Jumat, Desember 16, 2011

BOLONG DAN ARYO SUSOGOL

HL Renjis Magalah
http://sastra-indonesia.com/

Daunan desa tampak mengering menjelmakan musim waktu itu. Penduduk desa berbondong membawa ratusan tampah tempat sajian tradisi Slametan turun-temurun sejak dulu jaman nenek moyang desa Pucangro meminta perlindungan dan berkah dari yang maha kuasa. Tabuh suara kentongan dan bedug ukuran 80 centimeter beriringan menghidupkan suasana waktu upacara Slametan. Semua hewan bangun dari tidur siangnya dan terdiam dari aktivitas mereka. Lamongan adalah satu dari sekian banyak kabupaten di Indonesia yang hidup dengan puluhan kearifan. Kepiting raksasa, Makam luhur, Tari-tarian, Sedekah bumi sampai lautan bening menghiasi kota.

Siapa sangka, sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian itu berisi sebuah misteri dan kebanggaan besar tentang seorang sosok Sogol nama panggilan dari Aryo Susogol.
“Injing mbah” sapa Abas kepada Mbah Sogol dengan bahasa Jawa sambil berlaku sopan dan juga santun sebagaimana penduduk di kabupaten Lamongan bersikap rendah kepada yang lebih tua.

“Kira-kira kapan ya sesepuh kita yang kaya itu bisa melihatkan giginya pada kita?”
“Mungkin kalau dia sudah tidak jadi Kades No” cakap Abas dan Parmono pemuda desa Pucangro. Sejak menjadi Kepala Desa Sogol terkenal sebagai sosok wibawa, rajin dan pendiam. Sampai sepanjang jabatan ketika menginjak 15 tahun menjadi kepala desa. Setiap orang masih tetap menghormatinya.

Kampung Pucangro acapkali membicarakan Mbah Sogol yang tidak lain adalah tentang uang melimpah ruah milikinya. Uang itu adalah hasil ketekunannya sebagai tenaga ahli dalam bidang pemimpin ritualan doa. Kemampuannya yang sangat tersohor, bukan hanya di daerah kecamatan Kalitengah atau di desa Pucangro saja, bahkan di dunia internasional nama Sogol sudah sangat dikenal dengan berbagai penghargaan mengijapkan doa dalam setiap upacara selamatan lintas negara.

Mbah Sogol memiliki pengalaman yang luas. Konon, orang-orang menganggapnya memiliki ilmu tinggi. Setiap doa yang telah dipimpin olehnya di manapun tempat slametan digelar pasti akan membuahkan hasil yang luar biasa, mulai dari kerezekian, minta keselamatan, sedekah bumi sampai meminta anak. Sebagian besar para peserta yang mengikuti slametan pasti pulang dengan membuahkan hasil. Mbah Sogol tidak pernah mengganti sistem dan metode provesinya dari metode A ke metode B sampai ke metode Z dan kembali ke metode A lagi. Mbah Sogol tidak ingin terlalu banyak menggunakan model yang menurutnya hanya memelintir otak.

Kejadian pada usia muda membuat mbah So berubah 120?. Bayangan tentang kisah cinta antara dia dengan Surti seorang bunga desa di Pucangro membuatnya seakan hati tersayat-sayat tak berwujud. Itulah yang membuat senyum mbah So sangat mahal untuk keluar.

“ So ke mana?” sedikit pun tidak ada kata yang keluar untuk membalas sapaan Brahim salah satu saingannya dulu ketika memperebutkan bunga desa. Surti dulu memang cinta mati kepada Sogol, begitu pula sebaliknya. Tetapi karena dulu Sogol adalah anak yang penurut pada orang tua Surti pun tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan sehingga surti memutuskan pergi dan menikah dengan Brahim.

Setiap perjalanan jarum Jam sesekali dering bel terdengar di rumah mbah So sampai-sampai tetangga terdekat menghafal kejadian itu, kejadian yang merupakan pemandangan jelas, sebuah rumah orang terkaya di desa Pucangro. Gemanya seakan memenuhi seisi desa sebagai tanda akan adaya tamu yang datang mengundangnya dalam acara selamatan ataupun hanya mengijapkan doa sederhana.

“Permisi mbah… saya mengundang mbah untuk memimpin doa dalam selamatan di desa kami”
“ya…”

Sahut mbah So menjawab sapaan salah satu dari dua orang utusan desa tetangga meminta bantuan Mbah So untuk memimpin ritual doa Sedekah bumi. Hanya beberapa kata yang keluar dari mulut tokoh bengis itu. Dalam suasana apapun mbah So selalu bersikap serius ketika berada di kampung tidak perduli itu orang lain atau keluarga sendiri sekalipun. Keterpaksaan menikahi Parmi pilihan orang tuannya adalah penyebab utamanya. Kejadian seperti itu sangat membuat kesal keluarga dan anak-anak mbah So.

Sampai suatu ketika saat mbah So pergi ke luar pulau,
“Bapak-bapak warga desa mari datang ke pendopo Sogol” diam-diam keluarga mbah So mengadakan sayembara untuk merubah raut mbah So yang senyumnya terkunci rapat-rapat tersebut.

“Bagi siapa pun yang berhasil menyembukan bapak kami uang 1 milyar berhak menjadi miliknya”
begitulah sayembara yang diadakan diam-diam oleh keluarga Sogol selama 14 hari Sogol pergi ke luar pulau. Suasana di desa Pucangro terasa hening dan sepi ketika anak-anak desa terlelap tidur waktu siang maupun malam hari. Apalagi jika tidak ada Soni salah satu anak desa Pucangro yang sangat lugu. Soni menjadi bahan penimbul tawa di desa itu. Sampai-sampai tidak sedikit pun waktu tersisa baginya untuk menahan godaan teman-teman sepermainannya.

“Long… kemari!, belikan aku roti”
“oh…ya, mana uangnya?”
“ini”

Sambil mengambil uang yang dilemparkan Doni kepadanya. Soni bergumam dalam hati. Soni berharap agar teman-temannya ramah dengannya setelah dia menuruti kemauan mereka. Maklumlah, memang karena Soni tidak pernah sedikitpun mengenyam pendidikan formal sehingga jarang dia mempunyai teman, begitu juga beberapa pelajaran tentang kehidupan. Orang-orang desa setempat sering memanggilnya dengan sebutan Bolong, Julukan itu diberikan sebab Soni sangat sering mEmakai pakaian yang serba compang-camping dan banyak lobang di sekitarnya.

Langkah terus mengikuti kompas batin yang terus menunjukkan perjalanan Bolong. Senja di awan sudah mulai menunjukkan mukanya. Tanpa sengaja Bolong melihat beberapa orang berkumpul mendaftarkan diri untuk mengiuti sayembara,
“Pak-pak saya Soni ingin mendaftar” Bolong pun mendekat sambil berteriak meskipun orang-orang dengan wajah kesal meremehkan Bolong yang lugu itu.

“ya… silahkan” keluarga sogol mempersilahkan bagi siapa saja yang ingin ikut sayembara.

Tiga hari telah berlalu setelah sogol datang dari luar pulau tidak satu pun orang yang bisa menyelesaikan sayembara itu. di tengah perjalanan dua orang bertabrakan dan saling terpental.

“Hei dasar bocah gendeng”
Bolong mendapatkan semprotan kata dari seorang kakek tua yang rapi dengan pakaian Jawanya.

“Sudah kakek-kakek kok suka marah”
“dasar bocah edan anak siapa kamu? Tidak sopan dengan orang tua”
“kakek kok tidak menasehati saya, mengajari toh, atau bertanya keadaan saya kok malah saya dimarahi. Siapa yang edan kek?”

Selama Bolong tidak melakukan kesalahan Bolong sangat berani walau dengan seorang kakek tua sekalipun. Duri berton-ton seakan jatuh menimpa kepala Bolong saat itu. Sedikit toleransi Mbah so menyapa Bolong
“Nama kamu siapa le…?”
”Sony mbah” jawab Soni agak sombong.

Keduanya kemudian berkenalan saling berjabat tangan untuk menyepakati damai. Melihat sikap mbah So yang rama Soni pun membalas dengan keramahan. Sifat seorang anak lugu desa Pucangro yang belum ada duanya. Keesokan harinya ditengah perjalanan menuju sawah mbah So bertemu dengan Soni kembali.

“Lo… Mbah Sogol?”
”Iyo le…” menjabat tangan mbah So, sambil tersenyum Soni merasa suasana nampak membaik. Jauh berbeda dari suasana kemarin ketika mereka saling bertabrakan meskipun tidak sedikitpun senyum keluar dari raut Sogol.

“Mbah saya akan melihat orang bermain musik mbah nanti malam!”
”Musik le…!”

Sahut mbah So dengan nada tinggi bersentak.
“Aku dulu juga suka lihat le… ketika masih muda dulu, malah mbah suka mbeso”
“mbeso itu apa mbah?”
sebuah pertanyaan yang muncul tanpa ada rasa gemetar dan malu sepontan keluar dari mulut Bolong. Memang kebiasaan orang-orang tua di kabupaten Lamongan gemar terhadap wayang dan gendhing-gendhing Jawa.

“besok kalau sudah besar mbah beri tahu”
di bawah pohon yang rindang samping pos kampling RT 5 sedikit demi sedikit mbah Sogol kemudian menceritakan kepada Bolong tentang masa mudanya dulu, kehidupan sederhana dan kenangan-kenangan dengan berbagai jerih payah kehidupannya termasuk masa ketika bagaimana anak muda jaman dulu mencari hiburan.

“Memang apa nama pertunjukan yang akan kamu lihat le…?” mbah so mendesak penasaran kepada Bolong ingin tahu nama pertunjukan yang akan dilihat karena sudah lama mbah So tidak mbeso untuk sesekali mengenang masa lalunya, apalagi melihat kehidupannya yang sudah sangat mapan dengan uang milyaran usaha ternak sapi selain profesinya sebagai tukang pemimpin ritual slametan.

“Ada sindennya le?”
“apa lagi sinden itu mbah?”
“ ya yang nyanyi itu lo le…”
“Oh…ada mbah!”.

Matahari memerah seakan mau pecah dan waktu sudah menjelang malam. Mbah So segera bergegas mengemasi semua persiapan untuk menghadiri pertunjukan yang diceritakan oleh Bolong. Mbah So menyetujui ajakan Bolong dan sangat bersemangat untuk pergi menuju pentas tersebut, meski jarak dari tempat tinggal mereka ke tempat pertunjukan lumayan jauh. Setidaknya perjaanan itu bisa membuat kaki kesemutan berhari-hari apalagi untuk kakek tua seumuran mbah So.

Kedua kaki di selonjorkan kemudian mbah So membuka tutup botol dan dituangkannya minyak tanah ke kedua kakinya sambil kedua tangan meratakan ke seluruh bagian. Perjalanan yang panjang membutuhkan persiapan prima menurut mbah So. Setepak demi setapak keduanya mulai merambat. Kemudian,
“Apakah itu tempat yang kamu maksud Son?”
Di depan terlihat bayak orang.
“Ching!”

Tanpa tersadar, memang kebiasaan bolong yang selalu sepontan tanpa control. Suatu benda terlihat menempel di kerah baju Bolong setelah Bolong bersin. Melihat kejadian itu pikiran mbah So seolah kurang ramah dan kesal dengan Bolong, ditambah lagi ketika jarak sekitar 100 m dari tempat mereka berdua sampai ke tempat pertunjukan terlihat ratusan orang berdiri, di antaranya bergoyang-goyang seakan girang hilang kesadaran layaknya seperti melihat terminal orang-orang setres.

“kenapa mbah?”
“apa-apaan itu? memangnya mbah sudah gak waras melihat pertunjukan ngawur itu”
ribuan pertannyaan timbul dalam hati Bolong melihat Mbah yang berjalan dengan hati tenang dari rumah hingga tujuan. Tetapi, tiba-tiba wajahnya mengusut sembari mengeluarkan pandangan sinis kepada Bolong.

“Embah ayo ke depan Mbah”
berkata Bolong menghibur Mbah So yang berwajah penuh dengan pertanyaan.
Gunung-gunung mulai menumpahkan lahar, langit berubah mendung, ombak dan lahar meneriakkan kemarahan ketika kedua mata mbah So melihat hanya tampak pertunjukan Orkes Amatiran di depannya saat itu.

Dengan ketekatan bulat saat itu Bolong terus menggelandang tangan dan sarung yang mengalung di leher Embah. Setapak dua tapak sampai sekitar 100 meter lagi sebelah Orkes amatiran berbelakangan dari tempat orang-orang asik berjoged, ternyata tampak sebuah pagelaran wayang kulit lengkap dengan peralatannya dan jajaran sinden yang bermacam-macam. Dari sinden asli pengiring berjalannya permainan wayang sampai sinden sewaan dari pemain orkes. Setelah itu wajah mbah So berubah dengan kesempurnaannya.

“weleh-weleh…”
sambil mengibas-ibaskan sarung dan menggerakkan kedua tangan serta kedua kaki menginjak-injak tanah mbah So merasa kegirangan merasakan kedatangan masa muda yang telah mengucilkannya kurang lebih 40 tahun lamanya. Tapi, tepat di samping Mbah So
” KRAK”

Bolong tiba-tiba meloncat menghindari Tai kerbau. Karena lapangan tempat pertunjukan wayang kulit itu digelar, hampir setiap harinya menjadi tempat para kambing, sapi dan kerbau bermain.

Kemudian Mbah So tertawa tanpa henti sekitar 10 menit lebih karena melihat celana pendek Bolong sobek setelah tragedi tai kerbau itu. Sungguh kasihan nsaib Bolong.
Sambil mencari tempat duduk Mban So merayu Bolong dan perlahan menceritakan tentang lakon wayang pada pertunjukan itu kepada Bolong.

Bukit-bukit luluh dan pepohonan tampak menunjukkan semi. Dengan penuh penyesalan dan terima kasih, Mbah Sogol sadar dengan perilaku angkuhnya pada setiap orang, apalagi untuk menyapa orang-orang di sekitarnya Sogol tidak menutup diri lagi. Masyarakat Pucangro pun kemudian sangat ramah kepada Susogol melebihi hari-hari sebelumnya.

Sungguh masyarakat dan keluarga Sogol tidak menduga kalau seorang Bolong, bocah kecil desa yang lugu itu bisa mencengangkan semua penduduk dan dunia. Senyum Mbah So yang terkenal sangat mahal kemunculannya. Ditambah lagi sikapnya yang bodoh dan lugu itu berhasil menaklukkan kekerasan hati Sogol dan akhirnya dia mendapatkan uang milyaran. Sejak saat itu Bolong diangkat oleh Sogol sebagai Mitra pembantu dalam setiap jadwal selametan.
_____________
HL Renjis Magalah, bernama asli Heri Listianto lahir 9 November 1989 di Surabaya, pendidikan: MI Islam Pucangro, MTs “Putra-Putri” Simo, MA Negeri Lamongan, kuliah di Unitomo Surabaya. Karya-karyanya pernah termuat di AKAR, Tabloit Telunjuk, Radar Bojonegoro, dst. Kumpulan puisi bersamanya: Mozaik Pinggir Jalan, Absurditas Rindu, Khianat Waktu (antologi penyair Jawa Timur), Jual Beli Bibir, Enjelai. Antologi Puisi tunggalnya Embun Pesisir Laut Utara. Anggota Forum Sastra Lamongan [FSL], Komunitas Mahasiswa Bahasa Unitomo [Komba Unitomo], dan Coretan Pena.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Hana N.S A. Iwan Kapit A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aa Sudirman Abd. Basid Abdul Aziz Rasjid Abdul Ghofar Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Muid Badrun Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdullah Ubaid Matraji Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abonk El ka’bah Acep Zamzam Noor Ach. Nurcholis Majid Achmad Farid Tuasikal Achmad Maulani Adi Faridh Adi Marsiela Adi Sucipto Adian Husaini Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrian Ramdani AF. Tuasikal Afnan Malay Afrizal Malna AG Hadzarmawit Netti AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Majestika Aguk Irawan M.N. Agung Prihantoro Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Bing Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R Sarjono Agus S Warman Agus Sri Danardana Agus Sulton Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Rafiq Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Syafii Maarif Ahmad Taufik Ahmad Thohari Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Al-Fairish Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Ali Irwanto Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Alvi Puspita Amang Mawardi Ambarukminingsih Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Hamzah Amirullah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andhi Setyo Wibowo Andik Nurcahyo AndongBuku #3 Andry Deblenk Anindita S. Thayf Aning Ayu Kusuma Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anwari WMK Aprillia Ika Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Arif Firmansyah Arifun Najib Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arys Hilman Asarpin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asri Bariqah Awalludin GD Mualif Azumardi Azra Azyumardi Azra Baca Puisi Badaruddin Amir Balada Bambang kempling Bambang Satriya Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benni Indo Benny Benke Benny D Koestanto Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Koran Bernada Rurit Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Palopo Budi Purnomo Buldanul Khuri Bunda Zakyzahra Tuga Bungaran Antonius Simanjuntak Candrakirana Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Che Guevara Coronavirus Cover Buku Kritik Sastra Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi II Cover Depan Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi IV Cover Majalah Progresif SMA Wahid Hasyim Model edisi V D. Zawawi Imron Dadan Maula Darmawan Dadang Ari Murtono Dahlan Kong Damanhuri Zuhri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Dedykalee Deni Ali Setiono Deni Jazuli Denny Ardiansyah Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan Dewi Indah Sari Dhanu Priyo Prabowo di Bluri di Karangasem Dian Sukarno Diana AV Sasa Diana Ifrina Ernawati Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dini Tri Dinoroy M. Aritonang Dion Maulana Prasetya Diskusi buku Djaka Susila Djenar Maesa Ayu Djesna Winada Djoko Pitono Djoko Saryono Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Budiono Herusatoto Drs H Choirul Anam Drum Band MI Miftahul Ulum (Kuluran) Dudi Rustandi Dunia Penerbitan Indonesia Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Nikmatika Roma Dwi Pranoto Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddy D. Iskandar Edeng Syamsul Ma’arif Edi Faisol Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elly Burhaini Faizal Elly Trisnawati Ellyn Novellin Emerson Yuntho Emha Ainun Nadjib Emil WE Endang Supriyadi Endi Haryono Endri Y Erdogan Esai Esha Tegar Putra Esme Fadliha Etik Widya Evan Ys Evieta Fadjar F Rahardi Fadjriah Nurdiarsih Fahmi Fahrudin Nasrulloh Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faris Al Faisal Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Felix K. Nesi Festival Mocosik Festival Seni Internasional 2010 Yogyakarta Festival Seni Internasional 2014 Yogyakarta Festival Teater Religi Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan festivalsenisurabaya.com Fikri. MS Firdawsi Fortus Pake Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Foto Franditya Utomo Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Magnis-Suseno Friski Riana Fuad Hasan Nasihin Fuji Pratiwi Furqon Lapoa Galuh Tulus Utama Ganug Nugroho Adi Gde Artawa Gede Mugi Raharja Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gedung Sangbala Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gito Waluyo Goenawan Mohamad Golput Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin Gus Dur H Ikhsan Effendi H. Usep Romli H.M H.B. Jassin H.O.S Cokroaminoto Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Hadi Napster Hadziq Jauhary Halim H.D. Halimatussa’diyah Hamberan Syahbana Hamluddin Hana Pertiwi Hanif Nashrullah Hardono Haris del Hakim Haris Firdaus Haris Priyatna Haris Saputra Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Basri Hasan Junus Hasanuddin WS Hasnan Bachtiar Helmi Y Haska Helmy Tasaufy Hera Khaerani Herdiyan Heri C Santoso Heri Latief Herman Herman Hasyim Herman RN Herry Lamongan Herry Mardianto Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Homaedi I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I Wayan Seriyoga Parta IBM. Dharma Palguna Ibnu PS Megananda Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Mustofa Imam Nawawi Imam Qodim Al-Haromain Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Imelda Imron Arlado Imron Rosidi Imron Rosyid Imron Tohari Indrian Koto Ingki Rinaldi Ipik Tanoyo Ire Irvan Sihombing Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismet NM Haris Ismi Wahid Isnanur Janah Iswadi Pratama Isyana Artharini Iwan Nurdaya-Djafar Iwank Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Janual Aidi Javed Paul Syatha Jazzi Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jembatan Kuno Yang Misterius Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Batara Surya Jodhi Yudono Jogjanews.com John Joseph Sinjal Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Jual Buku Paket Hemat Juara Ke 3 Lomba Lompat Jauh DISPORA LAMONGAN Jumartono Jurnalisme Sastra Jusuf A.N K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.Y. Karnanta Kadjie Mudzakir Kaheesa Kirania Putri Ayu Kang Daniel Kapal Nabi Nuh Karanggeneng Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kautsar Muhammad Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Kemah Budaya Panturan (KBP) KH Abdul Ghofur KH Bisri Syansuri KH. Abdul Aziz Masyhuri KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khoirul Abidin Khoirul Inayah Ki Ompong Sudarsono Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kika Dhersy Putri Kitab Arbain Nawawi KITLV Koh Young Hun Koko Sudarsono Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopi Sunan Drajat Kopuisi Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Krisman Kaban Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kulonprogo Kurnia Effendi Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kurniawan Muhammad Kuswinarto L Ridwan Muljosudarmo Laboratorium Sinematografi dan Pertunjukan UNISDA Lamongan Lagu Lailiyatis Sa'adah Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Leo Tolstoy Lina Kelana Linda Sarmili Literasi Liza Wahyuninto Lugiena De Lukas Adi Prasetyo Lukisan Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lusia Kus Anna Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Lutfi M. Mushthafa M. Romandhon M. Sunyoto M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M’Shoe Made Geria Mahendra Cipta Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahrus eL-Mawa Majelis Ulama Indonesia Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcus Suprihadi Mardi Luhung Mardiansyah Triraharjo Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Maruli Tobing Mashuri Masuki M. Astro Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Wulan Medco Media Lamongan Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Meka Nitrit Kawasari Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka MI Thoriqotul Hidayah Pilang 1 Mia Arista Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Miftahul A’la Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Ghufron Cholid Moh. Jauhar al-Hakimi Moh. Samsul Arifin Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Ali Athwa Mohammad Eri Irawan Mohammad Rafi Azzamy MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Muh Kholid A.S Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Alfatih Suryadilaga Muhammad Amin Muhammad Arif Muhammad Aris Muhammad Eko Nugroho Muhammad Hidayat Muhammad Muhibbuddin Muhammad Musa Muhammad N. Hassan Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M. Dahlan Mukafi Niam Mukhsin Amar Mulyani Hasan Mulyo Sunyoto Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Munawir Aziz Muntamah Cendani Musfarayani Musfi Efrizal N. Syamsuddin CH. Haesy Nadine Tri Duhita Naim Nanang Suryadi Naqib Najah Naskah Teater Nasrullah Nara Nazaruddin Azhar Neli Triana Ngatini Rasdi Nh. Anfalah Ni Luh Made Pertiwi F Ni Made Frischa Aswarini Ninuk Mardiana Pambudy Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noval Jubbek Noval Maliki Novel Novel Pekik Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Hayati Nur Kholiq Nur Kholis Huda Nurani Soliha Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi Obrolan Ochi Oil on Canvas Oky Sanjaya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Paciran Pameran Seni Rupa Pangkah Kulon Ujungpangkah Gresik Panji Satrio Patung Sphinx PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan 2020 Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit Progresif Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Peringatan Hari Santri TPQ Al-Hidayah 22 Oktober 2017 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren Sunan Drajat Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Pilang Tejoasri Lamongan Jawa Timur Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prosa Proses Kreatif Puisi Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka GU Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. N. Bayu Aji R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rafita Dewi Rahmah Maulidia Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rameli Agam Rana Akbari Raras Cahyafitri Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Revdi Iwan Syahputra Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Ridlwan Ridwan Munawwar Riki Utomi Rinny Srihartiny Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Robert Adhi Kusumaputra Robin Al Kautsar Roby Karokaro Rodli TL Rof Maulana Rofiqi Hasan Rojiful Mamduh Rokhim Sarkadek Rosdiansyah Rosi Rosidi Rudi S. Kalianda Rukardi Rumah Budaya Pantura Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rx King Motor S Jai S Yoga S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabrank Suparno Sabrina Asril Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salim Alatas Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sanggar Rumah Ilalang Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saratri Wilonoyudho Sari Oktafiana Sasti Gotama Sastra Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sejarah SelaSastra SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang Selvie Monica S Sendang Duwur Tahun 1920 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Shohebul Umam JR Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sifa Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simon Saragih Sirikit Syah Siti Muti’ah Setiawati Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Slavoj Zizek Soelistijono Soetanto Soepiadhy Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Sohirin Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Mulyani Sri Wintala Achmad ST Indrajaya Stanley Adi Prasetyo Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sudirman Hasan Sugeng Ariyadi Sugeng Wiyadi Sugiarto Sugito Wira Yuda Suhartono Sujatmiko Sukardi Rinakit Sukitman Sumenep Sunarno Wibowo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susie Evidia Y Sutamat Arybowo Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Suyatmin Widodo Svet Zakharov Syaf Anton Wr Syaiful Bahri Syaiful Irba Tanpaka Syaiful Mustaqim Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syi'ir Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tanjung Kodok Tahun 1947 Tasman Banto Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Ganast MAN Lamongan Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Sakalintang Teater Sangbala Teater Sundra Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tewol Teater Tewol Lamongan Teguh LR Teguh Winarsho AS Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thamrin Dahlan Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute (IHI) Thohir Thompson Hs Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto To Take Delight Toni Munajat Tosa Poetra Tri Andhi S Tri Wahono Trisno S. Sutanto Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Unieq Awien Universitas Airlangga Surabaya Universitas Jember Untung Basuki Ustadz Charis Bangun Samudra Utami Diah Kusumawati Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W. Haryanto W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Wahyu Aji Wahyudi Zuhro Wan Anwar Warjati Suharyono Wawan Eko Yulianto Wawan Hudiyanto Wawancara Wayan Sunarta Welly Suryandoko Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yanuar Jatnika Yanuar Yachya Yaumu Roikha Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yerusalem Ibu Kota Palestina Yesi Devisa YF La Kahija Yogyo Susaptoyono Yohanes Sehandi Yok’s Slice Priyo Yoks Kalachakra Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudi Latief Yuli Yuni Ikawati Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zahrotun Nafila Zaim Uchrowi Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimras Zen Hae Zuhdi Swt