bercerita sebelumnya.

Ucapan-ucapan bijak ibu yang setiap hari mencoba meruntuhkan batu di dadaku, tak menuai hasil. Aku merasakan bara yang memenuhi rongga hatiku kian besar dan mampat. Siap meledak dan membakar apa saja. Sejarah keluarga yang tak pernah kutahu sebelumnya serta perlakuan terhadap jasad ayah yang tidak manusiawi, tak pernah bisa aku terima.

***

Kini, keinginan ibu untuk nyekar kembali terngiang. Membuat jantungku berdebar kencang. Bukan kenapa. Kali ini, setelah bertahun-tahun, setelah uban kian menegaskan ibu yang menua, ibu mengagetkan kami. Ibu ingin makam ayah dipindah ke pemakaman umum kampung. Dengan begitu, ibu bisa nyekar lazimnya warga lain. Nyekar secara bersama-sama penuh suka cita menyambut Ramadhan dan lebaran.

Ibu dan kami semua tahu, tahun-tahun telah berlalu seiring berlalunya rezim yang mengutuk keluarga kami. Tetua kampung yang dulu menyalak keras di depan rumah kami pun sudah lama meninggal. Simpati orang-orang terhadap ibu lambat laun datang. Bahkan kian menebal setelah ibu pergi beribadah haji. Sesuatu yang membuatku tak habis mengerti, pada tali mana aku bisa menariknya.

Ibu berhasil menuai simpati orang-orang yang dulu mengucilkan kami. Orang-orang mulai membuka tangan. Mempersilakan ibu melakukan puter kuburan. Sebuah ritual memindah makam ayah dengan upacara sekadarnya. Ibu tidak pernah meminta lebih. Bahkan, rehabilitasi nama ayah sekali pun. Ibu hanya meminta ayah dikubur secara layak di pemakaman umum.

Dan kini, aku semakin berdebar menantikan apa yang akan terjadi. Tapi toh, semua orang tahu. Bertahun-tahun gundukan di belakang rumah kami hanyalah seonggok tulang-belulang yang mungkin sekarang sudah menjadi tanah. Upacara penghormatan puter kuburan hanya semacam syarat yang dilakukan dengan mengambil beberapa genggam tanah gundukan makam ayah untuk di pindahkan. Tidak ada yang musti dirisaukan. Tapi sesuatu tengah aku risaukan.

Kuikuti rangkaian proses penggalian gundukan di belakang rumah dengan khidmat. Tepat dugaanku, tak satu pun tulang ditemukan. Tapi tak seorang pun menaruh curiga, sekaligus tak satu pun yang tahu jika aku mulai dirambati resah. Mereka berkesimpulan tulang itu telah menjadi tanah. Ibu mengangguk pasrah ketika Pak Kaum yang memimpin acara itu meminta persetujuan. Mengambil beberapa genggam tanah. Dibawa dan dikuburkan di pemakaman umum kampung kami.

Tak sampai memakan waktu lama, kami telah berada di pemakaman kampung. Pak Kaum meminta kami duduk menghadap gundukan tanah baru. Makam ayah. Detik selanjutnya Pak Kaum memimpin doa. Kulihat wajah khusuk ibu. Juga kedua kakakku. Tak ada gelisah. Tak ada air mata. Tapi jauh di dalam hatiku bergetar luar biasa. Hendak menjelma air mata.

Diam-diam rasa bersalah menyelinap hebat di dadaku. Menjalar serupa akar. Mencengkeram kuat di ulu hati. Aku merasa bersalah kepada ibu, juga keluargaku. Dihantam oleh rasa sakit hati yang tak bisa kuredam dan rasa putus asa yang menekan, aku telah bertindak sendiri. Beberapa bulan lalu, tanpa sepengetahuan siapa pun, aku telah mengambil tulang-tulang ayah dari gundukan belakang rumah. Dengan caraku sendiri aku memindahkannya. Mengubur tulang-belulang itu di titik paling sudut pemakaman ini. Di bawah rimbun pohon bambu dan kamboja tua. Sejenak aku melirik ke sana. Kemudian beralih ke Maejan yang menancap di kedua ujung gundukan baru, tepat di depan mataku. Kubaca nama ayah. Mataku terasa panas …

Kulonprogo, 14 September 2008

Nyekar : ritual ziarah kubur yang disimbolkan dengan tabur bunga
Nasi berkat : nasi kenduri
Ontran-ontran : kekacauan
Maejan : kayu pusara, biasanya bertuliskan nama jenasah

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt