Jumat, Desember 16, 2011

Membakar Api di Kampung Pring *

Fahrudin Nasrulloh
http://sastra-indonesia.com/

Sehari Sebelum ke Mojokerto

Senin, 2 Agustus 2010, saya berangkat dari Tandes pukul 10:32 WIB, langsung meluncur ke kantor Pos Kecamatan Sumobito untuk mengambil 4 kardus buku yang dikirim Bilven dari Penerbit Ultimus, Bandung. Di blangko resi penerimaan, buku-buku Ultimus dikirim kalau tidak keliru pada 27 Juli Sampai di kantor Pos Sumobito. Pada 1 Agustus, 2 dus buku tersebut dibungkus dengan jahitan rafia. 1 dus beratnya 24,7 kg, biaya paketnya sebesar Rp. 244.555. Satunya lagi, beratnya 24,9 kg, biaya paketnya Rp. 244.535.

Sebelum mengambil buku, saya kontak Sabrank Suparno, tetangga kampung saya, untuk membantu mengambil 2 paket itu. Ia bawa motor Kaze, pinjaman dari temannya. Masing-masing dari kami membawa 1 dus. Kami bergerak. Mampir dulu di warkop Yu Dar. Tandas segelas kopi susu kental dan 3 batang rokok GG Surya. Parno masih mengisap sesapan rokok terakhirnya, sambil nglangut ngenes, entah mikir apa. “Pulang ke Mojo, kita bongkar dulu buku-bukunya dan mencocokkan dengan faktur tanda terimanya.”

Sesampai di rumah, kami kerjakan pengecekan buku yang akan dibawa besok ke bedah 3 buku Ultimus di aula Disporabudpar Mojokerto. Kami juga menyiapkan buku-buku lain dari Penerbit Akar Indonesia Jogja dan Penerbit Pustaka Pujangga Lamongan. Sampai sore. Bikin kopi lagi. Merokok lagi. Air putih diglogok lagi. Menyiapkan dus-dus yang dibongkar. Memasukkan buku-buku. Sampai Magrib, kami mengobrol dengan sandingan kopi-air putih dan kacang telur-krepek tempe. Lalu saya ke warnet. Mengedit beberapa tulisan. Parno pulang.

Malam, lepas pukul 24-an, saya buka-buka lagi buku Pak Tri Ramidjo, Kisah-kisah Dari Tanah Merah: Cerita Digul Cerita Buru, meski sudah khatam, tapi cerita-cerita Pak Tri mengeram lekat dalam ingatan. Jejak-jejak keluarga Digulis muslim yang taat, suasana pengangkutan interniran dan keluarganya ke kapal Kruiser Java kolonial Belanda, Tri kecil yang mancing dan main layangan dengan kawan-kawannya, Mbah Mangun yang disantap buaya kuning serampung nyuci piring, Pandji yang rambutnya habis dikerokoti jangkrik saat tidur di gelonggongan kayu, anjing Tupan yang baik dan setiakawan. Lalu siksaan interogator antek-antek Soeharto terhadap Pak Tri dan tapol lainnya, dan kegigihan Pak Tri menulis dengan tangan kiri di mana hanya dengan satu jari telunjuknya saja ia dapat menyelesaikan buku itu yang ditulisnya selama 2006 hingga 2009. Buku catatan pengalaman getirnya sebagai tapol, ditulis secara sederhana, lugas, terang, suara-suara dari “dalam” sebagai kesaksian kesejarahan Perintis Kemerdekaan Indonesia yang diwariskan pendahulunya dalam pemberontakan melawan imperialis Belanda pada 12 November 1926. Pada tahun itu, para sastrawan pejuang mengabadikan karya-karya perlawanan mereka dalam bentuk cerpen dan puisi yang terkumpul dalam buku Gelora Api 26. Juga buku Tanah Merah yang Merah yang ditulis Koesalah Soebagyo Toer tentang data-data terperinci para tapol di Boven Digul, nasib pahit mereka, kematian mereka. Intrik-intrik dan penghianatan di dalamnya.

Di Aula Disporabudpar Mojokerto

Paginya, 3 Agustus, pukul 6:12, saya bergerak ke kantor Sumrambah. Dua hari sebelumnya ia tidak bisa ditelpon. Sibuk terus. Mungkin juga pakai nomer lain. Maklum banyak urusan partai dan turbanya ke kampung-kampung. Di kantornya di perumahan Candi, wilayah tengah kota Jombang, masih tutup. Si penjaga kantor menyarankan untuk langsung ke rumahnya di Perumahan Firdaus. Saya ke sana. Ketemu dengannya. Ia minta agar kami ngobrol di kantornya saja. Saya hanya ingin memastikan ia siap atau tidak jadi pengulas buku Tanah Merah yang Merah karya Koesalah Soebagyo Toer. 20-an menit kemudian kami ketemu di perumahan Candi. Ia sangat antusias dan respek pada buku itu. “Ini buku direktori tapol Digul yang luar biasa. Data-data peristiwa, para tapol dan keluarganya, kelas-kelas tapol, jenis kamp-kamp, yang mati sebab membangkang, yang kabur lalu tak ketahuan nasibnya, dan lain-lain, semuanya ditulis dengan begitu detil dan memang getir,” katanya. Perbincangan kami tak lama. Seperlunya. Lalu muncul Nurkholis, wartawan Radar Mojokerto, dan Mas Priyadi, koleganya. Sebentar-sebentar ia ditelpon. Lagi. Perbincangan berlanjut. Ia angkat telpon lagi. Saya segera undur pamit, dan ia berjanji akan hadir.

Siang pukul 8-an, di rumah Mojo, saya mulai ngepaki buku-buku. Mengganti oli sepeda motor. Mandi. Baca-baca kembali Madilog sebentar. Buku-buku Ultimus saya paki menjadi 4 dus tanggung, dus ukuran se-rim kertas HVS. 3 dus saya cancang di belakang sadel sepeda motor dengan tali rafia. Satunya lagi saya taruh di tengah sepeda, antara setir dan sandatan duduk. Nyerbeti sepeda di depan garasi halaman rumah. Tiba-tiba pesan pendek masuk dari seseorang yang tidak saya kenal: “Pak Fakhrudin, dalam acara Geladak Sastra di Mojokerto dibahas buku apa saja? Saya di Jakarta, teman Pak Tri Ramidjo tidak bisa baca undangan di internet. Komunitas Lembah Pring tidak khawatir dibubarkan FPI? Atau FAK? (3/8/2010, pukul 8:22 menit).” Saya menjawab seperlunya, lalu ia membalas lagi: “Saya Djoko Sri Moeldjono dan buku saya bakal diterbitkan Ultimus Bilven. Usia saya 72 tahun tamatan pesantren Inrehab Buru 1978. Salam hangat dari Jakarta (08:34).” Saya ucapkan terima kasih balik atas apresiasinya. Ia membalas lagi: “Syukurlah kalau masih ada yang berani. Saya teman Pak Ramidjo. Buku saya bakal terbit, judulnya Banten Seabad Setelah Multatuli: Kisah Tapol kerja rodi di Banten 1965-1971, sebelum ke Nusakambangan terus ke Buru.”

Saya berangkat ke Mojokerto sekitar pukul 10-an. Menuju aula Disporabudpar. Mojokerto-Jombang jaraknya kira-kira 23 km. 40-an menit kemudian saya sampai. Jabbar masih nyebar undangan acara. Saat itu dia di rumah pematung Ribut Sumiyono di Desa Jatisumber, Trowulan. 4 dus saya turunkan di samping tembok aula. Satu per satu dus-dus itu saya masukkan di ruangan aula. Saya taruh di bawah meja panjang. Saya tutupi sisi luarnya dengan 2 kursi yang agak tinggi. Bertemu dengan seorang pegawai yang tampaknya agak saya kenal, dan saya mengatakan padanya bahwa saya sudah taruh 4 dus buku di aula untuk acara malam nanti. Ia tersenyum dan menyambut antusias. Sementara Jabbar belum juga datang dan karena saya lapar, saya meluncur ke warcel Madiun Bu Sarkiyah di dekat rel daerah Benteng Pancasila. 1 jam-an saya nongkrong sambil udad-udud di situ.

Pukul 13 saya dikontak Jabbar untuk ngopi-ngopi di warkop Mbak Yani, bersama Pak Edy, pimpinan Ludruk Karya Budaya. Membicarakan persiapan acara, ngobrol sana-sini. Selang beberapa saat, Jabbar dibel Pak Afandi, kepala Disporabudpar, ia menanyakan, “Buku apa saja yang dibedah? Apa itu bedah 3 buku Lekra? Lekra itu apa?” Jabbar tercekat sejenak, lalu memberikan hape-nya kepada saya. Saya menjelaskan bahwa 3 buku yang akan dibedah itu adalah buku-buku memoar perjuangan dan yang satunya buku kumpulan puisi dan cerpen dari sejumlah sastrawan yang menuliskan peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada 12 November 1926 terhadap kolonial Belanda. “Saya diminta menyampaikan kepada anda berdua agar kalian menjelaskan 3 buku itu kepada ke Kesbanglinmas, di komplek Pemda Kabupaten Mojokerto. Temui Pak Mustain. Saya mohon kalian segera ke sana,” pinta Pak Afandi kepada saya dan Jabbar. Kepala ini terasa diputar-putar. Bakal panjang urusan. Saya, Jabbar, Pak Edy tercenung, kebodohan apalagi ini. Bagaimana ini bisa terjadi? Aturan macam apa pula ini? Diskusi buku harus minta izin? “Sudahlah Mas Udin, segeralah ke sana. Temui Pak Mustain. Ceritakan semua yang diminta Pak Afandi,” begitu saran Pak Edy.

Lima menit kemudian saya bergerak. Di kantor Kesbanglinmas sempat kami nyasar ke ruangan yang salah. Kami keluar. Langsung menanyakan ke bagian kantor umum. Saya bertanya ke sejumlah pegawai untuk bisa bertemu Pak Mustain. Seorang pegawai menjawab bahwa Pak Mustain sedang menemui Pak Sekwilda. Kami pun menunggu. Di depan kantor itu mobil Pak Mustain terparkir, kata si pegawai. Kami kesal di ruang tunggu sambil mengamati hilir-mudik orang-orang, kami juga tidak tahu wajah Pak Mustain. Lalu hape saya berdering. Ternyata dari seseorang yang memperkenalkan diri sebagai Pak Eko, dari Polres Mojokerto yang bermarkas di Mojosari, ia meminta saya menemuinya segera di kantornya terkait buku itu. Saya jengkel, tapi mengiyakan juga. Lebih 30-an menit kami masih menunggu. Sembari membaca-baca buku Catatan Budaya Suyatna Anirun, tiba-tiba terdengar suara mobil menderum, saya menoleh ke ruang depan kantor itu, namun mobil sudah ngacir. Pukul 14:28, Pak Edy mengirim SMS, “Hasil dari Kesbanglinmas gimana mas? Saya baru dibel dari Polres, sekarang ada lagi dari Kejaksaan.” Tak saya balas. Kami memburu mobil yang barusan keluar. Sudah tak kelihatan buntutnya. Saya tanya lagi ke seorang pegawai, ia membenarkan, Pak Mustain pergi dengan mobilnya. Kenapa si pegawai itu tidak memberitahukannya pada kami, pikir saya. Brengsek! Memang sengaja kami diping-pong dibikin muter-muter.

Saya sempat berdebat dengan Jabbar. Ia tampak kalut dan menyarankan acara dibatalkan. Saya paham, polisi akan bergerak zig-zag dengan muka dilipat-lipat tanpa mau ketemu langsung dengan kami, dan itu sinyal bahwa acara bedah buku akan bubrah. “Menurutmu ada alternatif lain, selain di aula itu?” tanya saya pada Jabbar. “Di manapun jika acara tetap di Mojokerto tidak akan bisa. Sebaiknya tidak diteruskan,” jawabnya. “Kenapa kau bilang begitu? Acara ini harus tetap jalan, di mana pun, dengan resiko apa pun. Tapi sekali lagi jangan bilang kita hentikan agenda Geladak Sastra #6 ini!” timbuk saya, lantas saya ajukan pilihan, “Baiklah, aku usul kita pindah ke markas Lembah Pring. Bagaimana?” Jabbar hanya diam. Artinya ia sepakat dengan segala kekhawatiran yang bertiung-tiung di jidatnya. Akhirnya kami sepaham untuk mengalihkan acaranya di Jombang, di Omah Pring, rumah saya.

Kami kembali ke kantor Pak Edy. Di tengah jalan, pukul 14:48, Pak Afandi berkirim pesan, “Untuk aula Disporabudpar tempat bedah buku atas saran pihak Polres, kami diminta tidak mengijinkan karena surat permohonan tempat tidak dilampiri ijin dari Polres Mojokerto dan surat permohonan tempat yang saya terima tadi siang jam 11 sudah saya jawab kepada Mas Jabbar. Terima kasih dan mohon pengertiannya.” Lalu pukul 15:09, sms susulan yang diterima Pak Edy dari Pak Afandi, diforward ke saya, “Pak Edy/Pak Chamim, acara bedah buku nanti malam tempat aula Disporabudpar belum bisa kami ijinkan karena surat permohonan tempat tidak dilampiri ijin dari pihak Polres Mojokerto. Kami sudah balas surat Dinas pada panitia bedah buku tersebut (Jabbar Abdullah). Terima kasih mohon maaf dan mohon pengertiannya.” Sempat berdiskusi sebentar dengan Pak Edy, sebelum kami ke kantor Pak Afandi. Saya sudah sampai duluan. Langsung menemui Pak Afandi yang sedang membuka-buka map kerjaannya sambil merokok cedat-cedut. Selang beberapa menit, Jabbar dan Abdul Malik menyusul. Keduanya duduk di kursi depan Pak Afandi, di sisi sebelah kiri saya. Setelah kami berdiskusi alot dan tegang, tapi tetap berusaha menjaga untuk sama-sama menghormati posisi masing-masing. Malik coba merekam pembicaraan ini dengan ponsel bututnya. ”Mas Malik, tolong jangan direkam ya! Serius ini!” sembur Pak Afandi. Malik Melongo. Tersenyum kecut. Matanya yang selalu tampak merah seakan menyumpah-nyumpah keruwetan ini. Akhirnya kami menerima pembatalan tersebut, dan tentu, kami bertiga punya catatan tersendiri atas sosok Kepala Disporabudpar Kab. Mojokerto ini.

Saya langsung mengangkuti dus-dus buku Ultimus. Mencancangnya erat-erat di sepeda. Malik dan Jabbar berembuk kecil. Terasa amis dan nyinyir. Saya menghampiri mereka. Lalu kami sepakat diskusi 3 buku itu dipindahkan ke Omah Pring Jombang.

Sore sekitar pukul 4-an saya telah tiba di rumah. Membereskan dan menyiapkan ruang diskusi di depan rumah saya. Sebuah bekas toko lama milik keluarga. Satu persatu sejumlah teman saya SMS untuk meralat acara diskusi yang dipindahkan itu. 3 Pembicara saya kontak. Hanya Sumrambah yang lagi-lagi tak bisa dihubungi.

Acara pun berlangsung kira-kira pukul 8 malam. Beberapa wartawan dari Radar Mojokerto, Tempo Interaktif, beritajatim.com, dan Radio Elshinta hadir. Kami tak tahu mereka dapat kabar dari mana agenda kami dipindahkan di Jombang. Buku-buku Ultimus kami gelar di emperan rumah saya. Ada 37 judul buku, masing-masing 3 eksemplar. Sedang 3 buku yang dibedah masing-masing 20-an eksemplar.

Di tengah diskusi berlangsung, dengan pengulas Gus Chamim Khohari dan Diana AV Sasa, tanpa Sumrambah, semua peserta yang hadir ada sekitar 25-an. Saya mengamati diskusi kadang dari dalam dan sesekali dari luar. Menengok-nengok di jalan kampung. Ada dua pengendara sepeda motor klitar-kliter (hilir-mudik). Saya amati terus. Dari arah 15 meter arah kidul, tepat di depan rumah Yu Lis, mereka berhenti. Bisik-bisik. “Hoi, Mas, cari siapa?” teriak saya. Mereka diam, meski menoleh, tapi abai. “Di sini tempat diskusinya, jika kalian cari teman kalian, mereka sudah di sini!” sambung saya. Mereka tetap bungkam. Beberapa detik kemudian, mereka pergi ke selatan. Sering di beberapa acara kami ada saja temannya teman kami yang nyasar. Selang 2 hari kemudian saya tahu, bahwa mereka adalah intel yang mengawasi kami.

Tiba-tiba, di tengah diskusi berjalan sekisaran se-jam, kadus kampung Abdul Ghofur, atau di kampung Mojokuripan kami menyebutnya Wak Polo Dul, datang. Ia naik sepeda motor. Di parkir di depan rumah Bulek Kotim, selatan pas rumah saya. Dari jarak 7 meteran ia manggil saya yang sedang menyimak diskusi di pinggir toko sebelah timur.
“Hei, Din, ke sini sebentar!”

Saya berdiri, dan melihatnya. Saya tidak menghampirinya. Kepala saya agak pening setelah dipusingkan keruwetan di Mojokerto tadi.
“Ada apa, Sampeyan yang ke sini. Masuklah ke ruang tamu!”
“Wes talah, penting iki, rene o sek ta!”
“Gak, kamu aja yang ke sini!”
“Iki penting, Din. Ke sini sebentar!”

Saya menghampirinya. Dia sudah duduk di emperan rumah Bulek Kotim. Ia menyampaikan bahwa dirinya diperintah Pak Lurah Huda untuk meminta saya datang ke rumah Lurah. Ada kepala intel Jombang yang ingin menanyakan sesuatu pada saya. Saya menolak. Ia agak menekan. Meminta sangat. Saya tetap tidak mau.

“Kalau dia butuh sesuatu yang ada kaitannya dengan diskusi kami, silakan dia datang ke sini. Kami akan sambut dengan baik,” tegas saya.
“Lho, kamu ini bagaimana? Ini perintah Pak Lurah.”
“Lho Sampeyan ini juga bagaimana, kok maksa saya? Sekarang saya tanya, apa mau kalian?”
“Kamu ini kok mbangkang perintah aparat desa, Din?”
“Siapa yang mbangkang. Saya kan cuma tanya dulu, urusannya apa?”
“Ya, urusan kamu kumpul-kumpul di sini itu apa maksudnya?”
“Lha, gitu dong jelas. Di sini kami mendiskusikan buku. Kalau Sampeyan kepingin tahu, silakan masuk ke forum diskusi.”
“Gak perlu. Begini lho, kepala intel itu ingin tahu buku-buku apa saja itu, terus siapa saja pembicaranya, dan jumlah pesertanya berapa.”

Saya nyekikik dalam hati. Lalu saya ambilkan kertas. Menuliskan semua yang dimintanya. Ia pulang dengan wajah ditekuk-tekuk sendiri. Mlengos ke saya. Saya melambaikan tangan.

“Kalau Pak Intel itu masih belum cukup datanya, silakan datang kemari!”
“Hei, Din, kamu jangan sok begitu ya. Mentang-mentang sarjana ya. Jangan sombong kau!”
“Kepalaku pusing!”
Ia terus nyetater motornya. Mukanya merah. Menuju rumah Lurah Huda.

Diskusi terus berlangsung. Beberapa menit kemudian, seorang berjaket hitam, kayak jaket mahasiswa, berkumis tipis, berbadan ramping, berusia sekitar 50-an, datang. Ia berkopyah songkok. Ramah dan murah senyum. Bertamu dan langsung ketemu saya dan memperkenalkan dirinya: Pak Sumantri dari intel Polres Jombang. Saya persilakan masuk. Kami duduk bersila di karpet di ruang tamu. Cak Dul menyertainya. Wajah merahnya masih bersisa. Pak Mantri, demikian ia disebut, membuka obrolan dengan mengutarakan kembali maksud yang sudah disampaikan Cak Dul. Ia menanyakan kembali diskusi apa ini. Saya jelaskan seperlunya. Ia meminta data siapa-siapa yang hadir. Saya berikan list-nya. Ia mencatat. Lalu kami saling paham. Tapi tak tahu apa di batok kepala masing-masing. ”Jika Pak Mantri ingin lebih tahu detilnya, silakan beli 3 buku yang kami diskusikan,” sela saya. Ia bilang tak perlu. Cukup data itu, katanya. Ia pulang. Sebelumnya kami bertukaran nomor hape. Ia minta bila ada diskusi lain, agar ia dikabari. ”Sangat bisa, Pak,” jawab saya.

Setelah Intel Mantri pulang, diskusi masih berjalan. Sekitar pukul 23-an WIB, selesai. Kami ngobrol-ngobrol. Beberapa SMS berhamburan datang: ”Ini kayak kejadian di Elpueblo Kafe di Jogja (dari Bilven)”; ”Mas Fakhrudin, bagaimana acara Geladak Sastra hari ini? Bebas dari gangguan ormas FPI? Bagi saya termasuk kejutan karena diselenggarakan di aula Instansi pemerintah yang di kota lain pasti tidak mungkin.” (dari Djoko SM, pukul 23:30 WIB); ”jangan-jangan HP anda disadap ya, Mas? Kok tiba-tiba putus dan tidak bisa dihubungi lagi”. (dari Mulyani Hassan, pukul 23:53 WIB); ”Saya hanya meraba-raba saja bahwa penyelenggara adalah Syarikat atau kelompok anak-anak muda yang berafiliasi ke NU. Benar tidak? Karena itu FPI tidak berkutik. Di Kuningan, Banser juga mengutuk tindak kekerasan terhadap Ahmadiyah dan ini patut didukung. Salut untuk anda semua.”(dari Djoko SM, pukul 05:57 WIB).

Semenjak kejadian itu, banyak cerita menyebar yang aneh-aneh dan mengular dan mengular lagi. Paklek-bulek saya juga banyak yang diteter pertanyaan sana-sini oleh beberapa warga. ”Piye ponakanmu itu, Kan, jarene diseret polisi?” tanya seorang karyawan pabrik sepatu Pei Hei kepada paman saya, Cak Rukan. Tak habis pikir, bagaimana ”muncul” pertanyaan seperti itu. Dan sangkaan-sangkaan yang berpinak-pinak lagi macam itu terus berkembang. Seperti menjadi organisme cerita. Seperti menciptakan kuping-kuping baru dan tengik mulut yang bergosip renyah ke mana-mana. Ini menjadi catatan penting bagi kami, terutama saya, apakah hanya karena ”belajar membaca sejarah” sampai berakibat begini. Saya tertegun setelah mendapat SMS dari adik saya; ”Oke ati-ati Bos, karena udah banyak orang bilang ‘Anake Bu As dicekel polisi sebab terlibat jaringan teroris’. Aku harap sampeyan bisa jaga kehormatan orangtua.” (7 Agustus 2010.16:53 WIB).

Geladak Sastra #10: Bola Api Itu Menggelinding Lagi

Geladak Sastra #7 secara emperan kami gelar lagi pada 13 Agustus 2010. Di rumah saya. Saya, Sabrank Suparno, dan Gus Kur, tetangga kampung. Kami bertiga bergiliran membaca buku kumpulan puisi: Aku Hadir Hari Ini karya Hr. Bandaharo dan Puisi-Puisi dari Penjara karya S. Anantaguna. Tak ada apa-apa. Sekitar seminggu kemudian, Komunitas Lembah Pring, saya dan Jabbar, diundang oleh Bu Ilmi, guru bahasa Indonesia MAN Sooko Mojokerto untuk mengisi diklat jurnalistik. Polisi dari Polres Mojokerto datang. Memaksa acara dibatalkan. Pagi pukul 8 diklat sudah berjalan lancar. Antusias siswa meriah dan bergelora. Lepas lohor tit kami dibubarkan, setelah menohok dengan basa-basi ancaman kepada kepala sekolah. Kenapa polisi itu tidak langsung menemui kami? Mungkin tak perlu. Orang PNS didesak begitu sudah mengkeret. Mereka digepuk dengan pertanyaan enteng saja seperti ini misalnya, ”Pak, Bu, anda ini PNS, lho!” Artinya, mereka ditakuti, jika tidak nurut polisi, jabatan PNS mereka bisa diperkarakan.

Pada 27 September 2010, Geladak Sastra #8 membedah kumpulan puisi Fatah Yassin Noor dari Banyuwangi. Lokasi di padepokan Sanggrah Akar Mojo, di Pacet, di rumah Mbah Jito. Pembicaranya Mashuri dan M.S. Nugroho. Tak ada apa-apa.

Lalu Geladak Sastra #9 mengusung diskusi kumpulan cerpen Presiden Panji Laras karya M.S. Nugroho di GOR Jombang, pada 24 Oktober 2010. Pembicaranya, Robin Al-Kautsar, R. Giryadi, Zus Nu’man Anggara, dan saya. Dan tak terjadi apa-apa.

Nah, Geladak Sastra #10, ketika Komunitas Lembah Pring kembali mengusung diskusi himpunan esai A.S. Dharta bertajuk Kepada Seniman Universal dari penerbit Ultimus Bandung, beberapa polisi bergentayangan lagi. Seperti dihausi mengirup darah luka sejarah. Darah yang diciptakan penguasa. Entengnya dalam bentuk mengawasi diskusi macam ini. Pemantauan ketat.

Saya kira sudah tidak ada lagi pengawasan macam itu, setelah beberapa minggu sebelumnya saya dapat berita dari sejumlah teman yang isinya: ”Kita menang di Mahkamah Konstitusi. UU No 4/PNPS/63 tentang pelarangan buku tidak berlaku lagi. Terima kasih atas segala dukungannya. (salam hangat, Gung Putri).” (13/10/2010, pukul 16:39). Secara beruntun kabar itu mengular dari Nisa, Abdul Malik, Bambang Budiono, Halim HD, dll.

Untuk membaca sejarah bangsanya sendiri, pengawasan dalam bentuk yang demikian masih saja terjadi. “Putusan MK mandul!” Pesan pendek saya pada beberapa kawan. Memang untuk melawan lupa, darah dan keringat, dianggap tidak ada harganya. Di pojok sebuah cafĂ©, saat tak sengaja ketemu Muhidin M. Dahlan (di situ ada juga Faisal Kamandobat, A. Muttaqien, Alek Subairi, Gita Pratama, Nawi, Salamet Wahedi, Diana AV Sasa), ia berkata, kurang lebih seperti ini, “Tak ada pengaruh signifikan soal putusan MK itu. Kita sudah tak punya ruang! Apapun ruang itu. Kita hanya punya ‘waktu’”. “Waktu” untuk terus bergerak dengan segala gagasan dan kegelisahan. Untuk Indonesia dan masa depan harkat kebudayaannya.

Sebagai penutup, beberapa hari kemudian, 2 teman penyair (Nisa Elvadiani, dari Komunitas ESOK Surabaya dan Rama Prabu dari Bandung) telah membuat puisi sebagai sebagai kesaksian atas peristiwa Geladak Sastra #6 di atas:

Sang Penanda Catatan Tanah Merah
Oleh: Nisa Elvadiani

kalau kau ajariku angkat senjata, aku hanya bisa ambil pena dari kotak kaleng bundar di sudut mejaku. bahkan untuk membelikannya tinta aku harus memasung lidahku pada tiang pancang gantungan. lidahku membiru, bahkan kalau kau mau, berangsur-angsur cairan otakku pun terhisap keluar, membusuk di tanganmu.

tak ada yang tersisa, bahkan hanya sekedar secarik kertas untuk mengganjal salah satu sisi yang timpang di mejaku, jangankan buku, jangankan catatan baru, jangankan penanda peristiwa dulu, jangankan pidato kemenanganku, sungguh benar-benar tak ada yang tersisa

selain topi baret dan lars berbau tiran menginjak pita mesin tik tuaku dan jari tinggal satu mengeja huruf demi huruf nafasku

aku berdiri karena masa lalu yang membentukku, namun aku merdeka untuk menjadi apa saja, pun bukan menjadi ketakutan masa lalu mu…

04082010

Spion Merah di Lembah Pring
Oleh: Rama Prabu
:/Muhidin M Dahlan (IBUKU)

1/
lembah pring, gelora mengabarkan tanah merah
tanah padu ketika serdadu berubah dadu
alamat dari kisah masa lalu
bait sunyi rerimbun perdu

2/
lembah pring, spion merah wajahnya jengah
anak-anak desa sedang berulah
melempar gatrik-sembunyikan galah
meramal tujuh harmal, siapa hendak mengalah!

3/
tetua desa dibuat ragu, apa benar buku bisa membakar kampung?
jadi naga raksasa, menggulung mereka yang sedang agung
tapi, dari gaung terdengar kata-kata: “surat ijin jadi sakti, lebih sakti dari tombak adipati”

4/
lembah pring, spion merah dan tetua desa
tak sampai diujung simpul
bersilang pendapat-sengketa dalam kalimat
menggambar jejak jadi lembar-lembar hikayat
dimana digdaya kata tak bisa dibungkam redam
selebihnya jadi barisan halaman yang memagar catatan sejarah
yang dulu salah arah

Bandung, 03 Agustus 2010
***

*Jurnal Sastra dan Budaya “Jombangana,” Edisi III 2011 [Dewan Kesenian Jombang].

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt